BAB 5 - Rindu Yang Terkutuk

1206 Words
Sepersekian detik ketika mata Maria menangkap wajah Yiven Mahendra di ruang praktik itu, napasnya nyaris terhenti. Wajah itu. Wajah yang selama enam tahun ini ia coba hapus dengan air mata, dengan kerja keras, dan dengan pelarian tanpa henti, kini berada tepat di depannya. Sesaat tubuh Maria menegang kaku. Namun, ketika saraf-saraf otaknya kembali bekerja dan realitas menamparnya, insting pertahanan dirinya mengambil alih. Lari! Ia berbalik cepat, terlalu cepat hingga keseimbangannya goyah. Kakinya tersandung, tubuhnya limbung ke depan bersama Fiona dalam gendongannya. Dan kemudian... tangan itu menangkapnya. Lengan kekar itu melingkari tubuhnya menariknya masuk ke dalam sebuah dekapan yang menghancurkan kewarasannya. Saat aroma maskulin yang bercampur dengan cologne mahal dan bau samar rokok itu menyergap indra penciumannya, sesaat tubuhnya diam menegang. Terlalu banyak ledakan emosi yang terlalu tiba-tiba, untuk ditampung oleh tubuh ringkihnya. Di dalam dekapan itu, jubah berlapis yang selama ini Maria kenakan—ketegaran, ketabahan, kesabaran—terkoyak habis, dan menampakkan isi yang sesungguhnya: Amarah dan ketakutan yang bercampur jadi satu. Beberapa detik kemudian, dengan sisa tenaga yang dipacu oleh adrenalin, Maria berhasil melepaskan diri. Ia memasang topeng dingin, menyangkal identitasnya, dan melangkah keluar dari ruangan itu seolah-olah ia hanyalah orang asing yang tersesat. Maria berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit. Langkah kakinya berdentum di lantai marmer, berpacu dengan detak jantungnya yang menggila. "Pagi, Nyonya..." sapa seorang perawat yang berpapasan dengannya. Maria memaksakan sebuah senyum kaku, mengangguk singkat. "Pagi..." Maria terus berjalan. Melewati nurse station, menyapa dua perawat lain dengan keramahan yang bernilai sempurna. Di mata orang lain, ia tampak tenang, wajar, selayaknya wali pasien yang baru selesai memeriksakan anaknya. Namun, di balik blus kerjanya yang rapi, keringat dingin mengucur deras membasahi punggungnya. Maria merasa ada bom waktu yang siap meledak di dalam dadanya. Ia butuh tempat sembunyi. Sekarang juga. Mata Maria menangkap pintu tangga darurat di ujung lorong. Tanpa pikir panjang, ia mendorong pintu besi berat itu dan masuk ke dalamnya. Begitu pintu tertutup, memisahkan hiruk-pikuk rumah sakit dengan keheningan tangga darurat yang berdebu, pertahanan Maria runtuh total. Kakinya yang sejak tadi dipaksa tegak, kini menyerah. Maria merosot jatuh, punggungnya bergesekan dengan dinding dingin, hingga ia terduduk di anak tangga beton. Maria memeluk Fiona erat-erat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil anaknya, dan membiarkan tubuhnya berguncang hebat. Selanjutnya, dia dapat merasakan dinding-dinding ruangan sempit itu membentuk bayang-bayang goyah di kedua matanya. Yiven... Kenapa harus Yiven?! Enam tahun! Enam tahun ia habiskan untuk membangun hidup baru dari puing-puing kehancuran. Ia sudah mengubur Maria Christie di liang lahat terdalam. Ia pikir ia sudah berhasil, ia pikir ia bisa merasa aman. Tapi pertemuan tadi membuktikan betapa naifnya dia. Tadi, hanya beberapa menit Maria sanggup bertahan berpura-pura tidak mengenal Yiven. Namun beberapa menit kebersamaannya dengan laki-laki yang pernah menjadi dunianya itu, ternyata mampu menghancurkan pertahanan diri yang susah payah dibangunnya selama bertahun-tahun, sampai seperti ini. Maria mengangkat wajahnya, menyandarkan kepala ke dinding. Matanya menatap kosong ke langit-langit tangga darurat yang suram. Emosi yang ia rasakan saat ini begitu membingungkan hingga membuatnya ingin muntah. Seharusnya hanya ada satu emosi saat melihat Yiven tadi: Amarah. Amarah pada pria yang menolaknya saat ia hamil. Amarah pada pria yang menghinanya sebagai 'anak p*****r'. Amarah pada pria yang membuatnya harus berjuang sendirian membesarkan anak yang sakit-sakitan. Tapi... kenapa? Kenapa di sela-sela amarah yang membara itu, ada rasa sakit lain yang menyelinap? Rasa sakit yang lebih tajam, lebih perih. Maria teringat wajah Yiven tadi. Wajah itu... tampak begitu kuyu. Di balik kacamata dan jubah dokternya yang berwibawa, Yiven terlihat kurus. Tulang pipinya lebih menonjol dari yang Maria ingat. Ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, tanda kelelahan yang kronis. Dan sorot matanya... Tuhan, sorot mata itu begitu kosong, begitu hampa, seolah-olah hidupnya telah terhisap habis. Kenapa dia terlihat begitu menyedihkan? Bukankah seharusnya dia bahagia setelah terbebas dari 'anak p*****r' yang memalukan ini? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan tanpa izin, dan bersamaan dengan itu, sebuah emosi asing merambat naik ke permukaan. Kabut bening muncul perlahan dan menghilangkan fokus di kedua mata Maria, saat menyadari apa emosi asing itu. Sama sekali tidak diduganya, beriringan dengan amarah itu, ada satu emosi lain yang memenuhi dirinya. Rindu... Satu kata itu menghantam kesadaran Maria seperti palu godam. Ia merindukannya. Bagian paling bodoh, paling lemah, dan paling irasional dari hatinya, ternyata merindukan pria b******n itu. "Kau gila, Maria..." rutuknya pada diri sendiri. Air mata panas mulai menetes, satu per satu, jatuh membasahi pipinya. "Setelah semua yang terjadi..." Maria ingin tertawa, menertawakan ironi nasibnya sendiri. Ia membenci Yiven dengan seluruh sel di tubuhnya, tapi hatinya sendiri mengkhianatinya dengan satu emosi asing ini. Rindu ini... Adalah emosi yang tidak boleh ada. "Mama?" Maria tersentak saat merasakan sentuhan pelan di pipinya yang diiringi suara manis anaknya. Astaga. Aku sampai melupakan Fiona. Bagaimana dengan pemeriksaan Fiona? Benar juga, aku harus menjadwalkan ulang pemeriksaan itu sekarang. Jika memang Yiven bekerja di rumah sakit ini, aku harus mencari tahu jadwal di mana Yiven tidak bekerja. Atau... aku pergi saja ke rumah sakit lain? Rumah sakit yang jauh. Rumah sakit yang paling jauh jaraknya dari rumah sakit ini! "Mama? Mama kenapa nangis? Mama sakit?" tanya Fiona polos, membuat Maria tersadar kembali dari lamunan singkatnya. Tangan mungilnya mengusap air mata di pipi Maria. Maria buru-buru menyeka wajahnya dengan punggung tangan, memaksakan sebuah senyum yang gemetar. "Enggak, Sayang... Mama enggak apa-apa. Mama cuma... kelilipan debu. Di sini banyak debu, kan?" Fiona mengerutkan kening, tidak sepenuhnya percaya, tapi ia tidak bertanya lagi. Anak itu mengalihkan pandangannya ke pintu tangga darurat. "Ma... kita enggak jadi ketemu Dokter Heri?" "Fiona Sayang..." Maria memulai, suaranya masih sedikit serak. Ia mengelus rambut Fiona, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Dokter Heri kan galak, gimana kalau kita cari dokter lain saja? Dokter lain pasti banyak yang lebih baik, dan lebih lucu dari Dokter Heri…” Fiona mengerucutkan bibir karena jengkel. Dia menyilangkan tangan di depan d**a, dan berusaha turun dari pangkuan Maria. “Tapi Dokter Heri sebenarnya baik, kok, Ma! Aku suka permen yang selalu Dokter Heri beri setelah selesai periksa… Dokter Heri juga suka elus kepala aku kayak gini…” ucap Fiona dengan nada setengah manja sambil mencontohkan gerakan Dokter Heri yang suka mengusap pelan kepalanya. Maria menghembuskan napas. Panjang dan penuh tekad. Baiklah. Kemudian hanya tinggal tersisa satu cara. Ia hanya tinggal menghindari jadwal praktik Yiven. Rumah sakit ini sangat luas. Belum tentu mereka berdua akan bertemu lagi dengan Yiven, jika ia bersikap hati-hati dan waspada. “Baiklah… Ayo kita daftar kontrol ulang dulu, lalu kita pulang.” Tak lama, setelah mendaftar untuk jadwal kontrol selanjutnya, Maria menuntun Fiona memasuki taksi pertama yang terlihat di teras lobi rumah sakit. Kepada sopir dia sebutkan alamat rumahnya sambil menutup pintu taksi. "Cepat jalan, Pak. Tolong," perintahnya pada sopir. Taksi itu melaju meninggalkan pelataran rumah sakit. Maria menyandarkan punggungnya ke jok mobil. Tubuhnya terasa luluh lantak seolah tulangnya telah dicabut satu per satu. Perlahan, Maria menatap ke luar jendela. Gedung Rumah Sakit Arga semakin menjauh, mengecil, dan akhirnya menghilang di tikungan jalan. Namun, rasa sesak di dadanya tidak ikut menghilang. Rindu yang terkutuk itu masih berdenyut, menyatu dengan rasa benci, menciptakan luka yang tak akan pernah kering. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata kembali menetes dalam diam. Hari ini ia berhasil lari. Tapi jauh di lubuk hatinya, Maria tahu... ini baru permulaan. Takdir baru saja menarik benang merah yang kusut itu, dan cepat atau lambat, ia akan terjerat lagi. ..................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD