BAB 7 : Pelarian ke Ujung Jawa

1043 Words
Saksi pernikahan. Prem tertawa getir. Sakura benar-benar tidak tahu cara membunuhnya dengan cepat; dia memilih untuk menyiksanya perlahan-lahan. Memintanya berdiri di sana, hanya berjarak beberapa meter dari altar, untuk menyaksikan Sakura bersumpah seumur hidup dengan pria lain. "Mas Prem, ada telepon dari daratan di kantor dermaga! Katanya mendesak!" teriak salah satu pekerja. Prem bangkit dengan malas. Ia berjalan menuju kantor kecil yang memiliki telepon satelit. Ia mengira itu dari kantor pusatnya. "Halo, Prem di sini." "Prem..." Suara di seberang sana bukan dari kantor. Suara itu bergetar, penuh isak tangis yang tertahan. Suara Sakura. "Sakura? Ada apa?" Jantung Prem mendadak berdegup kencang. Naluri pelindungnya yang selama ini ia coba matikan, bangkit seketika. "Sino, Prem... Sino kecelakaan. Di jalanan tanjakan Gombel tadi sore. Motornya... dia kritis, Prem. Aku nggak tahu harus ke mana... aku sendirian di Rumah Sakit Elisabeth..." Dunia Prem serasa berputar. Gombel. Tempat yang sama di mana ia membuang cincinnya. Tempat yang sama di mana ia menyangkali perasaannya. "Tunggu di situ, Sa," kata Prem, suaranya kembali menjadi Prem yang sigap dan bisa diandalkan. "Aku pulang. Aku pulang sekarang juga." Prem menutup telepon. Ia tidak peduli lagi pada proyek. Ia tidak peduli lagi pada rasa sakit hatinya. Saat ini, Sakura hancur, dan bagi Prem, tidak ada pekerjaan atau pelarian yang lebih penting daripada mengumpulkan kembali kepingan hati Sakura—bahkan jika itu berarti ia harus menyelamatkan pria yang telah mengambil dunianya. Malam itu juga, Prem menyewa speed boat nelayan untuk menyeberang ke Jepara di tengah cuaca yang mulai buruk. Di tengah hantaman gelombang laut Jawa yang gelap, Prem hanya punya satu pikiran: Semesta, tolong jangan ambil kebahagiaan Sakura. Meskipun kebahagiaannya bukan aku. Lampu neon lorong Rumah Sakit Elisabeth yang berwarna putih pucat terasa begitu dingin dan menusuk. Bau disinfektan yang tajam seolah menyerap seluruh energi di udara. Di sebuah deretan kursi tunggu yang keras, Prem menemukan Sakura. Gadis itu tampak hancur. Kebaya yang ia kenakan saat pameran tempo hari—yang mungkin masih ia pakai karena tak sempat berganti—kini terlihat kusut. Wajahnya sembab, matanya merah, dan tangannya gemetar hebat saat menggenggam segelas air mineral yang sudah tinggal separuh. "Sakura..." suara Prem serak. Ia masih mengenakan baju lapangan yang kotor oleh debu pelabuhan dan sisa garam laut. Sakura mendongak. Begitu melihat wajah Prem, pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia menghambur ke pelukan Prem, menangis tersedu-sedu hingga bahunya berguncang hebat. Prem tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri kokoh, membiarkan dadanya menjadi tempat tumpahan segala ketakutan Sakura. "Dia... dia cuma mau beli bahan cat buat hadiah kejutan aku, Prem," isak Sakura di balik d**a Prem. "Di tanjakan Gombel... ada truk rem blong. Sino nggak sempat menghindar." Prem memejamkan mata. Bayangan tanjakan Gombel yang curam dan gelap melintas di kepalanya. Tempat yang ia anggap kutukan bagi perasaannya, kini benar-benar menjadi tempat tragedi bagi Sakura. "Dokter bilang apa?" tanya Prem lembut setelah Sakura sedikit lebih tenang. "Pendarahan internal. Dia lagi di dalam... operasi darurat. Udah tiga jam, Prem. Aku takut banget." Prem menuntun Sakura untuk duduk kembali. Ia berlutut di depan gadis itu, memegang kedua tangannya yang dingin. "Sino itu pejuang, Sa. Kamu lihat gimana dia kerja buat pamerannya, kan? Dia nggak akan nyerah gitu aja. Kamu harus kuat buat dia." Selama sisa malam itu, Prem tidak beranjak. Ia menjadi pilar bagi Sakura. Ia membelikan makanan yang tidak disentuh Sakura, mengurus administrasi yang membuat Sakura bingung, dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan polisi soal kronologi kecelakaan. Di tengah kesibukan itu, sebuah pikiran gelap sempat melintas di benak Prem—sebuah bisikan jahat yang ia benci: Jika Sino tidak selamat, apakah Sakura akan kembali padamu? Prem segera menggelengkan kepala, mengusir pikiran itu jauh-jauh. Melihat penderitaan di wajah Sakura saat ini adalah siksaan yang lebih berat daripada melihatnya menikah dengan orang lain. Prem menyadari satu hal yang paling murni: Mencintai Sakura berarti menginginkan apa pun yang membuat bibirnya tersenyum, bahkan jika alasan senyum itu adalah pria lain. Pukul empat pagi, lampu ruang operasi padam. Seorang dokter dengan gurat kelelahan keluar sambil melepas maskernya. Sakura dan Prem serentak berdiri. "Keluarga pasien?" "Saya tunangannya, Dok," jawab Sakura cepat. Dokter itu menghela napas, sebuah senyum tipis muncul. "Operasinya berhasil. Masa kritisnya belum sepenuhnya lewat, tapi kondisinya mulai stabil. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU untuk observasi ketat." Sakura jatuh terduduk di lantai, menangis lega sambil mengucap syukur berkali-kali. Prem merasakan beban berat terangkat dari pundaknya. Ia menatap langit-langit rumah sakit, berbisik dalam hati: Terima kasih sudah membiarkannya tetap di sini. Dua hari kemudian, Sino sadar. Meskipun tubuhnya dibalut perban dan dipenuhi kabel medis, matanya yang tajam itu masih menyisakan sisa-sisa karisma. Ia belum bisa banyak bicara karena masker oksigen, tapi saat melihat Prem berdiri di ambang pintu kamar ICU sementara Sakura sedang tertidur di sofa tunggu, Sino memberi isyarat kecil dengan jarinya. Prem mendekat. Ia berdiri di sisi ranjang. Sino melepas masker oksigennya perlahan dengan tangan yang gemetar. Suaranya sangat lemah, nyaris seperti bisikan angin. "Lo... dateng dari Karimun..." kata Sino, diikuti batuk kecil. "Sakura butuh seseorang, Sin," jawab Prem datar. Sino tersenyum getir di balik selang-selang itu. "Gue liat dia... pas gue antara sadar dan nggak. Dia manggil nama lo... sama banyaknya dengan dia manggil nama gue." Prem terdiam. "Prem..." Sino menatap Prem dalam-dalam. "Gue hampir mati kemarin. Dan hal pertama yang gue pikirin bukan soal lukisan gue... tapi soal siapa yang bakal jagain Sakura kalau gue nggak ada." "Kamu bakal sembuh, Sin. Jangan ngomong macem-macem." "Gue bakal sembuh. Tapi gue sadar satu hal," Sino menjeda, mengambil napas berat. "Garis yang lo buat di antara lo sama dia... itu garis yang paling kuat yang pernah gue liat. Gue bisa jadi masa depannya, tapi lo adalah fondasinya. Jangan pernah pergi lagi, Prem. Dia hancur pas lo nggak ada." Prem mengangguk pelan. "Aku nggak akan ke mana-mana." Tepat saat itu, Sakura terbangun dan masuk ke dalam ruangan. Ia langsung menuju sisi Sino, mencium kening pria itu dengan penuh kasih. Prem mundur perlahan, memberi mereka ruang. Di ambang pintu, Prem melihat pemandangan itu. Ia melihat ketulusan Sakura, ia melihat perjuangan Sino. Dan untuk pertama kalinya, rasa cemburu di dadanya tidak lagi membara. Rasa itu telah berganti menjadi sebuah penerimaan yang tenang. Ia tahu posisinya sekarang. Ia bukan pemenang, tapi ia juga bukan pecundang. Ia adalah sang Penjaga Garis. Seseorang yang akan selalu ada untuk memastikan dunia Sakura tetap utuh, meskipun ia harus berdiri di luar batas yang tak terlihat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD