Genggaman Yang Kudambakan

1003 Words
Aku tidak tahu kenapa Della tidak hadir dalam kelas pagi ini. Ketika dosen melakukan presensi pada mahasiswa, tidak ada satu orang pun yang mengatakan apa alasan Della tidak hadir, bahkan Jujung sekali pun tidak tahu alasan ketidak hadiran perempuan itu. Sebenarnya, aku jadi penasaran mengapa begitu. Padahal, kalau dipikir-pikir Jujung itu dekat dengan Della, yang otomatis dirinya kemungkinan tahu penyebab Della tidak masuk kelas. Setelah kelas pagi selesai, langsung dilanjut dengan mata kuliah selanjutnya alias tidak ada jeda. Kebetulan juga kelas ada di ruangan yang sama, jadi kami semua tidak perlu repot pindah tempat. Tetapi, itu berarti juga Jujung akan tetap duduk di sampingku di mata kuliah selanjutnya. Aku senang, tetapi juga tidak tenang, karena sedari tadi perhatianku acap kali diganggu oleh laki-laki itu. Bukan, bukan Jujung yang menggangguku. Hanya saja memang pikiranku mengarah pada Jujung selalu. Dua jam lebih berlalu, dan akhirnya aku sudah tidak ada kelas lagi hari ini. Satu per satu mahasiswa mulai pergi meninggalkan kelas. Tetapi, tidak dipungkiri juga ada beberapa yang masih tinggal dan beberapa yang akrab dengan kami mengobrol ringan terlebih dahulu. "Lo sama Juwana balikan ya?" Aku benci sekali menghadapi pertanyaan itu, apalagi pertanyaan yang keluar dari mulut Amelia. Bisa-bisanya tanpa merasa canggung atau berpikir sedikit, hanya karena kami duduk bersebelahan, Amelia langsung mengira kami sudah balikan. Yah, walau sejujurnya aku maunya begitu. Aku pun menggeleng. "Apaan sih lo, Mel!" kataku dengan ketus, memutar bola mata, lalu memasukkan barangku ke dalam tas. Sementara Jujung terlihat nampak santai, tetapi tidak menjawab pertanyaan dari Amelia walau perempuan itu kini mengalihkan pertanyannya pada Jujung. "Juwana, lo balikan sama Tika? Nggak jadi tunangan sama Della?" Mulut Amelia memang tidak bisa dijaga. "Diem lo, Mel," kataku selanjutnya. Kini aku sudah berdiri dan Jujung pun ikut berdiri denganku. "Kalian berdua mau ke mana?" Amelia masih penasaran. Yah wajar sih sebenarnya, karena kemarin-kemarin kami nampak renggang, tetapi saat ini terlihat sedang bersama. "Pulang," jawabku sekenanya. Meninggalkan Amelia sendirian sebenarnya membuatku merasa tidak enak. Tetapi karena memang aku yang harus mengobrol dengan Jujung, jadi kali ini aku tidak membutuhkan Amelia. "Kok gue nggak diajak pulang?" Amelia berteriak ketika kami sampai di ambang pintu. Aku pun menoleh. "Pulang sendiri, Mel. Biasanya juga gimana. Sorry, ya. Gue lagi ada perlu," kataku pada akhirnya. Yang sebenarnya tak tega juga meninggalkan Amelia sendirian padahal biasanya perempuan itu yang menemaniku dan suka memberikan nasihatnya walau kadang tak berguna buat diriku. Kini tinggal aku dan Jujung yang berjalan bersebelahan di koridor. Kami tak banyak bicara, justru saling banyak diam. Jujung juga tidak memulai pembicaraannya walau sekadar basa-basi. Jadi, aku pun tidak tahu harus basa-basi yang bagaimana. Sangat kontras sekali bukan, dengan waktu dahulu ketika kami masih dekat dan masih pacaran? Bahkan pembahasan mengenai kenapa donat toping gula halus jauh lebih enak dari pada gula toping meses pun bisa jadi obrolan dan bahkan perdebatan yang panjang. Namun, kali ini sudah tidak ada lagi. Jika biasanya jika kami jalan berdua seperti ini akan ada candaan satu sama lain, tetapi sekarang kami hanya diam hanyut dalam pikiran masing-masing. Sekarang kami sudah sampai di depan gedung fakultas. Kami diam beberapa saat. Sampai akhirnya aku juga yang memulai pembicaraan ketika Jujung masih terus diam saja. "Mau bicara di mana, Na?" tanyaku, dengan sapaan akhir nama asli Jujung yaitu Juwana. Mungkin saja Jujung merasa aneh ketika aku memanggil namanya dengan panggilan seperti itu, yang sebenarnya aku pun merasa aneh juga. Jujung sudah melekat pada hatiku, tetapi Juwana adalah nama aslinya, di mana saat ini kami sudah bukan siapa-siapa lagi dan memang pantas dipanggil Juwana sama dari pada Jujung. Aku tidak tahu kenapa Jujung diam cukup lama sehingga menjadikan jeda antara pembicaraan kami berdua yang bahkan belum dimulai. "Titik." Bahkan ketika Jujung masih memanggilku dengan panggilan kesayangannya dahulu, aku jadi gemetaran. Aku tidak tahu kenapa jadi merindukan waktu itu. Mataku sudah memerah saja. Beruntungnya angin siang ini cukup kencang sehingga menerbangkan debu dan beberapa dedaunan yang jatuh. Jadi semoat beberapa kali kukucek mataku yang memerah. "Kenapa, Tik?" tanya Jujung dengan nada sedikit khawatir. Nada yang sama seperti dulu, yang ternyata sampai sekarang tidak ada bedanya. "Nggak, kelilipan aja." "Mau aku bantu?" Aku mundur selangkah ketika Jujung mendekat padaku. "Enggak. Udah," kataku dengan tegas. Membuat Jujung kembali memberi jarak antara kami berdua. Jeda tercipta lagi di antara kami berdua. Cukup lama, sampai akhirnya Jujung mengucapkan kalimat pembuka. "Tik?" "Ya?" Perlahan, aku merasakan tanganku digenggam. Jujung telah menggenggam tanganku. Aku berusaha ingin melepaskan, tetapi Jujung malah menggenggamku lebih erat lagi. "Na, lepasin," kataku, tetapi Jujung menghiraukannya. Aku terus berusaha melepaskan, tetapi masih bersikap normal agar orang-orang tak melihat hal yang aneh pada kami berdua. "Juwana, lepasin." "Kenapa nggak Jujung?" katanya selanjutnya. Lalu, ketika aku berhasil melepaskan genggaman Jujung, aku memutuskan untuk langsung pergi meninggalkan laki-laki itu. Perasaanku terasa tersayat ketika Jujung bertanya seperti itu. Jujung yang mengakhiri semuanya tetapi Jujung juga masih bertanya mengapa panggilanku padanya telah berubah. Aku tidak merasa Jujung mengejarku. Bagus deh. Setidaknya kali ini aku sudah bisa duduk sendirian di sebuah gazebo yang ada di taman samping fakultas. Aku tidak menangis. Aku hanya diam saja sembari meratapi nasib percintaanku yang semakin ribet saja semakin ke sini. Kuembuskan napas lelah, sembari melihat tanganku yang baru saja digenggam oleh Jujung. Bayangan hangatnya tangan Jujung menggenggamku pun masih terasa. Tidak berselang lama, aku bisa melihat Jujung telah menemukanku yang duduk di gazebo ini. Aku tidak berniat untuk pergi dan kubiarkan saja Jujung duduk di sampingku. Tidak ada obrolan yang mengawali kami berdua. Jujung pun hanya diam saja duduk di sebelahku. Sampai akhirnya aku tidak bisa menahan diriku, kepalaku tiba-tiba saja menyender di bahu laki-laki itu dan sama sekali tidak ada penolakan. Aku hanya diam menatap pemandangan di depanku. Perlahan, mataku memerah dan perih. Lalu, ketika air mata ini mulai menetes, kututup mataku hingga cairan bening mengalir di atas pipiku. Aku tidak peduli, asal Jujung tidak menyadari. Jujung tidak tahu aku menangis. Aku berusaha keras untuk tidak menggetarkan punggungku. Aku tidak mau merusak suasana. Aku ingin tetap bersandar di bahu laki-laki itu untuk sebentar saja. Sembari bernostalgia seorang diri, mengingat masa kejayaan cinta kami yang aku kira akan abadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD