Sedikit Perdebatan

1116 Words
Kalau sudah seperti ini, memang benar tidak banyak yang bisa kami lakukan. Aku juga paham posisi Jujung. Aku tidak tahu apa alasan keluarga Jujung dan Della melakukan perjodohan ini. Entah penyebab yang begitu penting atau hanya sesepele karena ingin menjadi mantu saja. Untuk bertanya pada Jujung mengenai alasannya pun aku merasa tidak enak. Aku tidak mau mencampuri urusan keluarga Jujung, apalagi ini ditambah dengan urusan keluarga Della juga. Aku yang tadinya terkekeh miris, kini hanya bisa mengembuskan napas karena merasa lelah saja dengan keadaan seperti ini. Jujung masih menggenggam tanganku. Ia tidak melepaskannya, begitu pula dengan diriku yang tidak ingin lepas dari genggaman Jujung. "Kamu nggak mau berusaha berjuang?" tanyaku. Sebenarnya aku tak tega jika harus bertanya perihal berjuang ini sekarang, karena sekali lagi aku tidak berada di posisi Jujung dan aku tak tahu apa yang dirasakan Jujung saat ini. Selain itu, aku juga tak ingin membuat Jujung merasa terbebani dengan permintaanku barusan. Jujung diam sejenak untuk menciptakan keheningan di antara kami berdua. Selanjutnya, salah satu tangan Jujung juga mengepal ke tangannya yang menggenggam tanganku. Jujung pun menggeleng, tetapi dirinya sambil memaksa untuk tersenyum. "Aku enggak tahu gimana caranya, Tik," katanya. Yang entah mengapa malah membuatku kesal dalam hati, tetapi aku tetap tidak bisa menunjukkan kekesalanku pada Jujung. Aku hanya berkata dengan pelan. "Kenapa, Jung?" tanyaku dengan nada rendah, seperti seorang pengemis yang memaksa diberi belas kasihan. "Ini rencana keluarga dari dulu," katanya dengan singkat, membuatku mengembuskan napas. Emosiku sedikit naik. Makanya, aku perlu waktu untuk mengaturnya dengan menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. "Rencana dari lama, tapi kita putus baru semingguan loh." Aku berkata dengan diakhiri kekehan. Sarkas untuk menyindir laki-laki dengan di hadapanku ini. "Aku minta maaf, Tik." "Buat apa minta maaf? Iya, Jung. Aku tahu sekarang ini yang kamu bisa cuma minta maaf. Tapi apa itu cukup?" Nada bicaraku sudah meninggi. Setelah aku sadari, aku tetap berusaha untuk mengontrol emosi. Aku tidak boleh terlihat marah-marah dan bertengkar dengan Jujung di sini, ditambah hari ini taman masih cukup dan dan suasana masih cukup siang. "Aku bingung, Tik. Aku cinta sama kamu, tapi aku nggak bisa nolak perjodohan ini." "Kamu udah bilang kalimat itu berkali-kali, Jung." "Iya aku tahu, Tik." "Terus?" Mataku melotot menatap Jujung, menangih solusi yang harusnya bisa diberikan laki-laki itu. "Aku masih belum yakin, tapi ayo kita coba sama-sama. Kamu mau?" Padahal, aku tidak tahu apa yang dimaksud Jujung. Tetapi aku langsung mengangguk dan mengiyakan. "Aku mau!" kataku dengan lantang. Karena aku pikir, itu adalah rencana untuk kami saling berjuang. "Kita harus coba buat nerima ini semua, Tik. Aku sama kamu punya takdir yang berbeda. Jadi, ayo kita coba buat saling melupakan." Kalimat yang keluar dari mulut Jujung seperti tidak diawali dengan bismilah. Aku yang mendengar itu otomatis terkejut dan membuat dadaku gemetar. Mataku sudah memerah saja. Pandanganku melirik ke atap gazebo tempat kami duduk, berusaha agar tidak ada air mata yang tumpah. Selanjutnya aku mengembuskan napas kasar dan siap untuk marah-marah. "Kamu nyerah?!" tanyaku dengan lantang. Selantang komdis sewaktu ospek yang memarahi mahasiswa baru. "Enggak. Aku hanya berusaha, Tik." "Iya. Kamu berusaha buat ngelupain aku? Aku salah apa, Jung?" Perkataanku memang kasar, aku sadari itu. Beruntungnya, saat ini tidak ada yang sedang lewat dan aku ingin memastikan tidak ada yang mendengar keributan kami. Jujung menggeleng pelan. Emosinya masih stabil, walau hanya dari sorot matanya saja aku sudah bisa membaca jika Jujung sedang sangat tertekan. Mungkin memang karena ucapanku yang cukup membuatnya tertekan. Namun, bagaimana pun ini semua karena aku ingin memperjuangkan hubungan kami. Ditambah Jujung yang ternyata masih sayang dan cinta padaku, membuatku merasa tidak adil jika dengan semudah itu aku merelakan Jujung untuk perempuan lain. "Kamu enggak salah apa-apa, Tik. Aku yang salah. Aku yang salah karena udah hadir di kehidupan kamu tapi aku malah mutusin kamu secara sepihak." Aku malah terkekeh mendengar ucapan Jujung barusan karena terdengar sangat lucu sekali. Sebelah tanganku memang masih digenggam oleh Jujung, tetapi sebelah tanganku bebas untuk menepuk lengan laki-laki itu. "Kamu lucu banget, Jung! Terus, kalau kamu udah sadar kamu salah. Kamu tetap nggak mau perbaiki kesalahan kamu? Minta maaf aja nggak cukup. Hahaha!" Bahkan tawaku sudah keras. Rasanya saking sedihnya, tak ada lagi air nata yang bisa keluar, dan hanya ada gelak tawa saja. "Karena memang nggak ada yang bisa diperbaiki, Titik. Kita udah selesai biar pun masih ada rasa satu sama lain. Pada akhirnya manusia enggak semuanya bisa bersatu." "Kamu pinter banget ngelesnya," kataku yang menyindir Jujung. Laki-laki itu sudah terlihat kesal karena ia mengembuskan napasnya dengan lelah. "Enggak gitu." "Gitu." "Titik ...." "Jujung ...." "Ayo lah, Tik. Aku mohon sama kamu." "Apa?" Jujung tiba-tiba diam menatapku dengan lelah. Aku yang ditatap seperti itu justru melengkungkan senyumku. Ya, aku lakukan ini semua agar tidak ada air mata yang tumpah di depan Jujung. Berusaha tegar, walau hatiku hancur berantakan. "Kenapa? Nggak bisa jawab?!" kataku setelah Jujung hanya diam saja selama beberapa saat. Kali ini aku benar-benar marah kepada Jujung. Biarpun begitu, aku tak ingin nada bicaraku terlalu kasar dan keras. Lagi-lagi dalam emosi ini, aku tetap harus mengontrol agar tidak melewati batas karena sekarang kami ada di tempat umum. "Kamu pernah mikir nggak, Jung?" Ucapanku menggantung beberapa detik. Mataku biarpun sudah berkaca-kaca menatap Jujung, tapi beruntungnya air mata ini tidak pecah bercucuran. "Aku emang enggak paham apakah Della suka sama kamu atau enggak. Tapi, kamu masih sayang dan cinta sama aku kan? Dan yang pasti Della tahu itu, Jung. Apa kamu ngagk mikirin perasaan Della?" Oke, kali ini aku membawa Della sebagai tameng. Padahal, sejujurnya aku tidak terlalu memikirkan perasaan Della karena masih ada prasangka buruk terhadapnya. "Keluarga, Tik." Aku tidak percaya jika tameng yang digunakan Jujung adalah tentang keluarganya. Maksudku, apa tidak ada alasan lain? "Jadi?" "..." "Aku percaya kalau kamu masih sayang dan cinta sama aku. Tapi apa mungkin rasa sayang dan cinta kamu sama aku bakal terus ada sampai nanti pertunangan itu berlangsung?" Jujung diam. Ia sangat berpikir keras. Jawabannya kali ini adalah yang aku tunggu-tunggu. Pada akhirnya Jujung menggeleng. "Sejujurnya aku enggak yakin, Tik. Pertunangan itu tinggal minggu depan. Aku enggak yakin." Senyumku tersungging. "Kamu tunangan sama Della, tapi hati kamu masih ada aku. Apa enggak lucu?" Selanjurnya, Jujung sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sampai akhirnya kutarik tanganku dari genggamannya. Aku pun berdiri, tetapi tanganku kembali ditahan oleh Jujung. Ia tidak berkata apapun, hanya menatapku dengan tatapan yang sangat ingin membuatku memeluknya, tetapi aku tidak bisa. "Jung, tolong kamu pikirin. Aku cinta sama kamu, kamu juga cinta sama aku. Tapi kamu tunangannya sama Della. Maaf kalo aku maksa, tapi aku benar-benar bisa kalau kamu mau kita berjuang sama-sama. Aku tunggu kabar dari kamu ya, Jung. Malam ini." Tanpa menunggu tanggapan dari Jujung, aku langsung pergi meninggalkannya, tidak peduli dengan Jujung yang masih memanggil namaku beberapa kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD