BAB 6 - Andil Ratna Susila

729 Words
"Yiven, kamu dengar Mama?" Ratna Susila menekan ponsel mahal itu ke telinganya hingga terasa panas. Di seberang sana, hanya ada keheningan yang menyiksa. Ratna mengetuk-ngetuk jemarinya yang berhias cincin berlian ke meja rias marmer, garis-garis kecemasan mulai merusak riasan wajahnya yang sempurna. Akhir-akhir ini, ia merasa seperti sedang berteriak ke dalam sumur tanpa dasar. Putranya, dokter kebanggaan keluarga Mahendra, semakin sulit dijangkau sejak kembali ke Indonesia sebulan lalu. Panggilan telepon yang tersambung ini, terasa seperti mukjizat setelah panggilannya terus tertolak sejak pagi. "Yiven?!" panggilnya lagi, kali ini nadanya menajam, kehilangan kesabaran. "Mm... Kenapa, Ma?" Ratna menghembuskan napas panjang, bahunya merosot lega. Akhirnya. Namun, kelegaan itu segera tergantikan oleh kekecewaan. Suara putranya terdengar begitu lelah, dingin, dan jauh. Enam tahun Yiven mengasingkan diri di luar negeri. Ratna pikir kepulangan ini akan membawa kembali putra lamanya. Namun, Yiven justru kembali sebagai sosok asing. Pria itu kini berusia tiga puluh satu tahun, sukses, tampan, dan kaya raya, namun ia menjalani hidup seperti seorang biksu di tengah gemerlapnya ibu kota. Dingin. Kaku. Dan tak tersentuh. Ratna tidak bisa membiarkan ini. Sebagai penerus keluarga Mahendra, ia punya tugas untuk memastikan garis keturunan mereka berlanjut dengan sempurna. Ia sudah menyiapkan karpet merah, mengenalkan Yiven pada putri-putri koleganya yang berparas menawan, lulusan universitas Ivy League, dan memiliki silsilah yang mumpuni. Anehnya, Yiven tidak pernah menolak ajakan kencan buta itu secara frontal. Ia datang, ia duduk, ia bersikap sopan. Namun, saat pembicaraan lebih lanjut mulai dibuka, Yiven selalu menolak dan menampik setiap wanita itu dengan bermacam alasan, membuat mereka mundur teratur karena sadar bahwa mereka tidak punya kesempatan. "Dengar, Yiven," ujar Ratna, mengubah suaranya menjadi nada membujuk yang manis. "Kosongkan jadwal kamu Senin depan, ya? Mama sudah atur pertemuan makan malam dengan anak Tante Laras. Namanya Nadine. Dia cantik, anggun, dan cerdas sekali. Lulusan Botani Harvard, lho! Cocok sekali untuk mendampingimu!" Saking antusiasnya, Ratna berbicara cepat, memaparkan segala keunggulan gadis itu layaknya seorang sales yang sedang menjual barang mewah. Ia menunggu respons. Satu detik. Sepuluh detik. Hening lagi. Ratna menatap layar ponselnya, memastikan sambungan belum terputus. "Yiven? Kamu dengar Mama nggak, sih?" "Mama masih ingat Maria?" Pertanyaan itu datang tiba-tiba, sederhana, dan menerobos keheningan seperti panah es yang menembus perisai baja. Maria Christie. Hanya dua suku kata. Nama yang pasaran. Namun namun efeknya bagaikan ledakan di pusat sanubari Ratna. Jantungnya, yang sedetik lalu berdetak normal karena antusiasme perjodohan, mendadak tersentak hebat, seperti mesin yang dipaksa berhenti mendadak. Udara di kamar tidurnya yang mewah seakan membeku menjadi kristal es, mencekik paru-parunya. Nama itu adalah jangkar yang ditarik paksa dari dasar laut masa lalu, menyeret serta lumpur rasa bersalah yang hitam pekat. Ratna mencengkeram pinggiran meja riasnya. Ia berjuang mati-matian mencari kendali atas suaranya. Ia harus tenang. Ia tidak boleh goyah. Topeng ini tidak boleh retak. "Maria siapa?" tanya Ratna. Ia berhasil memaksakan suaranya keluar, meski terdengar tajam dan rapuh seperti kaca tipis. Hening sejenak di seberang sana. Jeda yang menyakitkan. "Mm... Pacar aku dulu, Ma... Saat kuliah." "Ooh." Ratna menggigit bibirnya sampai terasa sakit, merasakan rasa besi darah di lidahnya demi menahan getaran suaranya. Ia harus mengubur nama itu lagi. Sekarang juga. Sebelum 'mayat'-nya bangkit. "Dia sudah berpulang ke Tuhan, Yiven..." Ratna berujar tegas, namun ada nada memohon yang terselip di sana. "Sebaiknya kita tidak perlu ungkit-ungkit lagi. Biarkan masa lalu beristirahat dengan tenang. Itu tidak baik untuk kesehatan mentalmu." Tidak ada jawaban dari Yiven. Sunyi itu kembali menyelimuti, namun kali ini terasa lebih berat, menuduh. Keringat dingin mulai mengalir di punggung Ratna. Kenapa Yiven tiba-tiba bertanya? Apakah dia tahu sesuatu? Tidak, tidak mungkin! Rencanaku enam tahun lalu berakhir dengan sempurna! "Yiven, sudah dulu ya. Sepertinya Papa memanggil Mama." Ratna berbohong, suaranya terburu-buru dan panik. Ia tidak sanggup lagi melanjutkan sandiwara ini. Klik. Ratna memutus sambungan telepon secara sepihak. Ponsel itu terlepas dari tangannya, jatuh ke karpet tebal. Wanita paruh baya yang selalu tampil anggun itu menjatuhkan dirinya ke sofa beludru. Maria Christie. Seluruh energinya benar-benar tersedot habis hanya oleh dua suku kata itu. Enam tahun. Ratna kira itu adalah rentang waktu yang cukup untuk mengubur sebuah nama. Mati-matian Ratna berharap alasan Yiven yang menampik segala jenis wanita yang ditawarkan kepadanya, bukan karena Maria. Namun sepertinya, kemungkinan yang paling ia pungkiri untuk terjadi, memang menjadi alasan utama Yiven terus sendiri. Ratna memejamkan mata, membiarkan gelombang penyesalan memukul dadanya. Karena biar bagaimana pun, Ratna tahu, ia memiliki andil besar dalam memisahkan dua insan itu. .....................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD