Isak tangis Nia di koridor malam itu bukanlah awal dari pertobatan, melainkan benih dari kegelapan yang lebih pekat. Meskipun Prem telah membuktikan betapa rendahnya Rifky di mata dunia, Nia tidak lantas kembali ke pelukan suaminya dengan rasa syukur. Sebaliknya, egonya yang terluka parah menuntut pembalasan. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia dihina sebagai "wanita tua yang mengejar-ngejar cinta." Prem, dengan segala kebesaran hatinya yang hampir tidak masuk akal, memilih untuk menunda kepindahannya ke Ungaran. Melihat Nia yang hancur, Prem justru kembali menjadi "tiang penyangga". Ia melupakan rasa sakit dikhianati, ia mengabaikan luka di hatinya sendiri yang masih menganga lebar, hanya demi memastikan Nia tidak jatuh lebih dalam ke jurang depresi. "Makanlah sedikit, Nia. Kamu h

