BAB 17 - Aroma Pemantik Ingatan

1022 Words
Koridor lantai lima Rumah Sakit Arga selalu terasa sepi, sebuah sunyi yang disengaja untuk menjaga ketenangan ruang diagnostik. Namun, bagi Dokter Yiven Mahendra, koridor ini adalah medan perang internalnya. Dua hari sejak Nayla Jeneva terpaksa membuat janji pemeriksaan lanjutan untuk putrinya, Yiven telah berusaha keras memusatkan pikirannya pada tugasnya, tetapi setiap detak jantung yang ia periksa seolah menghasilkan rhythm yang sama: Maria, Maria, Maria. Hari ini, Fiona, pasien kecil yang wajahnya merupakan tiruan sempurna dari dirinya, sedang menjalani MRI Jantung. Ini adalah tes yang krusial, membutuhkan fokus total dari tim medis. Namun, Yiven tidak berada di ruang kendali MRI. Ia baru saja menyelesaikan visite singkat di bangsal bedah, dan kakinya sendiri yang membawanya kembali ke lantai ini. Ia melihat Nayla sebelum wanita itu menyadari kehadirannya. Nayla berdiri sekitar lima meter dari pintu ruang MRI Jantung, menyandar di dinding, tidak menunjukkan gelisah yang kentara, tetapi terbungkus dalam aura keterasingan. Ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri, pandangannya kosong dan jauh. Pakaiannya, hari ini, adalah perpaduan warna gelap yang elegan, menutupi tubuhnya seolah ia adalah sebuah rahasia yang tidak boleh dilihat. Yiven berdiri diam, mengenakan seragam dokternya. Jas putihnya bersih dan berwibawa, tetapi di balik lapisan profesionalitas itu, ia hanyalah seorang pria yang terobsesi dengan hantu masa lalu. Mata Yiven memandang setiap inchi dari wajah cantik Nayla. Alisnya, matanya, hidungnya yang begitu serupa dengan orang yang pernah hadir dan mengisinya dengan kebahagiaan, walaupun kini hanya menyisakan kerinduan dan rasa bersalah yang memuakkan. Yiven akhirnya memberanikan diri, melangkah perlahan. Setiap langkah membawa gemuruh di d*danya. Ketika ia tiba tepat di hadapan Nayla, wanita itu tersentak, mata cokelatnya melebar dalam keterkejutan yang nyata. Ini bukan sekadar kaget karena disapa. Nayla kaget seolah kagetnya seseorang yang tertangkap basah melanggar aturan. Yiven tidak bisa mengerti. Apa yang begitu menakutkan tentang dirinya hingga Nayla selalu bereaksi seolah ia adalah pemicu alarm? "Nyonya Nayla," sapanya, suaranya dikondisikan agar terdengar tenang dan formal. Nayla buru-buru menegakkan tubuhnya, gerakan yang canggung dan terburu-buru. Wajahnya, yang baru beberapa detik lalu diliputi kesedihan, kini kembali diselubungi lapisan es. "Dokter Yiven," balasnya. "Saya baru selesai visite. Saya hanya ingin memastikan tim kami tidak mengalami kendala. MRI Jantung Fiona sepertinya berjalan sesuai jadwal. Hasilnya akan keluar dalam beberapa jam, nyonya. Anda bisa katakan kapan pun Anda membutuhkan bantuan," kata Yiven, berusaha terdengar profesional sekaligus menghibur. "Terima kasih atas tawarannya dokter, tapi saya tidak perlu bantuan. Anda tidak perlu repot-repot," Nayla menjawab cepat dan dingin, menghindari tatapan Yiven. Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah penolakan. Nada ketus Nayla tidak mempan kali ini. Yiven malah merasa iba. Di balik sikap protektifnya, Nayla jelas seorang ibu yang takut akan hasil diagnosis. Yiven merasakan dorongan aneh, naluriah, untuk meletakkan tangan di bahunya, untuk mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Saat Yiven sedang merangkai kata-kata yang paling tepat untuk menembus dinding pertahanan Nayla, ia mendengar suara yang sangat tidak ia inginkan di ujung koridor yang sunyi ini. "Yiven sayang! Kamu dimana?! Aku sudah mencarimu dari tadi di ruang residen..." Suara itu terlalu manja, terlalu berisik untuk lingkungan rumah sakit. Itu adalah Dokter Syifa. Yiven seketika menegang. Syifa adalah residen paru-paru yang cantik, agresif, dan telah mengubah satu bulan terakhir hidup Yiven menjadi permainan kucing-kucingan yang melelahkan. Yiven tidak tertarik, tetapi Syifa tidak pernah menerima penolakan. Ia adalah tipe wanita yang menganggap penolakan sebagai tantangan. Mendengar suara Syifa yang mendekat, Yiven tidak berpikir. Insting primal untuk melarikan diri menguasai logika akal sehatnya. Yiven tidak ingin berhadapan dengan Syifa, terutama di depan Nayla, yang pasti akan menggunakan pertemuan ini sebagai amunisi untuk menilai—dan merendahkannya. Sebagai lelaki—yang mungkin—seorang pemain wanita. Dalam gerakan yang cepat dan refleksif, Yiven meraih lengan Nayla dan menyeret wanita itu ke belakangnya. Ia mendorong pintu ruang gudang penyimpanan kosong yang gelap di samping mereka, dan dalam satu gerakan ia melangkah masuk, menarik Nayla bersamanya, dan menutup pintu. Mereka terperangkap dalam kegelapan yang pekat. Nayla, yang terkejut, berjuang dan mengeluarkan pekikan tertahan. Yiven terpaksa menekan tubuhnya ke dinding, membekap mulut Nayla dengan telapak tangannya untuk meredam suara protes Nayla yang membentur dinding ruang kecil itu. "Ssst! Tolong diam, sebentar saja..." bisik Yiven, suaranya tercekat dan terdesak. Nayla membeku. Di luar pintu, Syifa terdengar berhenti. "Yiven ga kesini, ya?" Syifa menggerutu sambil merengek manja. "Padahal aku yakin melihatnya menuju koridor ini! Dia pergi kemana, sih?! Ah, sial! Kenapa sulit sekali sih, untuk bertemu dengannya?" Langkah kaki Syifa terdengar menjauh, menghilang di kejauhan. Yiven menunggu beberapa detik, memastikan kepergian Syifa. Ia mendesah lega, hembusan napasnya mengenai puncak kepala Nayla. Kemudian, ia perlahan melepaskan telapak tangannya dari mulut Nayla. Saat itulah kesadaran keras menghantamnya. Kenapa aku menariknya? Aku bisa saja bersembunyi sendirian, kan? Namun, pikiran kacau itu seketika tersingkir oleh sensasi yang menusuk hidungnya. Di antara aroma debu dan antisseptik rumah sakit yang samar, ada aroma yang lebih kuat, lebih segar, dan begitu akrab hingga Yiven merasa pusing. Wangi khas melati yang begitu menenangkan! Wangi itu bukan parfum, melainkan wangi alami yang menempel di rambut, aroma yang telah ia cari tanpa sadar selama enam tahun. Aroma yang menenangkan dan menghangatkan, yang ia kenali sejak bertahun-tahun lalu. Wangi itu begitu enak dihirup, begitu familiar, hingga Yiven tidak bisa bergerak. Matanya, yang kini sedikit terbiasa dengan kegelapan, turun menatap wajah ayu di hadapannya. Yiven bisa merasakan kehangatan napas Nayla di dadanya, dan jantungnya berdetak seperti genderang. Ia lupa segalanya—lupa Syifa yang menyebalkan, lupa hasil visite pemeriksaan pasien rawat inap tadi, dan lupa MRI Jantung Fiona yang sedang berlangsung di ruangan seberang. Ia hanya ingat Maria. Aroma yang ia kenali kembali memenuhi setiap sudut otaknya. Seperti kabut basah yang menempel dan membutakan. Yiven membeku total, merasa tersesat. Jantungnya berdentam keras, menolak menerima logika. Maria sudah mati. Ia percaya Maria meninggal. Tetapi wajah ini... wajah ini, dikombinasikan dengan bau ini, dan ditambah dengan anak perempuan yang wajahnya adalah salinan sempurna dirinya... Ia menatap mata Nayla yang samar dalam gelap, mencari celah, mencari tanda pengakuan. "Saya... tahu ucapan saya terdengar gila," Yiven berbisik, suaranya hampir tidak terdengar karena getaran syok yang menguasainya. Ia tidak peduli lagi apakah Nayla marah atas tindakannya. Pertanyaan ini lebih mendesak daripada segala etika moral atau rumah sakit. "Tapi, apa anda benar-benar tidak mengenal saya?" ....................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD