BAB 8 - Nayla Jeneva dan Pilihan Terburuk

1341 Words
Maria menunduk, menatap lekat-lekat kartu identitas yang menggantung kaku di lehernya. Di sana, di atas latar putih bersih, tercetak sebuah nama yang masih terasa asing di telinganya bahkan setelah ia pakai selama enam tahun ini: Nayla Jeneva. Nama yang menjadi benteng pertahanan selama ini, perisai kebohongan yang membungkus dirinya yang hancur agar tetap bisa tegak berdiri di tengah dunia yang kejam. "Nayla! Melamun saja, nanti ketinggalan lift nih!" Suara Vina memecah keheningan di sudut koridor lantai 19 itu. Maria—atau sekarang dikenal sebagai Nayla—tersentak kecil. Ia refleks merapikan posisi tanda pengenal di dadanya sebelum melangkah masuk ke dalam kotak logam yang akan membawanya turun ke lantai dasar. Sudah tiga tahun ia mengabdi sebagai asisten desainer di butik milik Anya Sastranegara, sang maestro mode paling berpengaruh di negeri ini. Pekerjaannya melelahkan, menguras waktu, dan sering kali membuatnya pulang saat langit sudah pekat, namun Nayla menikmati setiap detik di sana. Di bawah bimbingan Anya yang teliti dan cenderung galak, Nayla dapat belajar banyak hal. "Kamu ikut makan malam bersama tim nanti kan, Nay?" tanya Vina saat lift mulai bergerak turun. "Pak Aros kayaknya sudah menandai kamu, loh." Nayla meringis pelan, jemarinya mengetuk-ngetuk tas jinjingnya dengan gelisah. Pikirannya melayang pada Fiona, putri kecilnya yang kini sedang menunggu di rumah bersama Bibi Tina, pengasuhnya. "Sepertinya malam ini aku benar-benar harus hadir, ya..." gumam Nayla kaku. "Kemarin-kemarin aku sudah dua kali absen karena urusan Fiona, dan Pak Aros sudah menegurku berkali-kali untuk urusan itu. Kalau hari ini aku menghilang lagi, mungkin besok namaku sudah dicoret dari daftar karyawan." Vina menepuk bahu Nayla. "Nah, itu tahu! Pak Aros memang mewanti-wanti terus! Kebersamaan adalah kunci perusahaan kita, katanya. Ada-ada saja. Bilang saja mau makan gratis dibayari uang perusahaan." Vina menggelengkan kepala sebentar, lalu seolah teringat sesuatu, ia tiba-tiba menatap Nayla dengan mata berkilat. "Eh, tapi hari ini jadwalnya kita makan steak, loh. Asyik! Aku mau pilih yang paling mahal, ah!" tawa Vina pecah. Jeda sejenak. "Sudah, Nay. Kamu ikut saja pakai mobilku. Sekali-kali biarkan Bibi Tina menjaga Fiona sampai malam." Nayla mengangkat bahu, merasa Bi Tina yang kaku itu belum tentu mau, jika diminta lembur menjaga Fiona. Selanjutnya, tak seperti biasanya, Nayla menghubungi Bi Tina, dan mendapatkan izin dengan mudah. Walaupun merasa aneh, ia akhirnya pergi juga dengan menumpang di mobil Vina, menuju restoran steak mewah yang sudah dipesan. Beberapa saat kemudian, acara makan-makan itu berlangsung meriah seperti biasa. Namun, di tengah keriuhan tawa dan aroma daging panggang yang menggoda, Nayla justru merasa terasing. Ia duduk terdiam, menusuk-nusuk potongan daging di piringnya tanpa gairah sambil menatap id card miliknya yang tergeletak di meja. Nayla Jeneva. Nama itu selalu saja berhasil menariknya ke pusaran masa lalu. Gemerlap lampu restoran itu perlahan memudar di retina Nayla, berganti dengan bayangan kelam dari masa enam tahun silam yang tiba-tiba menyeruak keluar dari kotak Pandora di ingatannya. Enam tahun lalu, malam itu, saat Maria Christie hampir mencelakai diri dengan melompat ke jalan raya yang ramai setelah kehamilannya ditolak Yiven, ia sangat tidak menduga bahwa Yiven akan menyelamatkannya, dan bahkan terluka parah karena menggantikannya tertabrak mobil. Di koridor ICU yang sepi, sembari menatap tangannya yang penuh darah Yiven, awalnya Maria berusaha menyangkal kenyataan yang terjadi. Selama ini Yiven yang begitu baik padanya, yang tetap mencintainya di saat orang-orang membalikan tubuhnya saat mendengar asal usul Maria, tidak mungkin tiba-tiba membuangnya! Tidak mungkin, di saat Yiven sudah membuatnya tergantung padanya. Tidak mungkin, di saat ia sudah menganggap Yiven adalah ‘rumah’nya. Satu-satunya tempatnya kembali. Satu-satunya dunianya. Tidak mungkin! Benar. Yiven pasti berkata sekejam itu hanya karena kaget akan berita kehamilanku. Bagaimana pun, saat ini kami masih sangat muda… Tapi Lihat, Yiven menyelamatkanku dari tabrakan tadi! Artinya Yiven mencintaiku, kan?! Asal Yiven sadar, asal Yiven sadar... kami pasti bisa kembali seperti semula. Aku pasti akan kembali ke dalam rengkuhan Yiven. Yiven pasti akan kembali menerimaku! Namun, di saat Maria sedang kalut dan khawatir akan keselamatan Yiven yang kritis di ICU, dia malah menemukan rahasia yang selama tiga tahun selama mereka berpacaran, telah Yiven sembunyikan darinya. Harapan yang telah ia rajut perlahan tercabik seperti sutra tua. Kepingan rahasia itu menghancurkan harapan terakhir dirinya untuk bersanding dengan Yiven. Rahasia kelam itu menghantam ulu hatinya, membekukan setiap sisa kehangatan yang pernah ia rasakan dari Yiven. Tak kuat dengan rentetan kenyataan yang menyerangnya bersamaan, baik olokan Yiven dan rahasia kelam itu, membuat hati Maria teremas hingga ke taraf sakit yang benar-benar menghancurkan. Maria yang sudah merasa kotor, rendah diri, dan hancur, begitu gelisah saat tiba-tiba bertemu ibu Yiven. Dia sadar, bahwa ibu manapun pasti tidak mau anaknya berkencan dengan anak wanita kotor sepertinya. Sehingga Maria melihat perintah ibu Yiven untuk menyingkir dari hidup anaknya, sebagai satu-satunya tali penyelamat yang bisa menjauhkannya dari situasi memuakkan itu. Dengan niat tidak ingin bertemu Yiven lagi, ia menerima bantuan ibu Yiven untuk mengganti namanya, dan pergi ke tempat yang jauh. Maria, sendirian, berbekal sedikit uang yang ia tabung saat kuliah sambil bekerja paruh waktu di minimarket, menyewa satu kos kecil di pinggir kota dan tinggal di sana sampai melahirkan Fiona. Ia menjalani hari-hari itu sebagai pengasingan diri yang disengaja, membangun kembali hidupnya dari puing-puing hati yang remuk. Setahun setelah Fiona lahir, ia mulai berusaha meneruskan kembali kuliahnya dengan uang yang ia kumpulkan dengan bekerja di banyak tempat. Fiona kecil yang hanya memilikinya sendirian, sering ia titipkan di tetangga sebelah kosnya, seorang ibu paruh baya yang baik hati, saat ia bekerja. Berat sekali rasanya, meninggalkan Fiona dalam penjagaan orang asing. Tapi itu lebih baik daripada harus menaruh Fiona di rumah ibu kandung Maria. Ibu Maria, yang merupakan seorang wanita malam, pasti tidak akan peduli pada keselamatan cucunya. Bahkan ia sampai merasa tidak akan kaget jika wanita kejam itu menjual Fiona ke pedagang gelap. Ibunya adalah lubang hitam dalam hidupnya: entitas yang ada namun hanya berfungsi menyedot habis semua cahaya dan kasih sayang. Wanita kejam, yang sempat Maria sebut ‘ibu’, sama sekali tidak pernah ada untuk dirinya. Maria kecil, tidak mengenal siapa ayahnya, bekerja membantu ibunya yang merupakan pengelola satu motel lusuh di sebuah wilayah kecil pinggiran kota bekasi. Disana, walaupun baru mengerti setelah dewasa, ternyata ibunya bukan hanya menjual kamar. Dengan wajah cantik di usia paruh bayanya, ternyata ibunya juga menawarkan tubuhnya secara terang-terangan. Disitulah awal mula semua kekacauan hidupnya. Ibu Maria yang tidak pernah peduli padanya, membuatnya hidup dengan memakan makanan-makanan sisa pelanggan yang ia curi dari dapur motel. Ketika lambat laun, kenyataan siapa ibunya mulai diketahui oleh teman-teman SMP nya, Maria mulai dikucilkan. Maria merasa identitasnya sebagai anak pel*cur telah menjadi cap panas yang membakar kulitnya, menolak untuk hilang meski waktu berlalu. Serangan fisik maupun verbal, terus ia terima. Begitu pula ketika menginjak bangku SMA. Serangan itu terus berlanjut, karena daerah tempat tinggalnya yang merupakan daerah kecil, membuat kabar itu tersebar cepat dan semua orang menatapnya dengan tatapan jijik. Maria memejamkan mata. Berusaha keras masuk ke universitas yang bagus agar bisa merubah hidupnya. Agar bisa melarikan diri, jauh dari ibunya. Ketika akhirnya berhasil diterima di Universitas Indonesia, Maria melewati semester pertama kuliahnya dengan selamat. Saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup, Maria memiliki teman. Namun, tragedi kedua dalam hidupnya dimulai. Karena terlalu mempercayai temannya, Maria yang polos, menceritakan penderitaannya selama ini hidup sebagai anak pel*cur. Maria kira satu-satunya temannya, satu-satunya orang yang ia percayai, pasti akan menerimanya. Tetapi ternyata tidak. Hanya selang beberapa hari, hampir semua orang di kampus sudah mengetahui fakta itu. Satu-satunya teman yang telah ia percaya dan menghianatinya pun, menjadi orang pertama yang membalikan punggungnya meninggalkan Maria. Maria yang baru pertama kali merasakan penghianatan, siap tak siap kembali merasakan kelamnya kesendirian. Cemoohan kembali ia dengar. Tatapan sinis kembali mengikuti gerak-geriknya kemana pun ia pergi. Maria yang sedang tenggelam dalam pahitnya penghianatan, saat itu pertama kalinya bertemu dengan Yiven. Walau awalnya dia tahu tidak akan ada orang yang tahan dengannya. Tidak akan ada orang yang mau menerimanya, tetapi dia sekali lagi memilih kembali percaya kepada satu-satunya orang yang tidak membalikan punggung kepadanya. Saat itu, setengah mati Maria berharap Yiven adalah penyelamatnya... Satu-satunya orang yang tidak akan meninggalkannya… Tidak akan menghianatinya… Namun ternyata pikirannya salah. Tidak ada satu pun yang bisa menyelamatkannya! Dan Yiven… Adalah pilihan terburuknya. .....................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD