Satu tahun adalah waktu yang singkat bagi sebuah bangunan, namun merupakan waktu yang cukup bagi sebuah hati untuk benar-benar menetap. Pagi di Semarang kali ini tidak diawali dengan kegelisahan. Di sebuah rumah tua yang telah direnovasi di daerah Ngaliyan—daerah perbukitan yang udara paginya masih menyisakan sisa-sisa embun—Prem berdiri di dapur yang didominasi unsur kayu dan baja hitam. Ia tidak lagi terburu-buru. Ia tidak lagi mengejar garis tenggat waktu yang mencekik hanya untuk melupakan sepi. Suara gemericik air dari mesin kopi manual mengisi ruangan. Prem menyesap kopi hitamnya. Masih pahit, masih pekat, namun kini ada jejak rasa manis yang samar dari sisa cokelat yang mereka nikmati semalam. "Prem, kamu melihat buku sketsaku? Aku yakin meletakkannya di dekat jendela kemarin," s

