Prem melangkah keluar dari pagar rumah Nia dengan satu tas ransel tua di bahunya. Ia tidak menoleh lagi. Suara tawa Cinta yang sedang mencoba tablet grafis baru dari Adhi terdengar samar dari balik jendela yang tertutup. Suara itu, yang biasanya menjadi musik bagi jiwanya, kini terasa seperti suara palu yang menghancurkan sisa-sisa hatinya. Malam itu, dengan uang yang hanya cukup untuk ongkos bus ekonomi, Prem menempuh perjalanan menuju lereng gunung. Saat bus merayap naik ke arah Ungaran, udara dingin mulai menusuk tulang-tulangnya yang kini hanya berbalut kulit. Ia sampai di depan rumah kayu ibunya saat azan subuh berkumandang. Ibunya, yang sedang menyapu halaman, seketika menjatuhkan sapu lidinya melihat sosok pria kurus kering yang tampak seperti gelandangan di depannya. "Prem? Gust

