Tiga bulan kemudian....
Langit Semarang di atas bukit Gombel sore itu berwarna oranye kemerahan, seperti sapuan cat minyak di atas kanvas raksasa.
Angin bertiup lembut, membawa aroma melati yang dipasang di sepanjang koridor sebuah hotel alam indah dengan pemandangan kota di bawahnya.
Hari ini bukan tentang pameran seni, bukan pula tentang proyek resor. Hari ini adalah tentang janji.
Prem berdiri di depan cermin besar di ruang ganti. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dipesan khusus. Rambutnya, yang biasanya acak-acakan karena debu proyek, kini tertata rapi. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan posisi dasinya yang terasa sedikit mencekik—atau mungkin, dadanya sendiri yang sedang menahan sesak yang familiar.
Pintu terbuka.
Sakura masuk dengan gaun pengantin berwarna putih tulang yang menjuntai indah. Tidak ada lagi jaket jeans biru muda. Tidak ada lagi kemeja kusut. Ia tampak seperti bidadari yang baru saja turun dari lukisan Sino.
" Prem.......," panggilnya lembut.
Prem berbalik. Ia terpaku sejenak.
" Kamu..............cantik banget, Sa."
Sakura tersenyum, tapi matanya terlihat berkaca-kaca. Ia melangkah mendekat dan memperbaiki posisi kerah jas Prem, sebuah kebiasaan kecil yang tidak berubah meski keadaan sudah berbeda.
"Makasih ya,,,, Prem. Buat semuanya. Buat Karimunjawa yang kamu tinggalin, buat malam-malam di rumah sakit, dan buat... tetap ada di sini."
Prem memegang tangan Sakura yang masih berada di kerahnya.
"Aku kan udah janji, Sa. Aku bakal selalu jadi pendukung nomor satumu. Di mana pun kamu berada, aku adalah rumah yang pintunya selalu terbuka kalau kamu butuh tempat cerita."
Sakura memeluk Prem erat—pelukan perpisahan bagi masa lalu mereka, sekaligus pelukan sambutan bagi masa depan baru mereka.
"Kamu lebih dari sahabat, Prem. Kamu adalah separuh dari nyawaku."
Upacara pernikahan berlangsung khidmat. Sino, yang berjalan dengan bantuan tongkat namun tetap terlihat gagah, mengucapkan janji sucinya dengan suara mantap. Saat tiba waktunya tukar cincin, Sakura menoleh ke arah Prem yang berdiri di sampingnya sebagai saksi.
Prem menyerahkan kotak cincin itu dengan tangan yang stabil. Tidak ada gemetar. Tidak ada keraguan. Saat mata Prem bertemu dengan mata Sino, ada sebuah pengertian tanpa kata yang terjalin. Sino tahu beban yang dipikul Prem, dan Prem tahu bahwa Sino akan menjaga amanah itu dengan nyawanya.
"Sah!"
Sorak sorai pecah. Kelopak bunga mawar dilemparkan ke udara. Prem bertepuk tangan paling keras. Ia melihat Sakura mencium suaminya dengan latar belakang matahari terbenam kota Semarang yang mereka cintai.
Malam harinya, setelah acara usai, Prem duduk sendirian di balkon hotel yang menghadap langsung ke arah lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Ia memegang segelas kopi pahit.
Ia teringat kembali pada cincin perak yang ia lempar ke semak-semak bukit ini beberapa bulan lalu. Mungkin cincin itu sekarang sudah tertutup tanah, atau mungkin sudah diambil oleh orang lain. Tapi itu tidak penting lagi.
Sakura menghampirinya, membawa sepotong kue pengantin.
"Hei, malah melamun di sini."
"Cuma lagi menikmati pemandangan, Sa. Semarang dari sini kelihatan beda ya?"
Sakura bersandar di pagar balkon di samping Prem.
"Iya. Lebih tenang."
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan yang nyaman.
" Prem...," kata Sakura tiba-tiba.
"Sino bilang, setelah dia sembuh total, dia mau kita buka galeri bareng di dekat Kota Lama. Dia mau kamu yang jadi arsiteknya. Dia nggak mau orang lain."
Prem tersenyum tulus.
"Tentu... Aku bakal bikin desain yang paling gila buat kalian."
Sakura tertawa, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Prem untuk terakhir kalinya sebelum ia kembali ke dalam untuk menemui suaminya. "Makasih, Prem. Sahabat terbaikku selamanya."
"Selamanya, Sa."
Sakura berjalan menjauh, masuk kembali ke dalam keriuhan pesta yang terang benderang. Prem tetap di sana, di dalam kegelapan balkon, menatap garis cakrawala yang memisahkan langit dan bumi.
Voiceover Penutup (Prem):
"Orang bilang, cinta dalam diam adalah bentuk cinta yang paling tulus, karena di dalamnya tidak ada penolakan. Mungkin mereka benar
Ada garis yang tak terlihat di antara kami. Garis yang menjaga kami tetap aman, meski garis itu juga yang memenjarakan hatiku. Dulu aku membencinya. Aku menganggapnya sebagai penghalang. Namun sekarang aku sadar... garis itulah yang membuatku tetap bisa mencintainya tanpa takut kehilangan dia. Tak apa jika aku harus menjadi penjaga garis itu selamanya. Karena melihat dia bahagia adalah bentuk seni yang paling indah yang pernah aku bangun.
Aku adalah Semarang baginya. Tempat yang akan selalu ada, tidak peduli seberapa jauh dia pergi"
Prem menyesap kopi pahitnya untuk terakhir kali malam itu,,
Prem tersenyum. Kali ini, tidak ada rasa sesak yang menghimpit.
Ia menatap garis-garis cahaya kendaraan di depannya. Ia menyadari bahwa hidupnya memang didesain untuk menjadi sebuah struktur—sebuah fondasi yang kuat bagi gedung bernama kebahagiaan Sakura. Ia adalah garis horisontal yang tenang, sementara Sakura adalah garis vertikal yang menjulang tinggi mencari langit. Mereka bersinggungan, menciptakan sebuah sudut yang kokoh, meskipun mereka tidak akan pernah menjadi satu garis yang sama.
Cintanya tidak mati; ia hanya bertransformasi menjadi bentuk paling murni yang pernah ada: Keikhlasan.lalu melangkah masuk menuju cahaya, menyusul sahabatnya dengan hati yang akhirnya merasa damai.
Keesokan harinya....
Sakura dan Sino akan berbulan madu di yogyakarta , prem mengantarkan sahabat dan suaminya ke Stasiun Tawang
Aroma khas stasiun kereta api—campuran uap besi, pelumas, dan debu yang terbakar matahari—selalu terasa melankolis bagi Prem.
Pagi itu, Stasiun Tawang berdiri dengan keanggunan klasiknya. Cahaya matahari masuk menembus celah-celah jendela tinggi, menciptakan garis-garis debu yang menari di udara.
Lantai stasiun yang dingin beradu dengan derap langkah ribuan orang yang tergesa, namun bagi Prem, waktu seolah bergerak selambat siput. Di hadapannya, Sakura berdiri dengan koper kecil berwarna tosca bersama Sino .
Sakura merapikan tas selempangnya. Di sana, gantungan kunci "Best Friends Forever" yang sudah kusam itu masih setia menggantung. Benda itu tampak kontras dengan cincin berlian pernikahan di jari manisnya, namun Prem merasa lega melihatnya. Itu adalah bukti bahwa meski statusnya berubah, sejarah mereka tetap berhak mendapatkan tempat.
"Jagain Semarang ya, Prem," Sakura melangkah maju, memeluk Prem dengan erat.
"Jangan kebanyakan minum kopi pahit, nanti kamu makin jutek dan kaku kayak beton bangunanmu sendiri."
Prem menghirup aroma rambut Sakura untuk terakhir kalinya sebelum jarak memisahkan mereka. Ia menepuk puncak kepala Sakura dengan lembut, sebuah gerakan yang dulu sangat sering ia lakukan saat mereka masih satu pekerjaan di pabrik semarang bawah.
"Bawain aku oleh-oleh bakpia rasa keju yang biasanya itu. Hati-hati di sana," gurau Prem.
Sakura melepaskan pelukan, matanya sedikit berkaca-kaca namun senyumnya lebar.
Lalu Sino pun melangkah maju untuk berpamitan dengan Prem " Sakura gue bawa ya , bro...." Ucap Sino dengan menjabat tangan Prem layaknya saudara kandung sendiri.
" Sakura udah milik lo ngapain izin gue,emang gue bapaknya " jawab Prem dengan gurauan.
Suasana pun sudah tak seperti awal mereka jumpa sekarang lebih seperti Keluarga
Sakura dan Sino berbalik, melambaikan tangan dengan semangat sambil berjalan menuju gerbang keberangkatan. Prem berdiri mematung di tengah keramaian. Ia memperhatikan punggung itu hingga benar-benar menghilang di balik pintu kaca.
Saat itu, Prem merasakan sebuah tarikan aneh di dadanya. Seolah ada benang tak terlihat yang ditarik paksa dari jantungnya, mengikuti jejak kereta yang akan membawa Sakura pergi. Ia tetap di sana, bahkan setelah pengumuman keberangkatan kereta Joglosemarkerto bergema di seluruh stasiun.
Ia berdiri sendiri di tengah lautan manusia yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Di kota ini, Sakura adalah poros dunianya. Dan kini, poros itu sedang bergerak menjauh.
Semarang di malam hari adalah sebuah simfoni cahaya. Di trotoar Simpang Lima, Prem berjalan perlahan dengan tangan di saku jaketnya. Di sekelilingnya, lampu-lampu neon dari gedung-gedung tinggi dan lampu belakang kendaraan yang melaju menciptakan light trails—garis-garis cahaya yang memanjang seperti aliran listrik yang tak pernah putus.
Visual itu mengingatkan Prem pada coretan abstrak Sino. Garis-garis yang berantakan namun membentuk harmoni.
Ia teringat malam-malam yang mereka habiskan di sini. Tempat ini penuh dengan jejak percakapan mereka—tentang mimpi, tentang ketakutan, dan tentang rasa yang tak pernah tersampaikan.
Prem melangkah kembali, menyatu dengan keramaian Semarang. Ia tidak lagi merasa kesepian. Karena di setiap sudut kota ini, di setiap bangunan tua, dan di setiap rintik hujan yang turun di Lawang Sewu, ia akan selalu menemukan Sakura.
TAMAT