Kekehan Miris

1006 Words
Perlu berpikir beberapa menit bagiku untuk mengirim pesan lagi pada Jujung, padahal pesan terakhir yang aku kirimkan belum juga dibalas olehnya walau sudah dibaca. Aku tidak yakin apakah Jujung benar-benar ada kelas lagi setelah jam istirahat ini. Kalau aku, sudah pasti sudah pasti sudah tidak ada kelas. Tetapi, aku tak mau langsung pulang ke rumah kostku. Awalnya memang ingin langsung pulang saja, tetapi malah Jujung yang katanya ingin mengobrol denganku yang kemudian ternyata tidak mengobrolkan hal apapun. Setelah Amelia pergi karena dia ada urusan sendiri, aku pun jadi sendirian di taman ini. Kuketikkan sesuatu pada ponselku di ruang obrolanku dan Jujung. Isinya seperti ini; Jujung, ayo ketemu. Hanya itu saja, dan langsung aku kirimkan pada laki-laki itu. Jika tadi aku sempat menyapanya dengan sebutan Juwana, kali ini aku kembali memakai julukan Jujung yang memang sudah mendarah daging di hati dan pikiranku. Seperti yang aku duga sebelumnya, Jujung adalah Jujung yang memang tidak pernah menunda-nunda untuk membaca pesan. Entah pesan dariku atau pesan dari orang lain. Jujung sangat menghargai itu, salah satu sifat yang aku suka darinya dari ribuan sifat baik Jujung lainnya. Kalau dipikir-pikir, memang aku bisa jadi menjadi orang yang rugi karena telah melepas Jujung begitu saja. Ah, aku jadi berfikir. Apakah sebenarnya Jujung ingin aku memperjuangkan dirinya dari perjodohan ini? Tak lama setelah tanda centang dua berganti menjadi warna biru, satu pesan masuk dari Jujung aku terima. Katanya seperti ini; di mana, Tik? kapan? Aku tak langsung menjawab, karena diriku perlu berpikir untuk menentukan tempat dan waktunya. Seharusnya sih saat ini juga karena aku masih ingin melihat wajah Jujung. Tetapi kapan pun ia bisa, aku juga pasti bisa. Jujur, Jujung memang sejak dahulu lebih sibuk daripada aku dengan segala kegiatannya. Tetapi, yang membuatku lagi-lagi mencintainya adalah ia tidak pernah tidak ada waktu untukku. Lalu aku pun membalasnya; kamu kapan ada waktu luang? Tidak sampai sepuluh detik, aku kembali menerima balasan darinya. Seperti ini; kamu di mana sekarang? Ah, apakah Jujung ingin bertemu sekarang juga? Kalau begitu, apakah kelas Jujung sekarang ini batal? Ya sudah, karena aku ingin segera bertemu dengannya, aku langsung membalas lagi. Tak mau membuat Jujung berubah pikiran atau tiba-tiba saja ada kegiatan yang harus ia lakukan. Jawabku seperti ini; aku masih di tempat yang tadi, Jung. Setelah dibaca olehnya, beberapa detik berlalu tidak ada balasan. Kuembuskan napasku sembari berpaling dari tatapanku di ponsel. Aku memilih untuk menatap sekitar di mana ada beberapa mahasiswa yang berlalu lalang. Di mana dari mereka mungkin saja ada sepasang kekasih yang sedang bercanda. Atau juga mungkin mereka hanyalah teman yang sudah sangat akrab. Kalau dipikir-pikir, aku tidak dekat dengan laki-laki manapun di kampus ini selain Jujung dan Mas Tayoga. Ah, aku baru memikirkannya. Padahal aku dekat sekali dengan Jujung dan dengan Mas Tayoga pun aku juga sangat dekat. Tetapi, anehnya kenapa aku tidak memiliki teman laki-laki yang lain? Mungkin hanya teman satu kelas, itu pun benar-benar yang hanya bertegur sama seperlunya saja. Jujung tahu jika aku dekat dengan Mas Tayoga. Jujung tidak pernah keberatan katanya. Tetapi, apa mungkin Jujung benar-benar tidak merasa keberatan atau ia hanya membiarkan diriku dekat dengan Mas Tayoga? Karena kalau dipikir-pikir, kedekatanku dengan Mas Tayoga memang sudah sangat dekat sekali, bahkan hampir sedekat aku dengan Jujung. Atau mungkin ini semua penyebab Jujung tidak memperjuangkan hubungan kami ketika ia dijodohkan? Ya, itu semua harus aku bicarakan dengan Jujung saat ini juga, agar tidak terjebak berlama-lama di pikiranku. Aku tidak perlu menunggu lama. Jujung orangnya sat set sat set alias tidak suka membuat orang lain menunggu juga. Aku sudah bisa melihatnya muncul di balik gedung. Wajahnya datar tetapi pesonanya tetap terpancar. Dengan angin semilir yang berembus, beberapa kali bisa menerbangkan rambutnya yang sedikit panjang. Ketika mata kami saling beradu dalam kejauhan, sungguh sialnya Jujung malah tersenyum padaku, membuatku tak tahan untuk tidak tersenyum juga. Manis sekali dan tampan, dan jangan lupa jika senyum dan tatapan itu yang selalu aku rindukan. "Tik," ucap Jujung ketika sudah berada di hadapanku. Ia langsung duduk di sampingku, kali ini Jujung sedikit menyerongkan duduknya dan menatapku. Berbeda dengan tadi, di mana kami hanya duduk bersebelahan tanpa saling menatap wajah satu sama lain. "Kamu ada yang mau diomongin?" kataku, yang terlebih dahulu menawarkan dirinya untuk mengatakan apapun terlebih dahulu kepada diriku. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu dan berjaga-jaga kalau aku yang mengatakan duluan, bisa jadi ia mengurungkannya. Jujung mengatupkan mulutnya. Ia nampak berpikir sejenak tetapi tatapan matanya tidak lepas ke arahku. Ia mengunci tatapanku juga sampai-sampai aku dibuat merinding. Tidak, lebih tepatnya hatiku kembali bergetar. Bisa dibilang kami putus bukan dengan cara yang baik-baik saja karena Jujung yang memutuskanku secara sepihak. Tetapi beruntungnya, kami masih bisa bertemu seperti sekarang ini. Aku merasakan ada yang hangat. Tanganku. Tanganku digenggam oleh Jujung secara tiba-tiba. Aku terkejut, tetapi memilih terpaku dan lagi-lagi tak mau mengalihkan tatapanku pada manik cokelat yang teduh itu. Perlahan mulut Jujung terbuka, dan sebuat kalimat yang berhasil menggetarkan hatiku kembali terdengar, setelah betapa sakitnya perasaanku tercabik-cabik oleh kalimat putus yang laki-laki itu lontarkan. "Aku sayang sama kamu, Tik." Aku tidak salah dengar. Aku yakin sekali jika indra pendengaranku masih berfungsi dengan baik. Jika beberapa hari yang lalu aku tidak mau percaya ketika Jujung memutuskan hubungan kami, tetapi untuk saat ini aku benar-benar percaya jika Jujung mengatakan bahwa dirinya masih menyayangiku. Aku masih diam membeku, berucap syukur untuk beberapa kali. "Aku sayang sama kamu, Tik." Bahkan, dengan wajah tampan itu Jujung mengatakan untuk kedua kalinya jika dirinya menyayangiku. "Aku masih cinta sama kamu, Tik." Bibirku bergetar. Ya. Aku tidak salah dengar. Sayang dan cinta adalah perpaduan sempurna untuk seseorang bisa menjaga dan bersatu. Memang sudah seharusnya takdir Jujung adalah diriku dan takdirku adalah Jujung. Persetan tentang perjodohan. Seharusnya memang kami sepakat untuk memperjuangkan hubungan kami. Ada banyak cara yang bisa ditempuh walau harus menentang resty orang tua. Ada cara yang paling halus sampai paling dibenci Tuhan. Kalau perlu aku bisa memilih opsi terakhir. Tetapi, sepertinya Jujung masih tetap dengan pilihan orang tuanya setelah aku mendengar kalimat selanjutnya dari dirinya. "Tapi aku nggak bisa, Tik. Aku pengen kita kayak dulu, tapi perjodohan ini nggak bisa aku hindari." Aku pun terkekeh, miris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD