Thai Tea Gratis

1013 Words
Obrolan kami setelah makan ini mengenai banyak hal. Mas Tayoga adalah sosok pendengar yang baik. Jadi tidak heran jika sejak dulu aku sering sekali bercerita dan mengobrol dengan laki-laki itu. Kami masih berada di sebuah warung makan ayam kremes. Dua piring yang ada di hadapan kami telah bersih, bahkan gelas-gelas yang tadinya berisi es teh juga sudah tak bersisa. Seharusnya saat ini sudah menjadi waktu yang tepat bagi kami untuk pergi dari tempat makan ini. Ah iya, kali ini aku berhasil membayar, karena ketika Mas Tayoga duluan duduk di bangkunya, aku melipir ke sang penjual untuk membayar. Padahal biasanya pembayaran dilakukan di akhir. Tetapi tidak apa-apa, demi bisa balik mentraktir Mas Tayoga. Tadi, Mas Tayoga sempat ngambek karena aku yang membayar. Namun, pada akhirnya mau bagaimana lagi, itu sudah terlanjur dan laki-laki itu berjanji padaku jika setelah ini ia akan mengajakku ke kedainya untuk dibuatkan satu porsi thai tea secara gratis. Siapa yang tidak mau? Aku sangat senang sekali, karena sudah beberapa hari juga aku tidak minum thai tea milik Mas Tayoga karena dirinya yang cukup sibuk dan kedai baru buka di malam hari, sementara akhir-akhir ini aku sangat malas keluar malam. "Tika, bukannya ikut campur ya, tapi kalo menurut aku, alangkah lebih baiknya kalau kamu jangan nyiksa diri kamu sendiri," kata Mas Tayoga setelah kami diam sesaat karena obrolan yang tadinya sudah cukup. Aku pikir kami akan segera pergi dari tempat ini, tetapi ternyata Mas Tayoga memiliki pembahasan lagi dan kali ini tentang aku yang menyiksa diri. Aku tidak paham apa maksudnya. "Gimana, Mas?" tanyaku yang sedikit bingung. Mas Tayoga mengembuskan napasnya. Ia menatap tembok kosong yang ada di hadapannya sejenak, lalu kembali menatapku. "Aku enggak tahu apa yang kamu lakuin tadi dan kemarin di tempat yang sama. Tapi kalau pada akhirnya kamu cuma mau nangis, buat apa, Tik? Ada banyak hal yang bisa bikin kamu bahagia, tetapi kenapa kamu malah pilih nangis di sana?" Aku terdiam sebentar, berusaha mencerna apa yang dimaksud Mas Tayoga. Rupanya, itu adalah tentang aku yang menunggu Jujung tadi. Memang benar kemarin aku sempat menangis, namun tidak dengan tadi. Dan sepertinya Mas Tayoga cukup khawatir denganku. Laki-laki itu memberikan sarannya. Aku tidak merasa terganggu dengan saran itu, karena memang benar tidak seharusnya aku menghampiri kesedihan ketika banyak hal yang bisa membuatku bahagia. Awalnya memang banyak hal yang membuatku bahagia, tetapi ketika Jujung sudah bukan menjadi milikku lagi, kebahagiaanku hilang. Aku tersenyum tipis pada Mas Tayoga. "Aku tadi nggak niat buat nangis kok, Mas," kataku dengan senyuman miris. Walau memang benar aku tidak berniat untuk menangis lagi seperti kemarin, tetapi saja aku tak bisa melepaskan tawaku ketika mengingat Jujung, ditambah dengan dugaanku yang buruk pada Della. Aku malah menjadi khawatir pada mantan kekasihku itu. Namun, di sisi lain aku tidak yakin dengan semuanya. Dugaan Della hanya memanfaatkan Jujung karena kecelakaan dalam tanda kutip itu menurutku masih tidak masuk akal. Selama kenal dengan Della, perempuan itu memang pecicilan, tetapi Della sangat pandai dalam berbagai hal termasuk dalam perkualiahan dan pergaulan. Agak tidak masuk akal jika Della melakukan hal di luar batas norma. Walau zaman sekarang memang seperti sudah menjadi hal yang biasa saja, tetapi tetap saja aku tidak pernah menyangka jika pergaulan Della bisa sebebas itu. Pada akhirnya, semuanya memang tertuju pada hal itu. Della sudah melakukan hal yang dilanggar oleh norma, lalu perempuan itu menjadikan Jujung sebagai tameng untuk menutupi kebusukannya hanya karena ia dan Jujung memang dijodohkan. Tiba-tiba saja emosiku memuncak. Tanganku mengepal dan meja dengan piring kosong di atasnya itu berhasil berbunyi cukup keras ketika kepalan tanganku itu memukul meja. Bahkan, Mas Tayoga sampai terkejut karena aku. "Tika!" Mas Tayoga menegurku. Aku sadar, aku sudah membuat bukan hanya Mas Tayoga tetapi juga pengunjung lain terkejut. Dan benar saja, ketika aku menoleh pada sekeliling, beberapa dari mereka menatapku dengan aneh. Aku hanya bisa meringis membalas tatapan mereka. "Kamu kenapa?" tanya Mas Tayoga di mana aku masih meringis di sana. Aku pun menggeleng. "Enggak, Mas. Reflek aja tadi, aku kesal." "Kesal kenapa?" Aku kembali melirik sekitar. Sepertinya orang-orang sudah kembali pada perhatiannya masing-masing. Dan apakah saat ini waktu yang tepat untukku bercerita kepada Mas Tayoga tentang apa yang mengganjal di dalam perasaanku? Apakah tempat ini adalah tempat yang tepat? "Mas?" kataku dengan berbisik. "Apa?" Mas Tayoga juga membalas dengan bisikan yang justru membuatku tertawa renyah. Laki-laki itu justru mengangkat sebelah alisnya, bingung denganku yang tiba-tiba tertawa. "Kamu kenapa sih, Tik?" Kini ekspresinya seratus persen membuatku kembali terkekeh. "Mas Tayoga lucu banget!" kataku di sela-sela kekehan. Setelahnya aku berusaha tenang, karena memang rasa-rasanya aku harus mendiskusikan ini semua dengan Mas Tayoga. Di mana Mas Tayoga adalah salah satu teman yang sangat aku percaya. "Tapi seriusan, Mas. Aku mau bicara," kataku menyudahi kekehan. Wajahku nampak berubah serius, begitu pula dengan Mas Tayoga. "Mau bicara apa? Serius banget?" Aku mengangguk. "Iya, Mas." "Tentang apa?" Aku diam sebentar. "Tentang Jujung sama Della." "Juwana?" Mas Tayoga menyebut nama laki-laki itu. Aku mengangguk. "Iya, Mas." "Dia kenapa?" tanya Mas Tayoga. Aku malah diam, kembali berpikir apakah aku harus menceritakan ini semua pada Mas Tayoga. Di sisi lain Mas Tayoga menyukaiku, yang membuatku kembali berpikir apakah pantas aku membahas orang yang aku cintai di depan orang yang mencintaiku. "Kenapa, Tik?" Mas Tayoga kembali bertanya. "Engg ... enggak jadi deh, Mas." Aku tersenyum pada laki-laki itu, yang pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi bercerita padanya. "Lhoh ada apa? Kok enggak jadi? Cerita aja loh nggak papa." Mas Tayoga berusaha meyakinkan diriku. "Atau kita pindah ke tempat lain?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng. "Enggak, Mas. Kita pulang aja kali ya? Kayaknya aku belum siap buat cerita sama kamu, Mas." "Cerita apa sih? Jangan bikin penasaran dong!" Kali ini wajah Mas Tayoga cemberut, membuatku ingin mencubit pipinya yang kalau cemberut terlihat sangat menggemaskan. Dulu, aku sering melakukan ini pada Mas Tayoga. Tetapi semenjak Mas Tayoga bilang suka padaku, aku jadi membatasi diri. "Yakin mau langsung pulang? Nggak mau mampir dulu ke kedai?" Ah, aku sampai lupa jika akan mendapatkan satu gelas thai tea gratis dari Mas Tayoga. "Mampir dong! Kan mau dapat thai tea gratis!" kataku dengan penuh semangat, sementara Mas Tayoga hanya terkekeh sembari menatapku yang kegirangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD