4. Kesempatan di Tengah Tawuran

1460 Words
Jangan lupa tekan love! *^^ Happy reading .... * M i k a l e a* Karena cinta kadang luka pun rasanya jadi sakit-sakit indah. Logikanya, mana ada rasa sakit yang indah? Sakit, ya sakit aja! Tapi, kenyataannya Mikalea sudah sering mengalami yang namanya sakit-sakit indah karena cinta. Bahkan setelah banyaknya rasa sakit yang ia terima, cinta yang berusaha ia enyahkan dari hati juga pikiran tak kunjung hilang nan padam. Dokter cantik yang kini begitu populer di kalangan ahli bedah syaraf itu nyatanya memiliki kenangan yang buruk tentang percintaan. Tepatnya sepuluh tahun yang lalu .... *M i k a l e a* Gadis kelas dua SMA yang rambutnya dicepol asal itu masih menggerutu. Mengumpat, bahkan hampir saja menendang vespa kuning kesayangannya. Ini adalah kali ketiga vespa pemberian mendiang ayah mogok di waktu yang menyebalkan. Siang hari saat pulang sekolah, di mana matahari bersinar dengan sangat terik. "SERANG!" Mikalea melotot mendengar teriakan super kencang dari tikungan depan dekat warung Mak Nyah. Segerombolan siswa dari SMA sebelah berlarian dengan wajah sangar membawa pentungan berupa balok kayu dan pipa besi. Wait, tunggu ... nggak cuma itu, ia juga melihat kantung kresek hitam yang sudah pasti berisi bom molotov alias batu. Mika panik setengah mampus, seketika ia mundur memutar balik vespa kuning dan memutuskan untuk kembali ke sekolah karena jaraknya belum terlalu jauh. Namun, kerutan di dahi tanda takut itu semakin terlihat jelas ketika pentolan dari sekolahannya sendiri sudah berlari membawa serta pasukan tawuran. Gadis itu berteriak sambil menuntun vespa kuning ke tepian jalan. Menurunkan standar motor di balik semak-semak yang ia yakin, tidak akan menyelamatkannya dari serangan udara. Gadis yang kerap di sapa Lea itu menunduk di balik semak, berusaha membuat dirinya semakin tak terlihat meskipun ia sangat tahu bahwa di tempat persembunyiannya itu adalah tempat paling strategis untuk membidik lawan. Paham bahwa keadaan semakin genting. Lea memasang helm bogo kuning di kepalanya, mengaitkan pengait helm agar aman, lalu menurunkan kaca helm yang melembung ke depan tersebut. Gadis itu berdiri mengangkat senjata yang ia dapat dari rerimbunan semak tipis lalu berteriak. "Hyaaa!" Duk! "Wuaaa, tolong!" teriak Lea menunduk memegangi kepala yang dibalut helm ketika sebuah batu berukuran sedang berhasil memecahkan sebelah kaca spionnya. Ia menjatuhkan senjata di tangan kanan, berupa ranting kering yang seketika patah saat menyentuh tanah. Tubuhnya menggigil ketakutan. Mata terpejam erat sementara keringat sudah membasahi pelipisnya. Bibirnya berkomat-kamit memanggil mama, Kila atau Leo, atau siapa pun yang bisa menyelamatkannya saat ini. "Woi, ada cewek dari SMA sebelah!" teriak salah satu dari kerumunan itu. Spontan Lea menegang di sana. Gadis itu menjerit seketika saat merasakan pundaknya disentuh oleh entah siapa. "Lepasin banggsaaat!" Saat itu juga seorang cowok berkulit hitam yang menyentuhnya tersungkur ke depan, membuat Mika kembali berteriak histeris di balik kericuhan. Namun, saat itu juga ia mendengar suara yang amat familiar di telinga. Seketika ia menoleh. "Ngapain lo di sini? Cari mati?!" teriak seseorang yang Lea terkejut, sekaligus merasa kembali aman melihat seseorang yang familier berdiri di hadapannya. Lea tidak bergeming, seseorang yang berdiri sambil memegang balok kayu itu melemparkan senjatanya ke semak-semak tepat di depan Lea. Sedetik kemudian Lea merasakan tangannya di tarik paksa. Tanpa melihat, Lea mengikuti langkahnya cepat, namun ia sempat menyambar satu lagi helm kuning yang berada di atas motor. Lelaki tinggi itu menarik tangan Lea yang berada dalam genggaman erat, melewati hujan batu dan teriakan yang membakar semangat. Saat itu juga Lea setengah melompat demi memasangkan helm kuning yang serupa dengannya di kepala cowok tinggi penyelamatnya tersebut. Seseorang yang membuatnya jatuh dan cinta. Menanti dan menunggu selama hampir dua tahun. Dia Ridho, cowok kelas XI-IPA-3 "Jangan songong ya lo?!" teriaknya menatap Lea galak. Lea mengkerut, menatap cowok jangkung yang memiliki gen jerapah tersebut dengan lirikan. "Biar aman, Kak," balas Lea setengah takut. Ridho mendengus kesal, bagaimana bisa si kuning ini terjebak di tengah-tengah tawuran panas seperti ini. Sebetulnya ia bukan tipikal cowok dingin dan kasar seperti pada kebanyakan karakter bad boy dalam suatu kisah. Tapi, berhubung situasi dengan sangat panas ditambah adanya seorang cewek bodoh yang terjebak tawuran. Emosinya lepas begitu saja. "Lain kali kalau cari mati jangan di depan mata gue!" ucap Ridho lagi sambil memegangi helm kuning. "Aku suka kamu, Kak!" ucap Lea gamblang. Ridho melongo tak percaya. Mendengar ucapan seperti tadi dari adik kelas itu sudah biasa ia alami. Namun, jika dalam situasi seperti ini ... Ridho pikir gadis di depannya itu mengalami gangguan otak. Ridho yakin pasti sebuah batu besar sudah mendarat di kepala Lea barusan. "Ngomong apa sih lo? Nggak tau bahaya apa?" Baru saja ia berpikir untuk melepaskan helm tersebut, sebuah batu mendarat di kepalanya. Ridho sampai menunduk karena kerasnya lemparan batu, untung saja helm kuning itu melindungi kepalanya. Lea mengulum senyum melihat ekspresi kaget Ridho. Sedangkan Ridho yang tadinya berniat untuk melepaskan helm tersebut, kini memasang pengait helm bahkan turut serta menurunkan kaca melembung ke depan itu persis seperti Lea. "Apa pun yang terjadi, jangan lepasin gue! Pegang baju gue," perintah Ridho mulai tenang. Lea mengangguk patuh seolah ia mematuhi ucapan Ridho hanya agar selamat dari area berbahaya itu. Padahal di dalam hati ia berteriak girang membayangkan bahwa Ridho mengatakan hal tersebut karena murni menyukainya. Jika saja ia berada di kamar, mungkin Lea sudah loncat-loncatan di atas kasur hingga ibu atau Leo menegurnya dengan keras. "Nggak akan, Kak!" Jawaban itu hanya bisa di dengar oleh Lea yang bergumam kecil dalam hati. Kini rasa takut karena terjebak di tengah tawuran lenyap sudah karena Ridho telah menyelamatkannya. Di tengah riuhnya suara teriakan saling serang dan balok kayu yang di angkat tinggi ke atas. Lea berkhayal bahwa ia sedang berada di tengah-tengah konser JKT-48 sambil membayangkan balok-balok kayu tersebut adalah light stick. Di tengah uforia konser tersebut ia menyatakan cinta pada Ridho dan kebahagiaan jelas memeluknya ketika Ridho membalas perasaannya. Dalam lamunan indah yang berkelana dalam dunia khayal Lea, ia berjengit mundur selangkah karena terdorong tubuh seseorang. Tanpa sengaja tangannya terlepas dari tangan Ridho. "Pegang seragam gue!" perintah Ridho melawan seorang siswa dari SMA musuh sambil melayangkan bogem-bogem keras. Lea meringis ngilu, namun tetap mengikuti intruksi Ridho. Ia memeluk pinggang cowok itu dengan erat. Tak ayal membuat Ridho tersentak kaget dengan tindakan bodoh si kuning. Ia meminta cewek yang tidak ia ketahui namanya itu untuk berpegangan pada seragam agar ia bisa melawan musuh tanpa harus gagal menyelamatkannya. Akan tetapi, bodohnya gadis itu justru memeluknya. Alhasil satu tinjuan mendarat sempurna di perut Ridho. Karena mengincar wajah Ridho pun percuma, cowok itu telah menutupi wajah rupawannya dengan helm milik Lea. "I LOVE YOU KAK RIDHO! I LOVE YOU!" Teriakan keras dari seorang Mikalea yang terredam oleh teriakan para peserta tawuran itu jelas tidak merubah keadaan. Tidak membuat tawuran tersebut berhenti atau bahkan membuat semangat Ridho terbakar untuk mengalahkan seorang musuh berkulit hitam selegam p****t penggorengan Mang Asep di kantin sekolah. Lea hanya takut jika nanti ia tidak selamat, ia belum mengungkapkan perasaannya pada seseorang yang ia sukai. "Pegang bukan peluk, woy!" ucap Ridho gemas. Tanpa berniat untuk menyerang lagi. Ridho menarik tangan Lea cepat, menghindari setiap serangan yang tertuju tak tentu arah. Sesekali ia menendang seseorang yang menghalangi jalan dengan kaki panjangnya. Sekitar sepuluh menit, setelah bersusah payah mencari celah untuk keluar dari area pertempuran. Kini kedua insan yang memakai helm bogo kuning itu sudah berdiri di dekat warung Mak Nyah, yang lokasinya tidak begitu jauh, tetapi sangat aman untuk bersembunyi. Ridho tampak melepaskan helm milik Lea dan menyerahkannya pada gadis itu. "Makasih," ucap cowok yang memiliki tinggi badan over itu. Lea menerima helm tersebut sambil tersenyum. Ia menaikkan kaca helm kuningnya lalu mendongak menatap Ridho yang kini berkacak pinggang menatap area tawuran yang masih ramai. Saat itulah Lea menyadari cowok idamannya terluka. Lengan kanan Ridho berdarah, seperti luka sayatan kecil. Ia buru-buru mengambil plester luka di saku seragam dan menempelkannya di tangan Ridho yang berdarah. "Aku yang makasih, Kak," ucap Lea sambil menekan pelan plester tersebut agar melekat sempurna. "Sama-sama." Ridho menoleh sebentar menatap Lea. Kemudian melirik lengannya yang baru saja diobati oleh Lea. "Lain kali jangan ngumpanin diri buat di lempar batu," imbuh cowok jangkung itu sambil berlari menjauhi Lea untuk kembali ke area pertempuran demi membantu kawan-kawannya. "Kak Ridho! Jangan lupa, aku suka sama Kakak! Jangan sampai kepalamu kena batu!" teriak Lea melambai-lambaikan tangan. Lea menatap punggung tegap yang berlari menjauhinya dengan senyum manis. Helm kuning dalam pelukannya ia dekap erat. Ini adalah kejadian terindah saat terjebak di tengah gentingnya tawuran. Haruskah besok atau lusa Lea kembali meringkuk di balik semak-semak agar bisa menatap Ridho lebih dekat?  Gadis itu menggeleng dengan senyum bodoh saat ide konyol itu melintasi kepalanya. Lea memutuskan untuk segera pulang karena ia yakin kepulangannya yang terlambat ini pasti akan mendapatkan omelan dari sang ibu. "Mampus, motorku!" ucap Lea menepuk jidat kala teringat vespa kuning yang masih terjebak di sana. *M i k a l e a* B E R S A M B U N G!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD