Setelah kepulangan Nia dari Jakarta, Prem merasa seolah-olah fondasi rumah tangganya telah kembali kokoh. Ia percaya pada air mata Nia malam itu. Namun, Prem lupa bahwa dalam dunia konstruksi, ada jenis kerusakan yang tidak terlihat dari luar: rayap. Mereka bekerja dalam sunyi, menggerogoti kayu dari dalam hingga hanya menyisakan kulit luar yang tampak utuh.
Sosok itu adalah RIFKY.
Rifky bukanlah cinta pertama yang puitis, melainkan pria yang manipulatif. Ia tahu persis kapan Prem berada di luar kota untuk meninjau proyek di Bali atau Jakarta. Dengan kedok sebagai konsultan investasi seni, Rifky mulai sering mendatangi rumah mereka saat matahari terbenam dan mobil Prem tidak ada di garasi.
Penghianatan itu terjadi di balik pintu tertutup, di ruang tamu yang didesain Prem dengan penuh cinta. Nia, yang awalnya merasa bersalah, perlahan-lahan terjerat kembali dalam pesona Rifky yang agresif. Rifky memberinya kegembiraan yang tidak pernah ia dapatkan dari Prem yang selalu bicara tentang struktur, beton, dan tanggung jawab.
"Prem terlalu sibuk membangun dunia untuk orang lain sampai dia lupa membangun dunia untukmu, Nia," bisik Rifky suatu sore di sofa ruang tengah, sementara aroma parfum maskulinnya mulai m*****i udara rumah itu.
Nia terbuai. Ia mulai menjalani kehidupan ganda. Saat Prem menelepon untuk mengucapkan selamat malam dari lokasi proyek, Nia akan menjawab dengan nada manis, sementara Rifky berada hanya beberapa meter darinya, tersenyum penuh kemenangan.
Namun, ada satu pasang mata yang melihat segalanya. Cinta.
Anak kecil itu memiliki insting yang jauh lebih tajam daripada ayahnya. Cinta membenci Rifky. Ia membenci cara Rifky duduk di kursi kesayangan ayahnya, ia membenci cara Rifky menatap ibunya, dan ia membenci cara ibunya berubah menjadi orang asing saat Rifky datang.
Suatu hari, Rifky mencoba mendekati Cinta dengan membawakannya makanan kesukaannya .
"Ini untuk anak cantik. Kita berteman ya?" tanya Rifky dengan senyum yang dipaksakan.
Cinta tidak menerima makanan itu. Ia hanya menatap Rifky dengan pandangan dingin yang menusuk. "Aku punya Ayah. Dan Ayahku tidak pernah duduk di kursi itu sambil memakai sepatu," jawab Cinta ketus, lalu lari masuk ke kamarnya.
Nia merasa tertampar, namun nafsunya mengalahkan logika keibuannya. "Maafkan Cinta, Rifky. Dia hanya belum terbiasa."
Cinta menyimpan rahasia itu sendirian. Ia ingin bicara pada Prem, namun ia takut. Ia takut jika ia bicara, ayahnya yang penyabar akan sedih. Ia takut jika ia jujur, rumah yang selama ini menjadi tempatnya berlindung akan runtuh.
Setiap kali Prem pulang dari luar kota, Cinta akan memeluk ayahnya dengan sangat erat, lebih erat dari biasanya.
"Ayah, jangan pergi lama-lama lagi ya?" bisik Cinta suatu pagi saat Prem sedang bersiap berangkat ke kantor.
Prem mengusap kepala putrinya, tidak menyadari ada nada permohonan tolong dalam suara itu. "Ayah hanya kerja sebentar, sayang. Kan ada Mama di rumah."
Cinta melirik ke arah ibunya yang sedang menyiapkan sarapan dengan wajah tenang, seolah tidak pernah ada pria lain yang masuk ke rumah itu semalam. Di mata Cinta, ibunya kini tampak seperti gedung indah yang di dalamnya penuh dengan retakan tersembunyi.
Ketegangan itu mulai memuncak ketika Rifky semakin berani. Ia mulai meninggalkan jejak—sebuah puntung rokok di asbak taman belakang, atau aroma parfum yang tertinggal di bantal sofa.
Nia semakin mahir berbohong. Ia menggunakan alasan pertemuan kurator atau urusan galeri untuk menghabiskan waktu bersama Rifky. Prem, yang sedang fokus membangun panti asuhan sebagai bentuk syukurnya, benar-benar buta. Ia terlalu percaya pada "garis lurus" yang ia yakini telah ia bangun bersama Nia.
Hingga suatu malam, Prem pulang lebih awal tanpa memberi tahu karena penerbangannya dimajukan. Ia melangkah masuk ke halaman rumah dengan hati yang rindu. Namun, ia melihat sebuah sepeda motor sport asing terparkir di balik rimbunnya pohon kamboja di pojok halaman.
Di lantai atas, di balkon yang seharusnya menjadi ruang privatnya bersama Nia, ia melihat dua siluet yang sedang berdiri sangat dekat.
Cinta berdiri di ambang pintu kamarnya, melihat kepulangan ayahnya. Air mata mengalir di pipi kecilnya. Ia menunjuk ke arah balkon dengan tangan gemetar, tanpa suara.
Detik itu, seluruh struktur dunia Prem seolah dihantam gempa berkekuatan dahsyat. Fondasi yang ia jaga dengan nyawa, kini sedang dihancurkan oleh orang yang paling ia percayai.
Dunia Prem berhenti berputar. Langit-langit rumah yang ia desain dengan penuh presisi seolah runtuh menimpa pundaknya saat ia melihat siluet di balkon itu. Ia tidak butuh penjelasan teknis; pengkhianatan memiliki aroma yang lebih menyengat daripada bau semen basah.
Prem melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang berat bergema di lantai marmer, menciptakan irama kematian bagi keharmonisan yang selama ini ia agungkan. Cinta, yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya dengan air mata yang membasahi pipi, hanya bisa menatap punggung ayahnya yang bergetar hebat.
Prem menaiki tangga. Setiap anak tangga terasa seperti beban ribuan ton. Begitu sampai di balkon, ia mendorong pintu kaca geser itu dengan satu sentakan keras.
BRAK!
Nia tersentak kaget, melepaskan pegangan tangannya pada lengan Rifky. Wajahnya yang semula tenang berubah menjadi pucat pasi, seperti warna kapur tembok yang mati. Rifky, yang terkejut, mencoba memperbaiki posisi berdirinya dengan kikuk.
"Prem... kamu... kamu sudah pulang?" suara Nia bergetar, hampir tak terdengar.
Prem tidak menjawab. Matanya yang biasanya tenang kini berkilat penuh amarah yang dingin—jenis amarah yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan. Ia menatap Rifky dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.
"Keluar," desis Prem. Suaranya rendah, namun menggelegar di keheningan malam.
"Dengar, Bung, ini tidak seperti yang kamu lihat—" Rifky mencoba bicara, namun Prem melangkah maju satu langkah.
"Keluar dari rumahku sekarang juga, atau aku akan memastikan kamu keluar lewat pagar tanpa perlu menyentuh tanah," ancam Prem. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rifky, yang sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan pria yang tidak lagi memiliki rasa takut, segera menyambar jaketnya dan melesat turun lewat tangga samping. Suara deru motor sport-nya yang menjauh menjadi penanda berakhirnya drama itu, namun memulai luka yang jauh lebih dalam.
"Prem, dengarkan aku... Rifky itu hanya—"
"Cukup, Nia!" potong Prem. Suaranya pecah, penuh dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Aku membangun rumah ini untuk melindungi kalian. Aku membatasi diriku, aku membuang sahabat lamaku , aku memprioritaskan setiap tarikan napasmu... dan ini yang kamu lakukan saat aku tidak ada?"
Nia mulai terisak. "Aku kesepian, Prem. Kamu terlalu banyak bekerja..."
"Kesepian?" Prem tertawa getir, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Aku bekerja untuk memastikan kita punya kehidupan yang lebih baik, untuk memastikan kamu punya galeri terhebat. Aku tidak pernah meninggalkan hatiku, Nia. Tapi kamu... kamu membiarkan rayap masuk ke dalam struktur yang paling suci."
Prem melihat ke arah pintu kamar Cinta. Anak itu berdiri di sana, menatap mereka dengan mata yang hancur. Prem merasa gagal sebagai seorang ayah. Ia tidak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan Nia. Udara di rumah itu terasa beracun.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Prem berbalik. Ia menyambar kunci mobilnya yang masih tergeletak di meja lobi.
"Prem! Mau ke mana?! Prem, jangan pergi!" teriak Nia sambil mengejar ke halaman.
Prem tidak menoleh. Ia memacu mobilnya keluar dari gerbang dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Nia yang jatuh terduduk di aspal dan Cinta yang hanya bisa menangis di balik jendela.
Prem berkendara tanpa arah. Ia melewati Simpang Lima, terus menuju arah pinggiran kota, menjauh dari hiruk-pikuk Semarang. Ponselnya bergetar berkali-kali di atas dasbor. Nama "Nia" muncul di layar, satu kali, sepuluh kali, hingga puluhan kali.
Prem tidak mengangkatnya. Ia mematikan ponselnya dan melemparkannya ke kursi penumpang. Ia butuh sunyi. Ia butuh menghilang dari dunia yang ia bangun namun ternyata hanya menjadi penjara bagi hatinya sendiri.
Hingga tengah malam, saat ia menepi di sebuah tebing tersembunyi yang menghadap ke arah laut, ia menyalakan kembali ponselnya hanya untuk melihat satu pesan yang masuk:
"Prem, kumohon angkat teleponku. Aku tahu aku salah, aku hancur. Cinta terus menangis memanggilmu. Jangan hukum dia karena kesalahanku. Kamu di mana? Pulanglah, Prem. Mari kita perbaiki ini. Kamu adalah satu-satunya rumah bagi kami. Tolong pulang."
Prem menatap pesan itu lama. Air mata jatuh membasahi layar ponselnya. Namun, kali ini, arsitek di dalam dirinya tahu; beberapa bangunan yang sudah hancur total fondasinya, tidak bisa diperbaiki hanya dengan kata "pulang". Beberapa bangunan memang harus diruntuhkan sepenuhnya untuk bisa membangun kembali sesuatu yang baru.
Prem mematikan ponselnya lagi. Malam itu, ia memutuskan untuk tidak pulang.