Yang Harus Titik Lakukan Adalah ....

1053 Words
Kupandangi ruang obrolanku bersama dengan Jujung yang telah lama kosong, berdebu, dan mungkin berhantu. Terasa sudah lama sekali kami tidak menyambangi satu sama lain. Ibarat rumah, sebuah lokasi yang telah ditinggalkan oleh dua pemiliknya tanpa mau untuk kembali hanya untuk mengenang nostalgia. Kosong, berdebu, berhantu. Sedari tadi, aku hanya memandanginya tanpa berniat untuk mampir dan meninggalkan pesan. Ketika sebuah keterangan online dari Jujung muncul di sisi atas ruang obrolan di bawah namanya, entah mengapa aku malah buru-buru untuk menutup ruang obrolan itu. Ponselku kulempar ke sisi sebelahku, di sisi empuk tempat tidurku. Setelahnya, yang aku bisa lakukan hanya lah mengembuskan napas lelah sebari menatap langit-langit kamar. Terhitung sudah satu minggu lamanya Jujung putus denganku. Sudah satu minggu pula ruang obrolanku dengan Jujung kosong. Di antara kami berdua, entah mengapa tidak ada yang mau memulai memasuki kembali ruang obrolan itu. Jujung benar-benar tidak ada niat kah untuk mengirimiku pesan terlebih dahulu? Sebegitu suksesnya dirinya kah sampai bisa melupakanku dan sama sekali tidak menanyakan kabarku? Apa dirinya sudah tidak khawatir denganku? Atau memang perasaannya padaku sudah benar-benar kosong? Ah, s**l. Aku mengembuskan napas kasar-kasar. Selalu merasa lelah setiap kepikiran Jujung dan menggalaukan laki-laki yang bagaimana keadaannya sekarang pun aku tidak tahu. Aku kembali mengambil ponselku hanya untuk melihat jam yang tertera di sana. Padahal, di dinding kamarku juga terdapat sebuah jam. Tetapi entah mengapa memang aku lebih suka melihat jam yang akurat seperti yang ada di ponsel daripada jam yang ada di dinding yang sengaja aku lebihkan beberapa menit. Jangan tanya mengapa, karena setiap rumah di mana ada penghuni yang masih suka bersantai padahal memiliki kesibukan rutin, pastinya banyak yang memasang jam dinding dengan menit yang dilebihkan untuk meminimalisir kata terlambat. Masih pukul sepuluh malam. Bukan sebuah malam yang larut, tetapi bisa dibilang sudah cukup malam. Tetapi, aku belum memutuskan untuk tidur. Aku jadi teringat dengan Mas Tayoga. Katanya jam sepuluh malam memang belum waktunya untuk ia tidur, berarti saat ini Mas Tayoga kemungkinan masih terjaga. Entah ia sedang berada di kedainya yang belum tutup atau mungkin dirinya sudah mengaktifkan diri menjadi pengemudi ojek online. Aku pun bangkit dari kasur. Kuputuskan untuk membuka jendela dan mengecek suhu yang ada di luar sana. Malam-malam begini, sangat wajar jika angin yang berembus terasa dingin. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Mas Tayoga yang audah bekerja keras seharian itu masih diterpa angin sedingin ini sembari mengantar pelanggannya. Cepat-cepat kuambil ponselku. Sepertinya aku perlu untuk mengirim sebuah pesan pada laki-laki itu. Setelah kubuka pola kunci layar, rupanya ponselku masih berada di ruang obrolanku bersama dengan Jujung. Aku tersenyum getir. Rasanya aneh, ketika aku mendambakan pesan darinya, justru aku tidak pernah ingin memulai dan sekarang ini malah akan mengirimi pesan pada Mas Tayoga. Akhirnya kuurungkan niatku untuk mengirim pesan kepada Mas Tayoga. Padahal aku hanya ingin mengingatkannya untuk tetap memakai jaket tebal. Tetapi tetap saja tidak jadi. Ruang obrolan yang kosong ini membuatku merasa bersalah dengan Jujung. Aku jadi berpikir, apakah aku termasuk dalam salah satu orang yang cukup egois, yang enggan memperjuangkan cintaku. Walau susah, seharusnya aku harus berjuang. Melawan restu memang tidak mudah, apalagi untuk mereka yang sudah dijodohkan. Tetapi aku, sama sekali tidak berusaha untuk mencoba berjuang, hanya diam dan pasrah menerima kenyataan. *** Aku tidak sadar ternyata sudah pagi. Semalam aku ketiduran di sisi ranjang dengan jendela yang masih terbuka ditambah pendingin ruangan yang juga menyala. Pantas saja sepagi ini diriku merasa kedinginan, ditambah dengan selimut yang masih terlipat rapi. Bisa-bisanya aku tidur nyenyak dengan kondisi seperti ini dan dibangunkan oleh kedinginan. Tetapi, bukannya bangun, aku malah hanya mengecek jam yang ada di ponsel. Masih cukup pagi untuk memulai membalut tubuhku dengan selimut tebal. Dan pada akhirnya aku kembali memjamkan mata, ingin melanjutkan tidurku dengan mimpi yang cukup membuatku betag tak bangun mungkin sampai nanti siang. Kolase kenangan kami adalah yang membuatku tidak mau mengakhiri mimpi. Di sini, aku dan Jujung sedang bersantai di taman kota seperti biasanya. Tidak ada hari khusus bagi kami untuk datang ke taman kota sekadar menikmati suasana, tetapi beberapa kali memang kami sering ke sana jika sudah bingung mau ke mana lagi dan tak mau untuk pulang. Senyum Jujung selalu mengembang setiap kali menatapku. Hampir tidak pernah laki-laki itu menunjukkan wajah sedihnya di hadapanku kecuali beberapa waktu ketika kami putus. Aku yakin sekali, saat ini aku tertidur sambil tersenyum ketika Jujung juga tersenyum padaku di dalam mimpi. Ada banyak cerita yang telah kami lalui, dan kebanyakan adalah soal kebahagiaan. Perlahan mataku terbuka. Pikiranku mengarah pada kebahagiaan yang selalu aku dan Jujung lewati bersama. Apa mungkin itu sebabnya, sehingga satu kesedihan menghancurkan hubungan kami? Sekarang aku benar-benar terbangun. Aku buka ponselku dan langsung aku menuju pada ruang obrolanku dengan Jujung yang masih setia tersegel berada di paling atas barisan antara obrolan dengan yang lainnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengetikkan sesuatu di sana. Dan tanpa berpikir panjang pula, langsung kukirimkan pesan itu padanya, sehingga tak lama membuat tanda centang abu-abu berubah menjadi tanda centang biru. Pesanku pada laki-laki itu adalah ..., "Jujung, aku kangen sama kamu. Kamu apa kabar?" Dan setelah bermenit-menit lamanya pesan itu telah dibaca oleh Jujung, aku tak juga mendapatkan balasan. Yang tadinya ada keterangan online di bawah nama Jujung di ruang obrolan kami, saat ini sudahdah tidak ada. Apakah Jujung memang sudah tidak ingin menjawab pesanku? Mengapa Jujung mengabaikan pesanku? Lalu, ponselku bergetar. Aku berharap sekali ini adalah balasan dari Jujung, tetapi ternyata bukan. Ada satu pesan dari Amelia. Katanya, aku dilarang sarapan karena dirinya ingin sarapan bersama denganku pagi ini. Teringat Amelia, teringat juga aku akan perkataannya di mana perjodohan Jujung dan Della hanya lah siasat Della untuk menutupi kebusukannya. Tiba-tiba saja aku merasa kesal pada Della. Jika memang benar begitu, aku akan sangat marah padanya tidak peduli dulu kami pernah menjadi seorang teman yang cukup dekat. Beberapa kali kuatur napasku agar kemarahan ini tidak mendarah daging. Tetapi jika mengingat hal tersebut, maka yang ada hanya lah amarah. Jika kenyataan mengatakan bahwa putusnya hubunganku dengan Jujung bukan hanya sebatas perjodohan itu, melainkan karena Della yang telah melanggar norma, maka aku yakin seratus persen bahwa aku tidak akan diam saja dan aku akan melindungi Jujung dari Della. Entah Della mencintai Jujung atau tidak, aku tidak peduli. Entah Jujung mencintai Della atau tidak, aku tidak yakin jika Jujung mencintai Della. Lalu, apa yang harus aku lakukan? Ah! Selalu saja begini! Selalu saja aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD