Yiven Mahendra berdiri mematung di koridor kardiologi, tepat di depan ruang praktiknya sendiri—sebuah tempat yang seharusnya menjadi singgasananya, namun pagi ini terasa seperti wilayah asing di mana ia adalah seorang penyusup yang tak diinginkan. Jubah putihnya terasa berat, seolah memikul beban ribuan ton rasa bersalah yang ia kumpulkan semalam di pelataran parkir. Langkah kakinya tertahan ketika ia melihat pemandangan di depan meja nurse station. Nayla Jeneva sedang duduk di sana, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita rapuh yang ia temui di IGD. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang kehadirannya seolah menyedot seluruh atensi di koridor itu. Devan Adhitama. Devan menyadari kehadiran Yiven lebih dulu. Dengan ketenangan seorang kapten yang terbiasa menghadapi badai di ketinggian

