BAB 7 - Dua Suku Kata yang Sengaja Dikubur

811 Words
Ratna masih berada di sofa beludru yang sama. Setelah merenung beberapa saat, ia melangkah gontai menuju balkon, mencari pelarian dari sesak ruang itu. Ia mengangkat wajah, menatap bulan yang bersinar dingin. Tanpa sadar, bayangan malam terkutuk, enam tahun lalu, membanjiri benaknya. Malam itu, Ratna ingat betul hujan turun deras, saat ia menerima telepon dari rumah sakit bahwa Yiven mengalami kecelakaan parah. Dunia Ratna runtuh saat melihat putranya terbaring kritis di ICU, penuh selang dan perban. Namun, kejutan sesungguhnya bukan pada kondisi fisik Yiven, melainkan pada penyebab kecelakaan itu. Yiven kecelakaan karena menyelamatkan seseorang. Seorang gadis. Maria Christie namanya. Ratna menyelidiki siapa gadis yang membuat putranya hampir mati itu. Dan fakta yang ia temukan membuatnya jijik hingga ke ulu hati. Gadis itu bukan siapa-siapa. Lebih buruk lagi, dia adalah putri dari seorang pel*cur pinggiran kota. Seorang wanita malam yang menjual tubuhnya di motel-motel murah. Ratna tidak bisa menerimanya. Darah Mahendra yang terhormat tidak boleh bercampur dengan darah kotor seperti itu. Bagaimana mungkin Yiven, pangeran kebanggaannya, jatuh cinta dan berpacaran selama tiga tahun dengan anak sampah masyarakat seperti itu? Ratna ingat saat ia menemui gadis itu di ruang tunggu rumah sakit. Gadis itu duduk di pojok, tubuhnya penuh luka lecet, pakaiannya kotor, dan wajahnya sembap karena menangis. Ada rasa kasihan, sedikit. Namun naluri seorang ibu untuk melindungi masa depan anaknya jauh lebih besar. Ratna mendekatinya, bukan untuk menghibur, tapi untuk mengusir. Ratna menggunakan segala cara: intimidasi, rasa bersalah, dan uang. Ia mengatakan bahwa Maria adalah pembawa sial. Bahwa Maria-lah penyebab Yiven hampir mati. Bahwa jika Maria benar-benar mencintai Yiven, ia harus pergi agar Yiven bisa memiliki masa depan yang cerah. Yang tidak Ratna duga, gadis itu tidak melawan. Maria tidak meminta uang sepeser pun. Dengan mata yang hampa dan jiwa yang remuk, gadis itu menyetujui permintaan Ratna. "Saya akan pergi, Nyonya. Saya akan menghilang dari hidup Yiven selamanya." Itu kata-kata terakhir Maria. Ratna, tak peduli benang kusut apa yang tersembunyi di balik persetujuan itu; ia hanya melihat kesempatan emas untuk menjauhkan anak itu dari jangkauan Yiven. Ratna pun segera mengatur segalanya. Ia menghubungi pengacara kepercayaannya, Tuan Wijaya. Dalam waktu singkat, Tuan Wijaya membantu penggantian identitas anak itu. Dan seolah tahu diri, anak itu pun pergi, setelah menolak sejumlah uang yang Ratna tawarkan. Saat itu Ratna mengira, Oh, mungkin anak itu tidak begitu mencintai Yiven, sehingga pergi dengan begitu mudahnya. Atau bisa jadi, anak itu sangat merasa bersalah telah membuat Yiven celaka, sehingga ingin menjauh. Apa pun alasannya, Ratna tak peduli, yang penting keinginannya untuk memisahkan Yiven dan anak itu tercapai. Ratna mengira masalah selesai. Ia mengira Yiven akan melupakan gadis itu seiring waktu. Namun ia salah. Saat Yiven bangun dari koma, hal pertama yang ia cari adalah Maria. Ketika tidak menemukannya, Yiven tiba-tiba menggila. Ia menyeret tubuhnya yang belum pulih, mencari gadis itu ke kampus, ke kamar kos yang sudah kosong tanpa penghuni, dan ke tempat-tempat mereka pernah menghabiskan waktu bersama. Namun Maria tidak pernah ditemukan. Melihat putranya yang hancur, meraung seperti binatang yang terluka, Ratna tidak tega. Tetapi, ia juga tidak bisa membiarkan Yiven kembali pada gadis itu. Maka, Ratna menjatuhkan bom terakhir. Kebohongan terbesar dalam hidupnya. "Dia meninggal, Yiven. Kecelakaan itu... mobil itu... merenggut nyawanya." Kebohongan itu berhasil. Yiven berhenti mencari. Tapi bersamaan dengan itu, cahaya di mata putranya pun ikut mati. Yiven berubah menjadi mayat hidup yang bernapas. Ia mengasingkan diri ke luar negeri, memulai kembali studinya di sana. Begitulah akhirnya Yiven berhasil menyelesaikan koas-nya, internship-nya, sampai melanjutkan pendidikan spesialis di sana. Ratna membuka matanya kembali, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Napasnya terasa berat. Enam tahun telah berlalu sejak malam itu. Ratna pikir ia sudah berhasil. Ia pikir Yiven sudah sembuh. Ia pikir setidaknya nama Maria Christie sudah terhapus bersih dari hidupnya. Tapi pertanyaan Yiven tadi di telepon membuktikan bahwa luka itu tidak pernah kering. Nama itu masih hidup di kepala anaknya. Ketakutan dingin merayap di tulang punggung Ratna. Jika Yiven mulai curiga... Jika Yiven mulai menggali... Seluruh bangunan kebohongan ini akan runtuh menimpanya. Dan Yiven... tidak akan pernah memaafkannya. Dia akan kehilangan Yiven selamanya. "Aku tidak salah. Aku melakukan ini demi Yiven. Demi kebaikannya," bisik Ratna pada kesunyian, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Sejak awal gadis itu memang tidak layak untuknya." Namun, berlainan dengan tekadnya yang membaja, tangan Ratna bergetar hebat saat ia mendekat dan mengambil kembali ponselnya yang tergeletak di karpet. Ia harus memastikan segalanya tetap terkubur. Segel kebohongan itu—yang ia bangun dengan 'sempurna'—harus direkatkan kembali sebelum retak lebih lebar. Dengan jari yang goyah, ia mencari nama di kontak ponselnya. Tuan Wijaya - Lawyer. Ratna menempelkan ponsel ke telinganya, jantungnya berdebar memukul tulang rusuk seperti palu godam. "Halo, Tuan Wijaya?" Suara Ratna bergetar, meskipun ia berusaha keras menekannya agar terdengar berwibawa. "Saya butuh bertemu Anda. Segera." Hening sejenak sebelum Ratna melanjutkan dengan nada mendesak yang menakutkan. "Ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Sesuatu yang sangat penting, yang berhubungan dengan kejadian enam tahun lalu..." ................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD