Ketika Nayla menarik kenop pintu dengan jemari yang masih gemetar, dan seulas senyum bengkok yang dipaksakan masih bertengger di wajahnya, sosok Devan Adhitama berdiri di sana. Ia mengenakan seragam pilot yang sedikit kusut di bagian bahu akibat perjalanan panjang, dan tas punggung yang Nayla kenal baik. Begitu mata mereka bertemu, semua pertahanan porselen yang Nayla bangun dengan susah payah di hadapan Yiven seketika hancur lebur, luruh tak bersisa. Devan bukan sekadar suami di atas kertas; bagi Nayla. Selama tiga tahun ini, Devan adalah temannya, sahabatnya, serta satu-satunya tempat ia berani menyampaikan kegelisahannya yang paling gelap. Kecemasan yang ia tahan sejak semalam, rasa takut yang membeku di paru-parunya, luruh seutuhnya saat ia melihat tatapan mata Devan yang menenang

