Pengorbanan Prem yang membabi buta mulai memakan korban yang paling tidak bersalah: Cinta. Anak yang dulunya ceria dan selalu bangga memiliki ayah seorang arsitek hebat, kini harus menghadapi kenyataan pahit di sekolah. Uang SPP yang menunggak tiga bulan dan seragam yang mulai kusam karena jarang diganti membuat Cinta menjadi sasaran empuk perundungan teman-temannya. Di sekolah internasional tempat ia dulu disanjung, kini ia dijuluki sebagai "Si Miskin dari Kota Lama". "Lihat, sepatunya sudah jebol! Ayahmu arsitek atau tukang bangunan sih?" ejek teman-temannya di kantin. Cinta hanya bisa menunduk, menggenggam erat botol minumnya yang sudah mulai lecet. Ia tidak bisa melawan karena ia tahu kondisi di rumah. Ia melihat ayahnya yang kurus kering, ibunya yang terus mengeluh, dan tumpukan su

