BAB 18 Fondasi yang Benar-benar Runtuh

1327 Words

Malam yang dingin itu membawa Prem kembali ke satu-satunya tempat yang tidak pernah menuntutnya menjadi "arsitek sukses" atau "suami sempurna". Dengan pandangan yang masih buram karena amarah dan air mata, ia memacu mobilnya mendaki tanjakan curam menuju Ungaran. Kota Lama Semarang tertinggal di belakang, terkubur bersama puing-puing kepercayaan yang hancur. Ia sampai di depan rumah orang tuanya saat jarum jam menunjuk angka tiga pagi. Suasana sunyi senyap, hanya suara jangkrik dan embun yang menetes dari dedaunan. Prem mematikan mesin mobil dan menyandarkan kepalanya di setir. Ia tidak sanggup masuk. Ia merasa malu membawa kegagalannya pulang ke rumah ini. Namun, pintu jati tua itu berderit terbuka. Ibu Prem, yang memang sering terbangun di sepertiga malam untuk beribadah, berdiri di sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD