Malam itu, hujan turun deras membasahi kota. Di balik jendela apartemen yang berkabut, Jaslyn berdiri diam menatap bayangan dirinya sendiri. Hatinya tak tenang. Meskipun dukungan publik mulai berpihak padanya, ia tahu badai yang lebih besar sedang mengendap, menunggu waktu untuk menghantam. Suara pintu diketuk memecah kesunyian. Lawrence muncul sambil membawa dua mug cokelat panas. “Kau belum tidur?” Jaslyn menggeleng, lalu mengambil mug dari tangannya. “Aku merasa... sesuatu buruk akan terjadi.” Lawrence menghela napas. “Melissa tak akan berhenti. Tapi aku juga sudah menyiapkan langkah.” “Apa yang kau lakukan?” “Besok, kita akan bertemu dengan seseorang dari masa lalu ibumu. Seseorang yang bisa membuktikan siapa kau sebenarnya dengan lebih dari sekadar dokumen.” Jaslyn menoleh deng

