Yiven Mahendra bergerak seperti sebuah mesin yang telah diprogram untuk mengabaikan rasa sakit. Ia menenggelamkan diri dalam kerja rodi yang brutal, berpindah dari satu ruang operasi ke ruang operasi lainnya tanpa jeda yang manusiawi. Baginya, aroma tajam antiseptik dan ketegangan yang mencekik di bawah lampu bedah adalah satu-satunya realitas yang sanggup ia terima. Ia berharap rasa lelah fisik yang akut—rasa pegal di punggungnya, matanya yang perih karena kurang tidur, dan adrenalin yang menanjak karena kafein—akan membunuh jeritan emosi yang ditinggalkan oleh bayangan Nayla dan Devan. Ia ingin tubuhnya begitu lemas hingga otaknya tidak lagi memiliki tenaga untuk memutar ulang adegan keluarga harmonis Nayla dan Devan di ruang prakteknya beberapa hari lalu. Ia ingin mati rasa. Ia ingi

