Struktur hubungan antara Prem dan Rere kini telah berubah total. Jika dulu Prem adalah pondasi yang menopang kerapuhan Rere, kini Prem sengaja menjadi beban yang meretakkan dinding hati wanita itu. Prem mulai menunjukkan sisi "seenaknya"—sebuah eksperimen dingin untuk melihat sejauh mana Rere sanggup bertahan di bawah tekanan mental yang dulu pernah ia rasakan. Dendam yang selama ini tersimpan di balik senyum palsu Prem kini termanifestasi dalam sikap abai dan kata-kata yang tajam. Pembalikan Takhta Pagi itu di Ungaran, Rere sudah berdiri di depan rumah ibu Prem dengan kotak bekal hangat yang ia masak sendiri di kosnya. Ia menunggu hampir satu jam di bawah udara dingin perbukitan, namun Prem keluar dengan wajah datar dan kunci motor di tangan. "Prem, sarapan dulu ya? Aku masak fuyungh

