Denting lift yang memecah kesunyian lobi terasa seperti hantaman godam bagi Yiven. Ia masih mematung di sudut kotak besi itu, napasnya sedikit memburu, dan indranya terasa kacau karena alkohol yang sempat ia tenggak tadi. Ruang sempit itu seolah masih menyimpan jejak gairah aneh dan ketakutan yang baru saja terjadi. Saat itulah seorang pria tiba-tiba melangkah masuk, memecahkan gelembung ilusi yang mengurung Yiven. Pria itu sedikit mengernyit melihat dokter tampan itu berdiri mematung dengan tatapan kosong. Membuat Yiven tersentak. "Maaf, Pak. Saya turun di sini," gumam Yiven sekilas. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Ia buru-buru melangkah keluar sebelum pria itu sempat melihat kekacauan yang terpeta jelas di wajahnya. Lobi hotel yang megah itu kini terasa begitu bising da

