Ratna Susila, wanita yang selama puluhan tahun berdiri tegak di puncak piramida kekuasaan Mahendra, kini berlutut dengan hina di atas lantai marmer ruang kerjanya yang dingin. Raut wajahnya yang biasanya kaku dan penuh wibawa kini hancur, digantikan oleh kengerian yang murni. Rahasia yang ia jaga lebih ketat dari nyawanya sendiri baru saja meledak di depan mata orang yang paling ia cintai sekaligus ia takuti. "Yiven, sayang! Ini tidak seperti yang kamu dengar! Dengarkan dulu penjelasan Mama!" Ratna merangkak pelan, mencoba meraih ujung jas dokter Yiven dengan jemarinya yang gemetar. Namun, Yiven menampik tangan itu dengan kekuatan yang mengejutkan, seolah disentuh oleh sesuatu yang najis. "Ja-jangan sentuh," desis Yiven. Suaranya kering, hampa, dan dipenuhi rasa jijik yang sangat dalam

