3. Sekejap Nyata

2556 Words
Happy reading! Oops, dont forget to tap love gais *^^ *M i k a l e a* "Astaga! Mika, jawab pertanyaanku. Semalam kamu kencan sama siapa?" Kini Reza hampir menangis karena belum mendapat pencerahan dari Mika. Sebab pagi tadi ia mendapati kabar bahwa Mika bertemu dengan seorang lelaki semalam. Dan bahkan mendapatkan bingkisan. Demi apapun Reza tak akan bisa tenang sebelum Mika sendiri yang menjelaskan hal itu kepadanya. Sekali lagi Mika memutar bola mata malas. Lelaki yang tingginya tidak berbeda jauh dengannya itu terus merengek memohon agar Mika menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting sama-sekali. Mika mengangkat ponselnya yang berdering meneriakkan ringtone cukup keras, tetapi Reza menahan tangannya agar diam di tempat. Untuk sesaat terjadilah perang lempar tatapan tajam. Sampai pada akhirnya Reza mendengus kalah. "Jangan kekanak-kanakan, Za," tegas MIka. Setelah tangan Reza berhenti menghalanginya, Mika mengangkat panggilan dari Yoga. "Seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun jatuh di sekolah. Pupil kanannya melebar empat mili meter, dan ... responnya lambat, Dok." "Aku ke sana sekarang," balas Mika cepat lalu memasukkan ponsel ke dalam saku jubah putih. Mika keluar dari ruangannya sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Sesekali ia melemparkan senyum pada beberapa perawat yang lewat dan menyapanya di sepanjang koridor. "Kamu hutang penjelasan sama aku." Reza berbisik, ia bahkan tak tau entah sejak kapan lelaki itu sudah membuntuti di belakangnya. Lelaki itu berjalan lebih dulu meninggalkan Mika yang tetap setia dengan langkah lebarnya. Sepatu sneakers putih itu berdecit saat beradu dengan lantai keramik yang bersih. "Udah ambil CT Scan?" saat Mika memasuki ruang IGD dibarengi oleh Yoga yang membawa papan d**a. Yoga yang membuntuti dari belakang mengangguk. Mengamati Mika yang kembali memeriksa mata pasien juga respon motoriknya yang lamban. "Sudah, Dok." Mika mengangguk mengerti, wanita itu memasukkan tangannya ke dalam saku jas putih sambil mengamati layar yang memonitor kondisi vital korban. "Tapi, ada masalah lain, Dok," ucap Yoga yang membuat Mika menoleh segera ke arah pemuda itu. "Kantung putrinya pecah."  Mika menatap Yoga tak percaya, tetapi cowok berjas serupa dengannya itu juga mengangguk memastikan bahwa pemeriksaannya tak keliru. "Ah, ini bakalan jadi operasi yang ribet," gumam Mika melirik jam yang melingkar di tangan. "Udah dapat persetujuan operasi dari wali pasien?" sambung Mika bertanya lagi. "Sudah, Dok. Surat persetujuannya juga sudah ditanda tangani." "Bagus kalau gitu." Mika mengangguk. Sejenak ia amati pasien tersebut dalam diam. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku lalu keluar dari sana masih di buntuti oleh Yoga. "Ruang Operasi, udah siap?" tanya Mika pada Yoga. "Sudah siap, Dok!" Mika tersenyum menatap koas tahun pertama yang sering sekali membuntutinya itu. Ia menatap Yoga dengan bangga, sebelum kemudian melayangkan sebuah tepukan ringan di pundak dokter muda itu. seringkali melihat Yoga dan para koas di rumah sakit juga  membuat Mika kembali mengingat bagaimana dirinya dulu saat pertama kali magang di rumah sakit yang ia idamkan ini. Karena untuk berada di posisinya sekarang in bukan perkara yang mudah bagi seorang Mikalea Alibra. terlebih setelah wanita itu kehilangan satu-satunya orang paling berharga di hidup. "Kerja bagus, Ga! Beberapa tahun lagi, kamu akan jadi dokter paling hebat di sini." Wanita itu melontarkan sebuah pujian yang membuat Yoga tersenyum malu. Jujur saja, bagi Yoga pujian dari Mika membuat cowok itu lebih bersemangat lagi. karena sejak pertama kali ia masuk ke rumah sakit ini, ia sudah melihat seberapa keren Mika saat menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. *M i k a l e a* Di ruang tunggu, tidak jauh dari meja resepsionis. Seorang lelaki duduk melipat sebelah kaki dan menumpukan pada sebelah kakinya. Ia mengamati beberapa orang yang lalu-lalang. Lalu menghampiri seorang perawat yang baru saja datang menghampiri meja resepsionis. Dia adalah perawat yang semalam ia titipi paper bag untuk Mika. "Permisi," ucap Ridho sopan. "Astaga! Kamu ngagetin saya, Pak." Perawat itu buru-buru mengambil bolpoinnya yang jatuh dan kembali mengisi data statistik pasien untuk segera disetorkan kepada dokter yang bertanggung jawab.  "Semalam kamu sampaikan titipan saya buat Dokter Mika?" Perawat itu mengangguk cepat, menciptakan lekukan tipis di bibir Ridho. "Tapi, saya yang minum. Temanku yang makan biskuitnya," sambungnya membuat senyum di bibir Ridho lenyap seketika. Dahinya dipenuhi kerutan bingung menatap perawat tersebut penuh tanda tanya. "Lah, kok?" "Dokter Mika bilang, dia udah makan dan nggak suka teh hijau." Meski sejujurnya Ridho sendiri nggak ngerti dengan ucapan perawat tersebut. Ia hanya mengangguk seolah-olah paham. Matanya tertancap pada paper bag yang sengaja ia bawa untuk diberikan lagi pada Mika. Padahal dulu Lea sangat menyukai segala makanan dan minuman yang berbau teh hijau. Mungkin Ridho melupakan satu hal bahwa Mika bukan lagi Lea yang dulu. Karena segalanya telah banyak berubah, setelah lama tidak saling bertemu. "Bisa saya ketemu dengannya?" Ridho bertanya pada perawat tadi yang sedang mencoret-coret selembar kertas yang tidak ia mengerti. "Nggak bisa, Mas. Dokter Mika sedang melakukan operasi," jawab perawat tersebut menatap Ridho sesaat. Sebelum kemudian berbalik pergi dan setengah berlari meninggalkan meja resepsionis dan juga Ridho yang masih mematung di sana.  Ridho mengangguk mengerti. Ia memutuskan untuk melakukan hal paling melelahkan dan membosankan di dunia ini. Menunggu. "Mas ini pacarnya Dokter Mika?" tanya seorang dokter lelaki bertubuh kecil. Hal itu sontak membuat Ridho mengulum senyum. Lelaki tinggi itu kembali ke tempat duduknya sambil memainkan ponsel di tangan. Berharap waktu cepat berlalu, agar ia segera bertemu dengan Mikalea. *M i k a l e a* Begitu keluar dari ruang operasi ia disambut dengan tepukan tangan yang justru membuatnya melotot. Tanpa memedulikan pelototan dari Mika, Reza justru merangkul bahu Mika dengan akrab lalu menggiringnya entah ke mana. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu memang seperti itu. "Kamu gila? Di sini ada banyak orang!" desis Mika melepaskan rangkulan tersebut. Tangannya yang lain sibuk melepaskan masker yang ia pakau selama di ruang operasi tadi. Wanita itu nyelonong pergi lebih dulu. Padahal niat Reza barusan adalah untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan operasi aneurisma serebal yang rumit karena kantung putrinya pecah. Namun, perempuan itu meninggalkannya lagi untuk yang kesekian kalinya. "Abis ini mau ngapain?" Reza membuntuti. "Ngecek pasien rawat jalan, pulang." "Aku anterin, ya?" "Emang kamu nggak punya pasien yang harus dipantau kondisinya?" Mika bertanya heran seraya memijat tengkuk yang terasa berat. "Punya, udah diurus sama Yoga."  Mika menautkan alis menatap Reza yang berjalan mundur sambil memasukkan Kedua tangannya dalam saku celana bahan. "Sejak kapan Yoga mengambil alih pasien kamu?" "Sejak satu jam yang lalu." Lelaki itu menjawab enteng sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. membuat Mika terkekeh kecil sambil melakukan pelemasan leher. "Sebelum pulang, kita makan dulu, oke?" Langkah Mika berhenti sebentar. Ia mengamati Reza yang tidak pernah lelah memintanya untuk makan bersama. Lelaki yang memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Seperti apa yang dulu pernah ia lakukan untuk lelaki berengsek. Seseorang yang membuatnya terlihat menjadi begitu rendah, bahkan seperti w************n yang mengemis cinta seorang pangeran. Mika selalu mengingatnya, terlebih ketika melihat Reza yang mati-matian berusaha mendapatkan hatinya. Entah takdir apa yang sedang ia jalani mulai hari ini. Semalam bahkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, lelaki itu datang menghampirinya dengan senyum ibarat madu di tangan kanan. Bahkan Mika merasakan pelukan hangat yang dulu pernah ia dapatkan dalam sesaat. Sialnya, lelaki itu masih saja sama. Terlalu memesona untuk dilupakan. Yang tersulit adalah pasal hati, karena ia tidak pernah bisa untuk dibohongi. "Oke, oke. Aku tau pasti nggak sekarang, 'kan?" ucap Reza tersenyum ringan. "Aku kuat nungguin kamu, Mi. Asal kamu nggak jadian sama laki-laki lain," imbuh Reza mengacak pelan rambut Mika. "Za?" panggil Mika. "Hm." "Profesor Reza?" panggil Mika lebih lengkap. Gadis itu melipat tangannya di depan d**a memerhatikan Reza dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dengan gelar profesor di usianya yang terbilang masih muda, mengapa lelaki itu membuang waktu hanya untuk menunggunya. "Jangan dilanjutin. Perasaanku nggak enak." "Kamu sadar nggak, kalau kamu itu ganteng dan pinter?" "Aku tahu, Mi. Jadi, tolong jangan dilanjutin. Biarin aku berjuang sampai capek buat dapetin kamu. Yang perlu kamu lakukan, cuma berusaha membuka hati buat lelaki tampan dan mapan kayak aku," kata Reza panjang lebar. Mika diam menurut untuk tidak melanjutkan ucapanya. Pada akhirnya Reza lah yang kini berjalan lebih dulu menggenggam tangan Mika. Beberapa staf rumah sakit juga sudah tau hubungan spesial yang terjalin di antara keduanya. Tunggu, maksud hubungan spesial di sini adalah, sebuah hubungan tanpa status. Kedua dokter itu berjalan untuk segera pergi. Sementara itu di ruang tunggu Ridho mulai jengah. Ini baru penantian waktu yang masih berupa jam. Belum memasuki hari, minggu, bulan, bahkan tahun seperti yang dulu Mikalea lakukan. Lelaki itu mengatupkan rahangnya kuat karena kesal. Ia yakin sesuatu dalam paper bag itu tidak akan seperti pertama ia membawanya. "Dokter Mika masih lama?" Perawat itu tampak melirik arloji yang melingkari tangannya. "Harusnya, sih udah selesai," jawabnya sopan. "Kalau gitu di mana ruangannya?" Ridho bertanya tidak sabaran. Perawat itu baru saja akan menjelaskan ke mana Ridho harus pergi menyusuri lorong rumah sakit. Tetapi, seseorang yang sejak tadi dibicarakan sudah muncul dari balik kelokan tertawa bersama seorang lelaki. "Itu dia!" Lelaki tinggi yang mengenakan jaket parasut berwarna khaki itu mengikuti arah telunjuk si perawat. Entah siapa seseorang yang berjalan di sebelah Mika, nyatanya itu menghantam telak tepat di d**a. Ridho seperti terpental ke ujung dunia, ini kah akhir dari pencarian panjangnya? Tepat ketika jarak di antara Mika dan meja resepsionis tinggal satu meter wanita itu berhenti. Tawanya juga mendadak reda. Menciptakan pandangan tanya dari Reza yang berdiri di sebelahnya. Kedua pasang mata itu saling mengunci. Yang lama tidak saling bertemu. Yang lama ditelan lekang waktu. Yang lama untuk menunggu. Yang lama menciptakan rindu. Lewat sepersekian detik kemudian, setelah lama bungkam karena tenggelam dalam dejavu. Lelaki itu maju dua langkah menelan jarak dengan kaki jerapahnya. "Hai ... Lea!" Sapaan itu terucap kembali dengan intonasi yang sama seperti semalam. Kebungkaman itu menelan suara riuh yang terjadi di sekitar. Bahkan kedua pasang mata itu saling menatap tepat pada manik masing-masing. Mengaburkan objek lain yang berada di sekeliling. Lewat tatapan mata itu, mengantarkan keduanya pada dejavu. *M i k a l e a* Sepasang mata cokelat karamel masih enggan menatapnya. Meskipun keduanya telah memesan makanan tapi salah satu dari mereka tak sedikit pun menyentuhnya. Bukan keduanya yang memesan, tapi salah seorang dari mereka. Satu porsi salad buah telah ludes oleh Ridho. Sedangkan di hadapannya perempuan cantik berambut sebahu itu hanya diam membaca buku setebal kamus bahasa Inggris. Makanan di hadapannya juga tidak tersentuh sama sekali, begitu pun halnya dengan minuman dalam gelas sterofoam. Saat itu lelaki tinggi berkemeja putih yang digulung sebatas siku melipat kedua tangan di atas meja. Iris hitamnya menelisik perempuan tersebut tanpa menemukan setitik kecacatan di wajah ayu Mikalea. Ia benar-benar telah telah tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Ridho ingat dulu selalu ada sebuah jerawat yang menghiasi jidat, terkadang juga di pangkal hidung. Rasanya Ridho teramat sangat menyesal pernah menyakiti perempuan secantik itu. Ahsyu, kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Kalau di awal itu namanya pembukaan bodoh! Jawab iblis jahat memukul kepala Ridho dengan pentungannya. Lelaki itu tersenyum lebar menatap Lea, eum ... ralat Mika. "Kamu beda, ya sekarang?" ucap Ridho memecah keheningan. Mikalea menutup buku bacaannya, lalu menatap Ridho yang melakukan hal sama. Sepuluh tahun tidak bertemu, kenangan itu tidak juga terbunuh oleh kesibukan. Tetapi, yang ingin Mika tanyakan adalah mengapa lelaki itu tiba-tiba datang. Ketika hatinya hampir saja tergenggam oleh seseorang. "Katanya ada yang mau diomongin. Ada apa?" tanya Mika langsung. Sejujurnya, bukan karena ingin jual mahal. Selain itu ada hal yang tidak bisa ditahan oleh Mika, ia sudah benar-benar mengantuk karena semalam ia begadang di rumah sakit. Pasien yang ia operasi berkali-kali kejang juga mendadak pingsan karena efek operasi besar yang ia lakukan. Karena hal itu Mika harus terus memantau pasiennya. "Santai, Le. Anggap aja kita reunian cuma berdua." "Langsung ke inti, aja. Nggak usah basa-basi." Ia mengalihkan pandangan pada ponselnya di meja yang menyala. Satu lagi panggilan dari Reza setelah yang kesepuluh kali ia abaikan. "Ini murni karena kita lama nggak ketemu. Karena itu mulai sekarang, kita harus sering-sering ketemuan," kata Ridho menyeringai. Mika yang bergerak untuk merejec panggilan itu terhenti. Sekilas ia menatap lelaki yang membuat ia seperti orang gila dulunya. "Dia siapa, sih? Penguntit, ya? Dari tadi gangguin, aja." Mika melirik Ridho sejenak sebelum ia memasukkan ponsel ke dalam tas. Wanita itu tersenyum tipis, lalu mengambil bukunya yang berada di atas meja. "Kalau nggak ada yang penting, aku pulang sekarang." Tepat saat Mika beranjak dari kursinya, tangan Ridho dengan cepat menahan lengan wanita itu agar tetap di sana.  "Kita saling kenal, kok. Nyatanya dulu kamu tau segalanya tentang aku, Lea." Mika tertawa kecil menatap lelaki di depannya tidak percaya. Sedetik kemudian ia menghempaskan cekalan tangan Ridho. "Lucu ya, kamu?" kekeh Mika, "ini mungkin kedengaran jahat, tapi aku suka sama kondisi kita yang sekarang." wanita itu berdiri dari kursi. Menyampirkan tas selempang pada salah satu pundak dan tak melupakan buku bacaannya "Kayak dua orang yang nggak saling kenal." Satu kalimat panjang dari Mika mengakhiri pertemuan pagi menjelang siang di mini kafe bertema out door tersebut. Mika beranjak pergi dan mencegat sebuah taksi untuk mengantarkannya pulang. Ridho tertawa pelan menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Matanya masih memaku taksi yang semakin menjauh membawa wanita itu pergi. Lelaki itu tertawa renyah sambil melahap salad milik Mika yang masih utuh. Pahamilah, lelaki itu baru sadar seperti apa rasanya dicampakan. Eh, bukankah dulu dirinya sendiri yang ingin mengejar dan menjadi pemburu? "Bener, Le. Jangan biarin aku memperlakukanmu seperti tisu lagi. Sekarang, biar aku yang berjuang untuk hatimu." *M i k a l e a* "Gila, Man! Cantik bener. Serius lo pernah ditaksir sama cewek ini?" Suara histeria itu tercipta dari lelaki berambut cepak yang mengenakan kemeja warna biru dongker. Matanya masih menatap foto wanita cantik dengan jubah putih yang tersenyum sambil mengangkat kedua jari membentuk huruf V. Dialah Antasena, alias Sena. Seorang anak pengusaha kaya yang kini menggantikan posisi bapaknya di kantor. Hobinya mainin cewek, tiap malam nongkrong di bar. "Iya." Ridho menjawab singkat. "Nyesel nggak lo pernah patahin hati, tuh cewek?" tanya Sena membanting tubuh ke atas kasur di dekat Ridho yang bersandar memainkan tablet. "Kalau nggak nyesel, ngapain juga gue ke sini? Malam-malam datang ke Rumah Sakit cuma buat nganter makanan, taunya yang nelen malah orang lain. Kurang anjaaay gimana coba?" Ridho membanting tab yang sejak tadi ia pegang di atas kasur. Ia ikut merebahkan diri sambil mereemmaas rambutnya yang memanjang. "Terus masih mau lo kejar?" Sena bertanya masih mengamati foto Mika yang di dapat dari google. "Kenapa? Mau lo embat juga? Jangan macem-macem ya, Sen?!" "Boleh tuh ide lo. Lagian dia cantik meskipun nggak seemmok." "Mulut lo kelewat vulllgar beggo!" umpat Ridho. Cowok itu meraih bantal di bawah kepala lalu memukul Sena dengan kuat berkali-kali. Sehingga lelaki berambut cepak itu tertawa ngakak melihat kekesalan di wajah Ridho. Satu tahun berteman dengan lelaki yang memiliki gen jerapah itu di Surabaya, membuat Sena memiliki hobi untuk selalu mengusili Ridho. Ridho sendiri tidak kaget dengan ucapan Sena yang cenderung mengarah pada hal-hal berbau inttiim dalam suatu hubungan. Lelaki cengegesan itu memang tidak pernah bosan untuk bergonta-ganti pasangan setiap malam. Makannya Ridho bersiap melemparkan parang atau setidaknya kaki panjangnya jika Sena berani mendekati Mikalea-nya. Tunggu ... memangnya sejak kapan Mika menjadi miliknya? - B E R S A M B U N G- Glodak :v Stori baru lagi? Yang lama aja nggak kelar-kelar woy! Nggak apa-apa. Prinsipku kalem tapi pasti. Terlalu sayang gais kalau ide ditulis nggak dipublis, kelamaan semedi di draft juga nggak baik. Yang ada jadi rumah Spiderman. Apasih_-) maksudku, kalau nggak buru-buru ditulis dan dipublis watakku pasti idenya malah hilang. Jadi, buat yang berkenan silahkan baca. Yang nggak suka, boleh dihujat ramai-ramai. Hujat kuy! Wa-ka-ka!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD