2. Malam Panjang

1330 Words
Jangan lupa tekan love! *^^ *M i k a l e a* "Lea." Gadis itu menghentikan kegiatannya ketika mendengar seseorang memanggilnya dengan asing. Namun, suara itu jelas ia kenali. pasalnya di rumah sakit ini ia hanya dikenal dengan panggilan Mika. Perempuan itu lantas berdiri tegak dari posisi miring ke kanan saat melakukan pelemasan, sehingga mendapati lelaki tinggi yang sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Kedua mata indah Mika membola sempurna, untuk beberapa detik gadis itu terkesiap kaget. "Nggak lupa sama aku, 'kan?" Seseorang yang pernah mengisi hari-harinya dengan penuh perjuangan. Penuh luka karena jatuh yang tidak terhitung jumlahnya. Dia masih sama, tampan. Akan tetapi, tidak dengan perasaan. Lelaki jangkung yang kini bergaya flamboyant itu tersenyum manis menatap Mika yang diam diserang kebisuan. "Hai, Le. Apa kabar?" Masih menganggapnya delusi. Seseorang yang tadinya berdiri di depan Mika dengan jarak satu meter, kini mendekat dengan langkah kaki panjangnya hingga menelan jarak di antara keduanya. Mika masih dejavu, sosok di depannya ini nyata atau hanya bayangan semata. Namun, seluruh pertanyaan yang menggantung dalam benak lenyap seketika tubuh tinggi tegap itu memeluknya dalam dekapan yang terasa hangat. Tubuh Mika seperti tersengat listrik, gadis itu membeku di tempat dengan ketidak percayaan yang masih mengisi benak. Aroma maskulin cowok itu masih sama. Dan sialnya, membuat Mika melayang kembali ke masa silam. "Kangen banget sama kamu." Lelaki itu berbisik tepat di telinga MIka. Hanya berselang beberapa saat, sampai kesadaran Mika pulih. Ia mendorong d**a bidang di depannya hingga lelaki tersebut mundur selangkah. Gadis itu masih menelan ludah di sana, menatap sosok di depannya dengan tenang. Eum ... lebih tepatnya mencoba untuk terlihat tenang. "Wah, kamu udah jadi Dokter beneran sekarang?" tanyanya mengacak rambut cokelat gelap Mika. Tapi, tak ada respon dari gadis itu. Meski tak jauh berbeda dari dengan dulu, lelaki dari masa lalunya itu tetap saja memiliki visual yang menawan. Hanya saja, ia terlihat lebih dewasa saat ini, dan ... terlalu banyak tersenyum kepada Mika. Padahal dulu, Mika harus berusaha mati-matian untuk membuatnya tertawa kecil. Wanita itu melengos menghindari tatapan Ridho. "Sepuluh tahun lebih nggak ketemu, kamu berubah banget sekarang." Ridho, lelaki yang dulu sempat ia jatuh dan cintai itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan yang dikenakan, tetapi sepasang matanya sedikit pun tak beralih dari sosok wanita manis di depannya itu. yah, meski tak mendapat balasan dari Mika. "Nggak lupa sama aku, 'kan?" lagi-lagi ia mengulangi dialog yang sama. Mika menggeleng tanpa mengalihkan pandangan dari lelaki jangkung tersebut. Tanpa sadar bibirnya berucap senada dengan gelengan kepala. "Nggak." Begitu jawab Mika. "Gimana caranya aku bisa lupa sama cowok b******k kayak kamu?" batinnya. "Kamu nggak pacaran, 'kan?" sambungnya bertanya lagi. "Nggak!" Mika menyahut cepat. Spontan kata itu ia ucapkan karena ia benar-benar masih terkejut dengan kedatangan lelaki flamboyan tersebut. "Baguslah, kalau gitu ayo kencan sama aku!" Lelaki tinggi itu kembali memangkas jarak, meraih pergelangan tangan wanita di depannya seraya menarik tangan Mika dalam gandengannya. Baru selangkah untuk beranjak, genggaman tangan itu terlepas secara tidak sengaja karena Mika yang memilih bertahan di tempat. Dengan pandangan kosong yang menyiratkan akan keterkejutan, lelaki itu menoleh menatap Mika yang masih menatapnya dalam kebisuan. "Aku ... nggak bisa." Wanita itu tak bergerak sedikit pun dari posisinya berdiri. Sedetik kemudian Mika berbalik arah, dan memilih untuk masuk kembali ke rumah sakit. Mengabaikan perut yang lapar untuk sementara, dan yang pasti untuk menghindar juga merenungkan. Seseorang yang memeluknya dalam waktu singkat tadi, nyata atau sebaliknya. Seseorang yang hadir membawa dejavu dalam sekedip mata. Mika harap semua itu tak nyata, karena sejujurnya ia tak pernah siap untuk kembali ke masa silam untuk menyelami luka lama. Sementara itu masih di depan pintu rumah sakit. Ridho masih diam membeku tepat di depan pintu utama. Dari balik pintu kaca ia bisa melihat wanita dari masa lalunya kini sudah dewasa. Ia bahkan lebih cantik dari yang Ridho bayangkan. Wanita yang dulu kerap mengisi hari-harinya dengan keceriaan. Wanita yang dulu adalah obat sekaligus penyemangat yang kerap ia abaikan. Wanita yang dulu pernah menjadi bayang-bayang di setiap berat langkah Ridho. Namun, kini semuanya telah berbeda. Meski hanya sekilas berbincang dan menatap gadis itu, Ridho jelas paham bahwa Mikalea yang ia kenal telah banyak berubah. Lelaki itu tersenyum samar, dalam lubuk hati Ridho berharap, semoga seluruh perubahan Mika tak pernah menyangkut serta tentang perasaan lama. Ridho memutar tubuh mendekati sebuah motor sport putih dan mengambil sebuah paper bag di sana. Sedetik ia amati benda di tangannya lalu mengembuskan napas pelan. Ia tak yakin akan kembali menemukan Mika dengan mudah. Karena itu ia memutuskan untuk menitipkan paper bag tersebut di bagian resepsionis. Pertama kali memasuki rumah sakit seperti biasa, aroma disenfektan menyambut indra penciumannya, lelaki itu menatap sekeliling. Beberapa oreng terlihat duduk di ruang tunggu, dan banyak perawat serta beberapa dokter yang sibuk mondar-mandir. "Permisi." Beberapa perawat juga dokter koas yang sedang merekap data di sana menoleh secara bersamaan menatap Ridho dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hal itu membuatnya cukup risih dipandang oleh beberapa perawat yang menatapnya kagum. Sampai berkali-kali ia menggosok pangkal hidung demi menghilangkan kegugupan. "Ya. Ada yang bisa kami bantu, Pak?" "Tolong, titip ini buat Dokter Lea," pinta Ridho sopan. "Dokter Lea?" Perawat tersebut menatap Ridho dengan ekspresi bingung. Sebab tak pernah mendengar nama yang baru saja disebutkan lelaki tampan itu. Dengan tanggap Ridho segera mengerti apa yang terjadi. Ia salah mengucap nama. Di sini tidak ada yang akrab dengan panggilan Lea, mereka mengenal gadis dari masa lalunya itu dengan sebutan Dokter Mika. Buru-buru Ridho menjelaskan. "Maksud saya, Dokter Mika," imbuhnya menciptakan seruan oh-oh-ria dari perawat tersebut. "Oh, Dokter Mika. Boleh," ucap perawat tersebut ramah, "kebetulan malam ini Dokter Mika sedang bertugas malam. Kalau Bapak mau bertemu, bisa saya tanyakan dulu." "Nggak usah, terima kasih. Saya titip aja," balas Ridho ramah. Begitu semuanya selesai, Ridho memutuskan untuk pergi dari rumah sakit. Mungkin besok ia akan mengunjungi rumah sakit ini lagi meski tidak memiliki sanak-saudara yang menjadi pasien di sana. Ridho akan kembali untuk memeriksakan kesehatan dirinya, terlebih tentang hati dan juga perasaannya. Juga tentang perempuan yang dulu pernah disia-siakan. *M i k a l e a* Dalam ruangan serba putih, Mika baru saja menanggalkan jubah kebesaran miliknya di sofa. Ia duduk dengan resah di kursi menatap komputer yang menyala. Menampakkan sebuah dokumentasi operasi DBS yang kerap ia pelajari hingga detik ini tak juga mengalihkan pikiran Mika atas kejadian barusan. Matanya fokus menatap layar komputer. Namun, pikirannya melayang ke negeri utopia. Mika menggigit ibu jarinya resah, sedetik kemudian menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan yang berada di atas meja. "Sialan, Sialan, sialan! Cowok sialan!" umpatnya mengetuk meja berulang kali. "Kok dia masih hidup, sih?" Detak jarum jam berirama normal, seperti gendang yang ditabu membuat Mika semakin tidak karuan. Jantungnya berdegub abnormal. Ia lapar, tetapi selera makannya telah hilang seketika saat seseorang datang dengan kurang ajar, tanpa permisi memeluknya dengan wajah tanpa dosa dan tanpa aba-aba. Ridho ini sebenarnya sinting atau sudah hilang akal? Atau memang sengaja ingin membuatnya terlihat bodoh seperti dulu? Pikiran Mika berkemelut gundah. Gadis itu menghela napas panjang sambil memenangkan mata. "Ya Allah!" ucap Mika cukup keras. Meraup wajah lelah sekaligus kesal. Merutuki dirinya sendiri mengapa tadi ia harus macam-macam ingin mencari makan di luar kantin. Coba saja tadi Mika tak banyak bertingkat dan makan di kantin seperti biasa, ia pasti tak akan bertemu dengan sosok Ridho, 'kan? Untungnya, ia bisa mengontrol diri di depan Ridho. Sudah sekian lama tidak bersua, Mika berharap Ridho tidak pernah hadir lagi dalam hidupnya. Dengan segala kesibukan yang ia punya, Mika berusaha lupa dan melupakan. Akan tetapi, sedikit waktu yang tidak lama barusan. Sedetik tatapan yang saling bertemu, dua detik keterkejutan saat saling berhadapan, tiga, empat, lima detik untuk lebih mendekat. Dan sekejap pelukan yang nyatanya masih membuat degup jantungnya tak karuan. Dengan santainya Ridho hadir begitu saja. Mika pun mengokohkan pendiriannya, ia tidak akan jatuh hanya karena lelaki tidak berperasaan yang hadir tiba-tiba. Tidak akan. "Nggak, " bisik MIka, "dia itu cuma masa lalu." *M i k a l e a* B E R S A M B U N G! Terima kasih sudah baca! ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD