Setelah membantu Mas Tayoga membuka kedainya, akhirnya aku mendapatkan satu porsi thai tea yang Mas Tayoga janjikan tadi. Aku duduk di aalah satu kursi sambil menikmati thai tea yang segar ini, dengan menantap Mas Tayoga yang mulai sibuk melayani pembeli.
Tanpa banyak berpikir, aku pun langsung berinisiatif untuk membantu laki-laki itu. Mas Tayoga terlalu sibuk hari ini. Baru saja ia selesai di perkuliahan hari ini dan hanya beristirahat makan denganku yang hanya sekitar satu jam. Lalu, ia harus segera membuka kedai karena masih cukup sore dan para pelanggannya sudah menunggu kedai itu buka.
Digadang-gadang, bukan hanya karena rasa thai tea di kedai thai tea Mas Tayoga yang memang nikmat mengalahkan kedai thai tea lainnya, tetapi karena keramahan dan ketampanan Mas Tayoga juga. Kalau dilihat-lihat, Mas Tayoga memang tampan dan tidak ada yang menyangkal. Tetapi sayangnya aku tidak mencintainya.
"Aku bantuin, Mas," kataku yang sudah berdiri di sebelahnya. Kulihat para pelanggan yang kebanyakan perempuan itu menatapku aneh dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepertinya mereka kurang suka dengan keberadaanku di sini karena dianggap menjadi penganggu pemandangan mereka atas ketampanan Mas Tayoga. Tetapi masa bodoh, sudah beberapa kali aku membantu Mas Tayoga dan memang laki-laki itu sangat terbantu walau aku hanya menuang es batu ke dalam gelas cup.
Setelah beberapa lama melayani pelanggan, akhirnya kami memiliki kesempatan untuk duduk beristirahat. Napasku sedikit terengah dan kakiku kuselonjorkan karena sedari tadi hanya berdiri saja. Sementara aku kelelahan, Mas Tayoga malah menatapku dengan senyum tipisnya dan tidak lupa untuk terkekeh.
"Kamu pulang aja, Tik. Kasihan capek gini kelihatannya," katanya masih dengan senyuman. Beberapa kali ia menoleh ke arah luar, berjaga-jaga ada pelanggan yang datang.
"Aku yang cuma nuang es batu aja capek banget, apalagi kamu, Mas?" kataku. Benar-benar tidak terbayangkan jika setiap hari setelag selesai kuliah Mas Tayoga harus bekerja seperti ini. Seharusnya Mas Tayoga bisa beristirahat, tetapi laki-laki itu memilih untuk membanting tulang. Apalagi jika di siang hari, tak jarang ia mengaktifkan aplikasi ojek online dan ia siap menjadi pengemudi ojek online. Bukan hanya saat siang hari untuk menunggu jam pergantian mata kuliah, tapi sering kali Mas Tayoga juga kembali aktif menjadi pengemudi ketika malam mulai larut.
"Mas, biasanya tidur malam jam berapa sih?" tanyaku. Pertanyaan itu sebenarnya telah ada sejak dulu di otakku. Bagaimana tidak, Mas Tayoga termasuk mahasiswa yang cukup berprestasi dengan segala kesibukan pribadinya. Aku jadi takut jika jam tidur Mas Tayoga sebenarnya sangat berantakan. Kasihan tubuhnya, harus selalu kecapekan.
Mas Tayoga menatap jam yang ada di ujung kedai. "Nggak tentu sih, tapi paling malam harus sebelum jam dua belas malam," katanya dengan nada ringan, yang membuatku tidak yakin selain karena ucapannya yang santai, aku juga tidak yakin jika ada mahasiswa yang menjadikan jam dua belas malam sebagai patokan jam tidur paling larut.
"Seriusan, Mas?" tanyaku tidak percaya. "Jam dua belas malam paling malam?"
Mas Tayoga mengangguk. "Iya. Kenapa gitu?"
"Nggak sih. Biasanya kan mahasiswa sering begadang. Jadi sangat enggak mungkin kalau harus tidur sebelum jam dua belas malam apalagi Mas Tayoga kelihatan sibuk banget!" kata-kataku menunjukkan seberapa tidak percayanya diriku pada Mas Tayoga.
Ia pun terkekeh. "Tapi emang kenyataannya kayak gitu, Tik."
"Terus kapan Mas Tayoga belajar atau ngerjain tugas? Kan Maa Tayoga sibuk banget setiap hari dengan ini semua."
"Sesibuk-sibuknya aku, aku masih punya banyak waktu buat belajar atau ngerjain tugas, Tik. Contohnya aja setelah subuh sampai sebelum kelas pagi dimulai deh. Kan ada tuh sekitar dua jam, yang satu setengah jam bisa dipakai buat belajar atau ngerjain tugas. Kalau siang-siang aku juga sempatin belajar sambil nunggu orderan. Dan kalau malam gini, biasanya kalau lagi ada sepi aku juga manfaatin buat ngerjain tugas atau sekadar belajar ngulas materi yang tadi udah dipelajarin di kelas."
Aku terpukau. Tanganku otomatis terangkat dan mengacungkan jempol untuk laki-laki itu.
"Otak aman, Mas?" tanyaku lagi.
Mas Tayoga mengangguk sembari terkekeh. "Ya aman dong, Tik. Kita kan punya dua puluh empat jam setiap hari. Kalau aku, perhari itu maksimal delapan jam buat kuliah dan itu nggak setiap hari dan tidur minimal lima jam setiap hari. Jadi masih ada sisa waktu sebelas jam. Itu cukup banget sih kalau bagi aku buat belajar walau nggak penuh sebelas jam."
"Ya, itu kan kamu, Mas. Bukan aku!" Aku cemberut. Andai saja otakku bisa diajak kerjasama apalagi dengan suasana hatiku yang tidak menentu, kadang aku memang merasa keadilan itu bukan terletak pada siapa yang hidup terlihat hidup bahagia, tetapi pada mereka yang bisa memanfaatkan waktu luangnya, seperti Mas Tayoga ini.
"Coba kamu biasain punya jam tidur yang teratur. Misal belum ngantuk, tapi kamu paksa buat merem dan tidur. Nanti lama-lama jadwal-jadwal kamu yang lain bakal ikut teratur juga. Karena apa ya, menurut aku, keulitas tidur kita itu sangat menentukan kualitas hidup. Apalagi kita yang masih mahasiswa yang notabennya punya banyak waktu luang. Jadi daripada sok-sokan nunda-nunda pekerjaan karena bisa begadang, mending dikerjain tepat waktu. Yang pasti bakal aman juga buat kesehatan.
Aku mendengrkan nasihat Mas Tayoga. Setiap laki-laki itu berbicara, tidak ada celah untuk tidak mendengar nasihatnya.
"Kamu juga tahu kan aku nggak selalu buka kedai dari sore, kadang bisa malam hari. Itu kalau aku lagi banyak tugas. Sebenarnya emang enak ngerjain tugas itu pas masih ada matahari dan cukup di perpus sambil numpang ngadem. Kalau di kost, bisa-bisa aku ketiduran. Karena ya sebenarnya aku suka tidur sama rebahan. Jadi aku minimalkan waktu buat sering-sering ada di kost kecuali buat tidur.
"Pernah ngerasa stres nggak, Mas?"
"Yang pasti pernah. Tapi ketika aku stres dan aku memilih untuk menyendiri beristirahat di kamar, justru aku semakin stres. Jadi aku harus ngalihin stres aku ke hal lain kayak biasanya aku bakal buka kedai sampai larut malam dan bakal non aktif buat ngojolnya. Kan nggak mungkin bawa penumpang sambil stres, jadi aku pilih lihat jalanan dari sini sambil ngamatin orang-orang yang lewat.
Mataku membulat sempurna. "Sesederhana itu, Mas?" tanyaku tidak percaya. Karena setiap kali aku stres, butuh banyak usaha yang harus aku lakukan seperti makan makanan yang enak, menonton drama Korea, sampai keliling sendirian entah ke mana yang notabennya malah menghabiskan waktu, uang, dan tenaga. Tetapi cara Mas Tayoga mencharge semangatnya sangat berbeda denganku, yaitu dengan duduk manis menyimpan tenaganya dan bahkan menghasilkan uang.
"Kamu jangan bandingin cara kamu hidup sama cara aku hidup, Tik. Semua orang itu sudah punya porsi masing-masing. Kalau seandainya cara hidupnya sungguh nggak bermanfaat, itu baru harus dipertanyakan dan sesegera diubah. Kalau kamu menjalani hidup ngerasa sudah cukup lah minimal, ya nggak papa. Jangan pernah terdistraksi jadi orang lain eh tau-tau malah mengganggu semua kegiatan kamu. Pikiran kamu nggak terbiasa untuk jadi kayak aku, pikiran aku juga nggak terbiasa untuk jadi kayak kamu. Jadi ya jadi diri sendiri masing-masing aja. Kalau mau diubah, bisa pelan-pelan."
Aku tidak pernah tidak terpukau tiap mendengar cerita atau nasihat dari Mas Tayoga. Laki-laki itu memang hanya satu tahun lebih tua dariku, tetapi pengalaman hidupnya sepertinya lebih banyak dari pada aku. Awalnya aku sempat minder, tetapi apa yang dikatakannya memang benar jika manusia memiliki porsinya masing-masing. Aku pun mengangguk dan tersenyum menatap Mas Tayoga. Menyiratkan bahwa aku telah berterima kasih pada dirinya atas nasihatnya sore ini.
Lalu, obrolan kami terhenti ketika ada satu pelanggan yang datang yang otomatis membuat Mas Tayoga dan aku kembali berdiri untuk melayani pesanan mereka.
"Kamu bisa istirahat aja, Tik," kata Mas Tayoga yang tangannya telah sibuk meracik thai tea buatannya.
Aku menggeleng. "Aku belum capek, Mas."
Rasanya aku bingung pada diriku sendiri. Jujung memang memperlakukanku secara istimewa. Tetapi, Mas Tayoga juga tak kalah memperlakukan diriku secara istimewa juga. Tetapi, yang namanya manusia, sama seperti yang Mas Tayoga katakan, jika sudah memiliki prosinya masing-masing.
Dan untuk mencintai Jujung, aku memiliki banyak porsi cinta untuknya. Kepada Mas Tayoga, aku memiliki banyak porsi kekaguman atas hidup seorang mahasiswa.