Seperti sebuah keberuntungan aku bisa bertemu dengan Jujung selama tiga kali dalam sehari setelah kami putus.
Malam ini, aku kembali bertemu dengan Jujung di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumah kostku. Alasan kami memilih kafe ini sebenarnya simpel saja. Ah, maksudku, Jujung yang memilih kafe ini entah karena apa, tetapi firasatku mengatakan bahwa laki-laki itu enggan menjemputku, makanya ia memilih kafe yang jaraknya tak jauh dan tak memakan waktu lama jika aku berjalan kaki menuju ke sini. Padahal, jika kami pergi ke kafe yang cukup jauh pun aku tetap bisa menaiki ojek online. Zaman serba modern seperti ini, sejujurnya aku tidak pernah mengharapkan tebengan dari orang lain termasuk Jujung. Akan beda cerita jika kami masih bersama, yang pasti Jujung akan setia mengantar dan menjemputku apabila ia ada waktu.
Aku belum bertemu dengan Jujung karena laki-laki itu belum datang setelah sepuluh menit aku duduk di sini sendirian. Kafe ini tidak cukup luas dan hanya menyediakam beberapa kursi saja. Karena pengunjung yang penuh, jadi aku tidak merasa kesepian. Suara live musik yang ada juga berhasil menghempaskan rasa lelahku menunggu Jujung.
Entah kenapa laki-laki itu belum juga datang, padahal biasanya Jujung selalu tepat waktu. Aku tetap berpikir positif. Mungkin saja Jujung terjebak macet di jalan walau seharusnya tak sampai sepuluh menit juga, tetapi jalanan memang kadang-kadang suka macet mendadak karena beberapa kali juga aku pernah melihat truk berisi logistik sebuah toko yang menurunkan barang, mungkin hal tersebut juga sedang terjadi saat ini dan membuat Jujung terjebak kemacetan.
Sudah pasti aku telah memesan minuman. Simpel saja, walau di kafe yang menurutku tempat ini cukup mahal dan diperuntukan untuk kelas atas, aku tetap memesan es teh dengan harga hampir dua puluh lima ribu rupiah untuk satu gelasnya. Lumayan mahal sekali untuk seukuran es teh biasa. Tetapi tidak apa dari pada aku memesan minuman lainnya yang sesungguhnya masih jauh lebih mahal.
Sampai es teh yang ada di hadapanku tinggal setengah dan es batunya telah mencair, Jujung tak kunjung hadir juga. Tidaj ada tanda-tanda Jujung akan segera datang ketika aku mengecek ponsel di mana sudah mulai malam. Kami janjian pukul setengah delapan malam dan sekarang sudah jam delapan malam lewat lima menit. Yang berarti Jujung sudah terlambat lebih dari setengah jam. Kenapa lama sekali?
Aku adalah manusia. Aku adalah manusia yang sedang menunggu seseorang. Aku adalah manusia yang mencintai dan menyayangi Jujung. Ketika aku sedang menunggu seseorang yang aku cinta dan aku sayang tak kunjung datang, tidak perlu memakai aba-aba, pikiranku berganti kacau tak karuan.
Aku pun mengecek ponsel yang ternyata masih belum ada tanda-tanda dari Jujung. Daripada menunggu dengan perasaan yang was-was, akhirnya aku memutuskan untuk menekan tombol telepon di kontak bernama Jujung.
Kudekatkan ponselku ke telinga dan sudah ada tanda-tanda teleponku tersambung. Namun, beberapa saat aku menunggu, tidak ada suara dari Jujung yang dapat kudengar, yang ada hanya suara operator yang menyarankan diriku untuk mencoba menelfon beberapa saat lagi.
Aku mengikuti perintah operatoe itu. Sepersekian detik setelah sambungan berakhir, aku kembali mencoba untuk menelfon Jujung. Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya aku bisa mendengar suara Jujung.
"Hallo, Titik?"
Ah, bukan. Bukan suara dari sambungan telepon yang aku dengar, tetapi suara Jujung langsung yang saat ini laki-laki itu sudah berdiri di hadapanku tanpa kusadari.
Aku cukup terkejut, tetapi aku lebih merasa lega karena pada akhirnya Jujung datang juga. Syukurlah jika Jujung sehat walafiat karena tadi pikiranku sempat macam-macam ke mana mana.
"Jujung ...," ucapku yang penuh syukur sembari menatap laki-laki itu dengan bahagia.
Jujung langsung duduk di kursi yang ada di sampingku alihy kursi yang ada di hadapanku. Entah apa maksudnya. Apakah dia sengaja menghindari kami untuk saling tatap atau memang Jujung ingin dekat denganku. Aku tidak tahu. Tetapi, aku berharap opsi nomor dua adalah jawabannya.
"Maaf ya, Tik. Aku terlambat lama banget. Maaf udah buat kamu nunggu," ujarnya dengan nada tulus. Napasnya nampak ngos-ngosan, entah karena apa, aku belum menanyainya.
"Kamu udah lama ya nunggunya?" tanyanya lagi. Memang benar aku sudah menunggu lama, tetapi tidak apa karena pada akhirnya aku bertemu juga dengan Jujung.
Aku pun mengangguk, tetapi tidak berkata apa-apa.
Lagi-lagi Jujung masih merasa bersalah. "Sekali lagi aku minta maaf ya, Tik."
Lalu aku tersenyum. "Enggak papa. Aku selalu nunggu kamu, Jung."
Jujung pun tertegun diam menatapku. Ditatap seperti itu sebenarnya membuat diriku merasa bersalah karena memang ucapanku yang terlalu sarkas.
"Eh kamu mau pesen minum apa?" tanyaku kemudian, tidak ingin suasana menjadi canggung.
"Umm apa aja."
Sebelum melanjutkan obrolan kami, aku mengangkat tangan untuk memanggil pelayan. Aku memutuskam untuk memesankan Jujung minuman yang sama denganku tanpa menanyakan pada dirinya apakah ia mau minum es teh. Tak apa, es teh adalah minuman sejuta umat dan aku sudah sangat paham jika Jujung juga doyan minum es teh.
"Kamu mau makan?" tanyaku lagi.
Jujung menggeleng. "Enggak usah deh, aku tadi usah sempat makan."
Mendengarnya, aku sedikit kecewa. Aku pikir kami datang ke sini juga untuk makan malam, tetapi rupanya Jujung sudah makan duluan. Padahal, biasanya kami akan sekalian makan malam bersama jika sedang keluar malam bersama-sama.
Rupanya, Jujung dapat melihat raut wajahku yang kecewa.
"Kamu belum makan ya?!" tanyanya, tetapi lebih seperti memarahi karena nadanya yang cukup ketus.
Aku pun menggeleng. "Belum," jawabku dengan singkat.
Jujung mengembuskan napasnya. Sepertinya ia sedang kesal. "Titik, kamu itu nggak perlu nunggu aku buat makan malam. Kamu bisa makan duluan. Nanti kalau kamu telat makan, terus sakit, gimana? Kamu jaga kesehatan kamu dong, Tik," katanya menasihati.
Tetapi, apakah aku salah jika aku ingin makan bersama Jujung dan aku memilih untuk menunggu dirinya terlebih dahulu?
"Mbak, tambah es teh satu ya," kataku pada pelayan, sebelum aku menanggapi perkataan Jujung.
Setelah mbak-mbak pelayan itu pergi, kali ini aku menatap Jujung untuk menanggapi perkataannya yang tadi.
"Jung, biasanya kita bakal makan bareng loh kalo lagi di luar. Emang salah ya aku nungguin kamu biar kita bisa makan bareng?" tanyaku, dengan tatapan yang tidak beralih pada manik cokelat itu.
"Ayo lah, Tik."
Ucapan Jujung aku putus. "Ayo apa? Jung ... apa harus secepat ini aku ngelupain kebiasaan-kebiasaan kita selama pacaran? Apa kamu udah kelupain semua ini juga? Tapi bahkan buat sekadar makan malam bareng itu seharusnya bukan hal yang harus dihindari. Aku tahu kamu bakal jadi tunangannya Della. Tapi tolong, Jung, jangan paksa aku buat cepat-cepat lupain ini semua."
Jujung pun terdiam.
"Udah lebih dari satu minggu kita nggak makan bareng, Jung. Jadi apa salahnya aku berharap bisa makan bareng sama kamu lagi? Apalagi sekarang ini kita lagi ada di kafe, jadi ya pikiranku kayak gitu."
"Tik, maafin aku ya," ucapnya dengan pelan, tangannya menggenggam tanganku.
Aku menggeleng. "Enggak perlu minta maaf," jawabku dengan ketus.