Kesempatan Yang Disiakan

1002 Words
Aku pikir ada sesuatu hal yang penting yang ingin Jujung katakan padaku. Nyatanya, kami berdua hanya berdiam diri beberapa saat di taman. Ketika kepalaku yang bersandar di bahu Jujung aku angkat, laki-kai itu mulai membuka suaranya. "Tik." Aku menoleh, menatapnya. Jujung tak menatapku, hanya menatap bunga-bunga yang bermekarang yang ada di hadapan kami. "Ya?" jawabku. Antusias mulai naik ketika aku pikir kami akan mulai mengobrol. Nyatanya, tidak sama sekali. Jujung pun berdiri, membuatku semakin mendongak saja saking menjulangnya laki-laki itu. Ia pun sama, menunduk menatapku. "Aku duluan ya. Ada kelas setelah ini," katanya dengan nada dipaksa. Aku tak yakin Jujung ada kelas setelah jam istirahat ini, karena aku juga hafal sekali jadwal Jujung. Ah, kecuali jika laki-laki itu memang ada kelas pengganti. Rautku yang antusias tadi menurun. Jelas sekali aku kecewa. Aku kira kami akan mengobrol panjang entah apapun jenis obrolannya, yang penting aku bersama dengan Jujung. Tetapi, dia malah berpamitan padaku dan meninggalkanku sendirian di taman ini. Setelah aku mengangguk, Jujung benar-benar pergi. Punggung laki-laki itu terus kutatap sampai hilang di telan bangunan. Yang tersisa hanya aku yang diam sendirian di sini. Angin yang berembus terasa semilir membuat rambutku berterbangan. Tetapi, suasana tidak sama sekali terasa nyaman. Aku jadi melow, aku ingin menangis, mengapa Jujung semakin hari semakin dingin saja sikapnya kepada diriku. Seharusnya aku menyadarinya, tetapi aku tetap tidak bisa secepat itu menerima semuanya. Yang bisa aku lakukan sekarang hanya mengembuskan napasku yang terasa lelah. "WOI!" Ah, seseorang mengejutkanku. Tidak lain dan tidak bukan, bisa kutebak dengan wajahku yang lelah, ada Amelia yang sudah duduk di sampingku dengan membawa satu cup es teh. "Lo ngapain sendirian di sini? Jam istirahat bukannya makan siang, malah ngelamun di sini!" tegurnya dengan gaya sok asik seperti biasanya. Lalu, dirinya seperti teringat suatu hal. Mempersiapkan diri sembari menaruh es teh di samping tempat duduknya yang masih ada ruang, lalu dirinya menggeser duduk hingga menghadapku. Wajahnya mulai serius dengan tangannya yang seirama dengan emosinya kali ini. "Gue lihat hari ini lo dekat sama Juwana. Balikan apa gimana?" tanyanya dengan kedua mata yang melotot. Yang bisa kutebak apa yang akan ditanyakan oleh perempuan itu. Aku urung menanggapi, hanya lagi-lagi mengembuskan napas saja. Amelia mulai menggoyang-goyangkan tubuhku. Perempuan itu sangat memaksa sekali aku untuk menjawab pertanyaannya. Dasar perempuan kepo! "Ayo lah, Tik. Cerita dong. Kan katanya kita temanan?" Dirinya mulai memaksa dengan bola mata berkilauan, sok imut. "Idih ... sejak kapan gue bilang kalo kita temenan?" ucapku dengan ketus. Hanya bercanda saja saking geramnya aku menanggapi Amelia yang suka memaksa seperti ini. Ia pun mengerucutkan bibirnya. Membalik badan, lalu menyeruput sisa es tehnya. "Mau es teh?" Tangannya terulur dengan es teh yang ada di hadapanku. Aku menggeleng, mendorong es teh agar tak dekat-dekat dengan wajahku. "Udah habis, baru nawarin. Teman macam apa?!" Lalu Amelia hanya meringis, benar-benar definisi teman yang sesungguhnya, yang suka membuat emosi naik dan turun dengan waktu yang berdekatan. Walau es teh milik Amelia sudah habis, tetapi masih tersisa dengan es batunya. Ia pun berganti dengan mengunyah es batu tersebut dengan berisik. Jujur saja tidak menggangguku karena aku cukup suka juga mengunyah es batu. "Eh tapi seriusan deh gue benar-benar penasaran," katanya dengan mulut yang penuh es batu, sehingga perkataannya tidak cukup jelas. "Idih ...." Aku menatapnya dengan ekspresi jijik. Ia pun memukul bahuku sampai satu es batu yang memenuhi mulutnya itu tersembur. Reflek aku berdiri. "Amel!" "Maaf, Tik. Nggak sengaja!" Ia malah ketawa-ketawa. Padahal aku sudah benar-benar kesal karena membuat beberapa titik bajuku basah. Setelahnya, aku kembali duduk di samping Amelia. "Lo sih. Kalau makan es batu jangan di tempat umum. Lo nggak malu apa kalau ada yang lihat? Apalagi your crush." Aku menggodanya. "Gue nggak punya crush!" Amelia menyangkal. "Masa?" Kali ini aku yang berganti menggodanya. Amelia sudah balik merasa sebal saja, sementara aku merasa semakin bahagia. "Lo bayangin deh, crush lo selama ini ternyata juga suka sama lo!" "Nggak!" Amelia malah mengelak. Padahal jika memang benar, bukan kah hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan san kabar baik? Aku pun menggelengkan kepala. Tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiran Amelia. Lalu, mataku melotot dengan tiba-tiba menatap perempuan itu. "Apaan sih?" katanya dengan risih. "Apa jangan-jangan selama ini lo suka sama gue?!" tanyaku dengan syok. Lalu tak tanggung-tanggung Amelia mengetuk kayu tempat kami duduk dan lalu mengetuk dahinya. "Amit-amit ya Tuhan, amit-amit! Lo kalo ngomong bisa pake bismilah nggak sih?" katanya dengan kesal. Padahal aku hanya bercanda saja. Lagian, suka sesama jenis untuk zaman sekarang menurutku semakin banyak saja yang terang-terangan, berbeda dengan dahulu. Entah lah, aku tidak mau mengurusi hal itu yang jelas-jelas bukan urusanku. Karena urusanku hanya lah mencintai Jujung. Ah, Jujung lagi Jujung lagi. "Lo tuh, urusin urusan lo sama Juwana. Urusin juga gimana Della pada akhirnya?" Aku langsung tersadar. Della. Aku belum mengatakan apapun tentang Della kepada Jujung. Seharusnya tadi aku mengatakan tentang rasa penasaran yang mengganjal di hatiku tentang Della dan pertunangan mereka yang terasa mendadak. Tetapi aku malah diam saja. Padahal, momen untukku dan Jujung duduk berdua dengan tenang saat ini seperti harimau yang ada di hutan Sumatra, yaitu sebuah kelangkaan. "Gue belum bilang apa-apa," kataku dengan nada rendah. Suasana menjadi sedikit hening. Amelia pun terlihat menatapku dengan kasihan. "Lah, terus kan tadi lo sama Jujung keluar bareng. Terus lo ada di sini. Gue kira lo udah ngobrolin masalah ini." Aku menggeleng. "Boro-boro. Jujung aja juga nggak banyak ngomong kayai biasanya." Amelia benar-benar melihatku dengan tatapan prihatin. Dirinya juga terlihat berpikir beberapa kali untuk mengatakan ucapannya selanjutnya. Mungkin agar ucapannya tidak akan menyakitiku. "Kok bukan lo yang ngomong duluan. Bodoh!" Ah, ternyata yang namanya Amelia tetap saja Amelia. Dirinya adalah definisi frontal yang sesungguhnya. Tetapi aku tidak menyangkal dan tidak marah. Memang sudah seharusnya jika Jujung tidak banyak bicara, harusnya aku yang banyak bicara agar kami tak terperangkap dalam keheningan. Padahal, kebersamaan kami adalah hal yang sulit dilakukan saat ini, tetapi aku malah menyia-nyiakan dan sekarang kalau boleh jujur, aku merasa menyesal. Jika waktu bisa diulang, aku ingin mengobrol dengan Jujung. Entah membahas mengenai pertunangannya dengan Della, atau hanya sekadar mengobrol ringan saja, karena aku benar-benar merindukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD