Nayla yang baru saja masuk ke dalam ruang makan, langsung buru-buru duduk di kursinya. Ia menutup wajahnya yang pucat dengan kedua tangan sambil menyenderkan tubuhnya di kursi. Dada Nayla terasa seperti dihimpit berton - ton beban. Napasnya tercekik, seolah udara di ruangan itu berubah menjadi debu halus yang menyumbat kerongkongannya. Demi tuhan saat tiba–tiba Yiven muncul begitu saja di hadapannya, dan matanya bertemu pandang dengan lelaki itu, hampir saja ia tak bisa bernapas! Di hadapannya. Saat sepasang mata cokelat itu menatapnya dengan hangat. Saat bibirnya tersenyum kecil sambil berbicara dengannya, membuat Nayla hampir gila. Astaga. Aku harus pergi. Sepertinya ia tidak bisa lagi terus bertemu dengan Yiven seperti ini. Enam tahun ia habiskan untuk membangun benteng. Dan Y

