Pada Akhirnya, Mas Tayoga

1033 Words
Aku berdiri di tempat yang sama, seperti kemarin ketika jantungku terasa tertusuk ribuan belati. Sakit sekali hingga membuatku tidak percaya diri. Tetapi, untuk kali ini aku siap dengan semua yang akan aku lihat apabila tetap sama seperti kemarin. Perkuliahan berakhir dua jam yang lalu. Aku tidak langsung pulang karena masih ada urusan di tempat ini, memandangi lapangan parkir sejak tadi dengan satu titik fokus pada sebuah motor yang sangat mencolok di antara motor-motor yang lain, walau warna dan modelnya sama, tetapi motor Jujung tetap saja bisa aku kenali. Ada yang ingin aku sampaikan pada laki-laki itu. Ada sebuah rasa yang mengganjal selain rasa sayangku padanya, yaitu sebuah pikiran yang tepat turun dan bersandar di otakku sesaat setelah Amelia memberikan pencerahannya, membuatku cukup berani untuk menemui Jujung. Ah, saat ini aku memang berniat untuk menemuinya dan sudah membulatkan tekad untuk bisa mengobrol dengannya. Tapi lihat nanti saja, semoga ketika Jujung muncul, aku tetap bisa melaksanakan apa yang sudah aku pikirkan sejam beberapa jam yang lalu. Ditambah aku yang tadi sempat melihat Della sudah pulang dengan taksi online, jadi aku tidak akan ragu lagi, karena sudah pasti saat ini Jujung akan pulang sendirian tanpa berbarengan dengan Della. Membuatku semakin percaya diri, kalau aku harus benar-benar mengungkapkan ini. Sudah beberapa menit aku berdiri sendiria menunggu kemunculan Jujung dari sini. Saat ini sudah sangat sore. Aku juga terkejut, ternyata sudah hampir pukul lima padahal matahari masih bersinar dengan terang. Ketika aku mengecek jam di ponsel, baru lah aku sadar jika bukan lagi pukul empat. Berbeda sekali dengan kemarin, ketika aku berdiri di sini langit sangat mendung yang sangat cocok sekali dengan keadaanku kala itu. Namun sekarang, kontras dengan hari ini, aku berharap juga aku akan tetap baik-baik saja. "Tika." Namaku dipanggil oleh suara yang sangat familiar. Seseorang berdiri tepat di sampingku, membuatku menoleh dan laki-laki itu menatap lurus ke depan, pada tempat parkir seperti tatapanku tadi. Siapa lagi kalau bukan Mas Tayoga. Aku kadang heran, laki-laki itu bisa kapan pun muncul. Entah di saat aku membutuhkannya, atau di saat sebenarnya aku tidak butuh kehadiran dirinya seperti saat ini. Aku juga heran, mengapa jam segini Mas Tagoya masih ada di kampus. Jika ia baru selesai kelas, apakah bukannya lebih baik segera pulang dan mengurus kedai thai teanya? Mengingat sore hari akan cukup ramai orang-orang yang membeli minumannya itu. Ah, mengapa aku jadi seperti ini? Mengapa aku terkesan tidak suka dengan kehadiran Mas Tayoga di sampingku? Padahal jelas-jelas dia lah yang selalu membantuku kapan pun dan di mana pun ketika aku ada masalah. Memang kalau dipikir-pikir, Mas Tayoga itu teman yang selalu membantu. Yang sudah seperti diciptakan untuk tak pernah jauh dariku. Aku pun membalas kedatangan Mas Tayoga dengan senyum setelah beberapa detik hanya diam memandanginya. Mas Tayoga menoleh menatapku, membalas senyumanku. "Kok di sini lagi? Enggak pulang?" tanyanya. Walau hanya bertanya seperti itu, tetapi aku bisa memahami maksudnya. Yaitu sebuah pertanyaan apakah aku tidak kapok berada di sini setelah kemarin aku berhasil dibuat menangis karena melihat Jujung dan Della yang pulang bersama. Dan sekarang pasti Mas Tayoga bingung, mengapa aku tidak kapok dan malah ada di sini untuk kedua kalinya. Tidak tahu saja, Della sudah pulang. Jadi tidak ada alasan untukku menangis hari ini. "Nunggu siapa?" tanya Mas Tayoga lagi. Otomatis aku menggeleng, padahal aku sedang menunggu Jujung. "Nggak pulang?" Dirasa-rasa, Mas Tayoga memang seperti kakakku. Dia selalu bertanya seperti ini bahkan sudah sejak dari dulu. Selalu tanya kenapa nggak pulang, sudah makan atau belum, bahkan tanya bagaimana hariku saat itu. Ah, aku baru sadar jika Mas Tayoga seperhatian itu padaku. Walau akhirnya aku tahu jika Mas Tayoga menyukaiku. Biar pun begitu, setelah aku mendengar kejujurannya, aku masih bisa nyaman berada di dekat Mas Tayoga. Sepertinya memang semesta menakdirkan kami untuk berteman atau bersahabat. Jika memang begitu, aku akan sangat bersyukur memiliki sosok seperhatian Mas Tayoga. "Atau kamu nungguin aku ya?" Mas Tayoga melirikku dengan surainya, membuatku otomatis memukul lengan laki-laki itu. "Nggak usah ngelirik kayak gitu, Mas. Serem!" Kemudian kami berdua terkekeh. "Kamu mau lagi nunggu siapa sih? Juwana ya?" Tawaku pudar. Rupanya Mas Tayoga tahu siapa yang aku tunggu sejak tadi. Aku tidak mengangguk atau menggeleng, membiarkan Mas Tayoga bertanya tanpa kuberi jawaban. Ada jeda sejenak antara kami berdua. Aku dan Mas Tayoga sama-sama kembali menghadap ke depan, pemandangan di mana ada seorang laki-laki jangkung yang baru saja pergi dari sana dengan motornya. Ya, baru saja aku melihat Jujung sudah pergi. Padahal, sejak tadi aku menunggu kemunculan Jujung dan ingin mengatakan sebuah hal. Tetapi, karena kedatangan Mas Tayoga, aku jadi kehilangan perhatianku. Aku menoleh pada Mas Tayoga. Wajahky cemberut, perasaanku kesal. Mas Tayoga hanya mengangkat sebelah alisnya yang berarti menanyakan ada apa. "Mas, kan Jujungnya udah pergi!" kataku dengan kesal. Mas Tayoga nampak terkejut. "Loh ... loh ... kok aku yang salah?" tanyanya. "Berarti dari tadi kamu nungguin Juwana di sini?" Ia lanjut bertanya. Aku baru mengangguk. Mas Tayoga mengrenyit sembari memundurkan wajahnya. "Kok Juwana malah pergi? Apa nggak janjian dulu?" Aku menggeleng pelan, tetapi Mas Tayoga malah terkekeh. "Kok ketawa!" "Kamu itu, Tik ... Tik." "Kenapa?" Laki-laki yang ada di sampingku itu kini menghadapku. "Kamu kalau mau ada urusan sama Juwana, kan bisa janjian dulu. Kenapa? Kamu nggak mau ngabarin dia duluan?" Padahal aku tidak pernah bercerita apapun pada Mas Tayoga. Tetapi, setahu itu Mas Tayoga jika aku tidak mau menghubungi Jujung terlebih dahulu. Apa semudah itu gerak-gerik ini terbaca olehnya? Atau Mas Tayoga sudah pernah mengalami hal yang sama sepertiku? Aku memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Mas Tayoga. Sebelah tangan laki-laki itu aku genggam dan langsung kuajak Mas Tayoga untuk pulang. "Ayo pulang, Mas!" Sumpah, aku tidak sengaja menggandeng tangan itu sampai pada akhirnya aku tersadar ketika Mas Tayoga tak kunjung berjalan padahal tangannya sudah aku tarik. Alhasil, kulepaskan genggaman itu. "Eh maaf, Mas," kataku kemudian, yang dihadiahi kekehan dari Mas Tayoga. Tidak mau merasakan kecanggungan, aku pun meringis. Lalu setelah cukup, aku sedikit berbicara dengan nada yang cukup tinggi. "Ayo pulang, Mas! Mampir makan dulu tapu ya!" pintaku yang memaksa. Mas Tayoga tak mungkin menolak. Laki-laki itu terkekeh, kemudian mengangkat tangan kanannya di udara. "Siap, Bos!" Selanjutnya, kami makan pulang dan makan bersama. Namun kali ini, akan aku pastikan jika diriku yang akan membayar. Karena sudah lebih dari sering laki-laki itu mentraktirku makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD