"Titik!"
Langkahku terhenti di ujung koridor. Sebentar lagi aku sampai di dalam kelas, tetapi indra pendengaranku yang peka terhadap suara sayup tenang itu menjangkau bagian terpenting yaitu otak. Otomatis, kutolehkan kepalaku ketika ada panggilan pelan namaku. Panggilan yang sangat pelan, tetapi berhasil membuatku tersadar dari langkahku yang tenang. Mungkin alasan lain karena koridor masih cukup sepi, karena jam belum menunjukkan pun bahkan pukul setengah tujuh pagi.
Agaknya aku memang sedikit rajin hari ini. Bukan, bukan benar-benar rajin karena datang pagi-pagi. Tetapi, karena ada jadwal presentasi yang membuatku harus datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya dan sedikit lagi membaca materi agar benar-benar aku kuasai.
Aku cukup bersemangat pagi ini. Aku datang dengan senyum yang kupersembahkan untuk diriku sendiri sepanjang perjalanan untuk sampai ke dalam kelas dan rencananya aku tetap akan menyimpan senyumku dan kubuat untuk nanti ketika presentasi.
Tetapi, saat aku menoleh untuk memastikan apakah ada yang memanggil namaku, senyumku yang tipis itu pudar. Aku gamang beberapa detik menatap ke arah depan ketika badanku sudah berbalik. Laki-laki jangkung menatapku dari kejauhan. Dengan senyumnya yang tidak sopan, membuatku benar-benar gemetar.
"Jujung ...," ucapku lirik tanpa banyak membuka mulut.
Jujung masih menatapku, tersenyum, dan perlahan melangkah untuk mendekatiku.
Aku masih diam saja, tidak melangkah ke mana pun dan tidak bergerak sedikit pun sampai akhirnya Jujung ada di hadapanku.
Namun, senyum laki-laki itu memudar ketika wajahnya dengan jelas aku tatap. Netranya yang legam menatapku dengan teduh telah membuatku merasa tenang.
"Jujung?" ucapku lagi, kali ini bisa didengar oleh dirinya.
"Tik, kelas hari ini selesai seperti biasanya?" tanyanya setelah ada jeda hening untuk beberapa saat.
Aku menciptakan keheningan itu lagi. Kedua mataku hanya mau menatapnya, tak peduli dengan apa yang ditanyakan Jujung. Pokoknya, kali ini aku sangat merindukan tatapan itu. Walau aku harus sedikit mendongak karena saking tingginya Jujung, aku tidak peduli. Masa bodo dengan leherku yang pegal, karena aku sangat menginginkannya.
"Tik?"
Akhirnya aku pun tersadar. Pandanganku menerawang sekitar walau sebenarnya tak mau kulepaskam dari dua bola matanya.
"I-iya. Kenapa?" Aku malah bertanya lagi, tentang apa pertanyaan Jujung yang barusan. Biarkan lah membuang-buang waktu, sekali lagi karena aku menginginkannya. Walau perkataanku agak gugup, aku yakin Jujung mengerti dan tidak masalah dengan itu semua.
"Kayaknya kita perlu ngobrol, Tik," katanya lagi. Senyumnya perlahan memudar, lalu kembali mengembang. Sejalan dengan degub jantungku yang semakin tidak beraturan. "Kamu ada waktu?"
Tidak perlu berpikir lama, aku pun langsung mengangguk. "Ada," jawabku dengan singkat.
Jujung menghela napas lega dan senyumnya semakin mekar saja. "Kelas hari ini selesai kayak biasanya?" Pertanyaan itu ia lontarkan lagi. Yang berarti Jujung masih hafal dengan jadwal kuliahku. Bagaimana bisa? Yah, walau belum ada satu bulan dan masih sekitar satu minggu, tetapi aku tetap dibuat terkesima karena Jujung yang masih hafal dengan jadwal kuliahku.
Aku kembali mengangguk. "Iya, masih."
Lagi-lagi, Jujung mengembangkan senyumnya. "Nanti aku tunggu di depan ya."
Aku mengangguk lagi. Selanjutnya, ada jeda beberapa saat sampai akhirnya aku memutuskan untuk berpamitan terlebih dahulu karena aku sadar koridor ini semakin ramai saja.
"Kalau gitu, aku duluan ke kelas ya," kataku.
Bodohnya, aku langsung pergi dari sana tanpa menunggu tanggapan Jujung. Aku jadi takit jika Jujung berpikir aku sangat menghindari dirinya, padahal aku selalu ingin dekat dengannya.
Sesampainya di dalam kelas, yang bisa aku lakukan hanya menyesal sembari memukul kepalaku sendiri beberapa kali. Beruntung saja kelas masih kosong jadi tidak ada yang memerhatikan diriku.
Tetapi, beberapa saat kemudian aku dibuat terkesiap ketika merasa ada seseorang yang sudah masuk ke dalam kelas. Aku tidak tahu siapa karena posisiku saat ini sedang membelakangi pintu masuk. Aku hanya bisa berpura-pura merapikan rambutku. Selanjutnya aku duduk di bangku mana saja dan berusaha tidak terjadi apa-apa.
Ada satu hal lagi yang kembali membuatku terkejut, yaitu ketika aku telah duduk dan kulihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kelas. Rupanya dia adalah Jujung. Mataku berhasil membuat sempurna, melihat laki-laki itu ada di sini sekarang ini.
"Jujung?" kataku yang masih cukup terkejut. "Kamu ngapain di sini?" tanyaku selanjutnya. Pandanganku berusaha mengedar menghindari tatapan Jujung yang sekarang ini malah tersenyum. s**l, kenapa laki-laki itu sangat gemar sekali menebarkan senyumnya.
"Aku mahasiswa kelas ini. Bukannya kita satu kelas di mata kuliah ini ya?"
Ah, aku baru ingat. Benar apa yang dikatakan Jujung. Hari ini di mata kuliah ini kami satu kelas. Ah, aku jadi malu jika tidak mengingat hal ini.
"Ah iya." Aku hanya mengangguk.
Kemudian, Jujung melepaskan tasnya dan menaruh tepat di samping bangku yang aku tempati. Aku sedikit bingung dengan situasi saat ini. Tidak usah ditanya lagi, karena di kelas juga akan ada Della. Aku pun juga merasa tidak enak dengan teman yang lainnya, karena kemungkinan mereka juga sadar tentang renggangnya hubunganku dengan Jujung.
"Eh ...," ucapku spontan ketika Jujung sudah duduk di bangku sebelahku.
"Kenapa, Tik?" tanyanya, mendongak sembari tersenyum. Aku sampai lelah dengan senyum itu. Sangat manis hingga membuat hatiku meringis.
"Kamu duduk di sini, Jung?"
Ia mengangguk. Rambutnya yang lurus dan sedikit panjang itu ikut bergerak-gerak, membuatku ingin mengusapnya seperti saat dulu. Tetapi, sekarang aku harus lebih banyaj menahan diri.
"Belum ada yang nempatin bangku ini kan?" tanyanya lagi.
Aku pun menggeleng. Setelahnya aku merasa bodoh. Seharusnya aku membuat alasan agar supaya Jujung tidak duduk di sebelahku. Tetapi memang tidak bisa dipungkiri, dalam hati kecilku tidak ingin jauh dengan laki-laki yang pernah mengisi hari-hariku. Bahkan, sekarang Jujung masih betah memenuhi otakku.
Aku pun pasrah saja. Kulihat jam yang ada di ponselku, masih menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Pantas saja masih belum ada mahasiswa lain yang memasuki kelas karena masih cukup pagi. Selanjutnya, yang aku bisa lakukan hanya berusaha bersikap biasa saja dan kembali untuk mempersiapkan presentasi hari ini.
"Ada presentasi ya?" tanya Jujung, ketika aku mengeluarkan sebuah laptop dari dalam tasku.
Aku hanya mengangguk, lalu melanjutkan aktivitasku.
Jujur saja, aku hanya menatap kosong materi yang muncul di layar laptop. Aku tidak membacanya dengan baik karena pikiranku tidak karuan sebab adanya Jujung di sampingku. Kenapa juga Jujung datang sepagi ini di saat aku juga sedang datang pagi? Memang sejak dahulu aku sering datang lebih awal ketika ada jadwal presentasi dan Jujung selalu menemaniku. Aku jadi besar kepala, apakah kedatangan Jujung sepagi ini karena ingin menemaniku juga?
Spontan kugelengkan kepalaku, berusaha untuk benar-benar fokus dengan materi yang akan kusampaikan kepada teman-teman kurang dari satu jam lagi.
"Sarapan dulu, Tik."
Aku menoleh, kulihat Jujung sudah menyodorkan satu kotak bekal yang telah dibuka yang di dalamnya berisi roti panggang. Kesukaanku.
Kulihat Jujung, tersenyum menatapku.
Tuhan, aku ingin menangis sekarang.