Siapa yang akan patah?

862 Words
"Aku telah memberimu hatiku, Jadi jangan Kau Kembalikan dalam bentuk kepingan" Ayesha duduk di pendopo jurusan Ia memutar-mutar ponselnya dengan muka yang masih di tekuk. Ia masih menebak alasan apa yang akan di berikan Adrian ketika Ia menunjukkan foto ini, sementara di lain tempat Adrian menemui Gladysse untuk mengembalikan access card lift apartemen Gladysse, Ia takut membuat Ayesha curiga jadi sengaja tidak memberi tahu Ayesha kalau akan menemui Gladysse dulu "Adrian" senyum Gladysse merekah melihat Adrian datang. "Gue cuma mau balikin ini" Adrian meletakan sebuah kartu dan Flashdisk begitu saja di atas meja kantin. Gladysse menatapnya lalu mengambil kartu itu, Ia bangkit dari seberang meja untuk duduk di samping Adrian. "Kalo gitu Gue pergi dulu" Adrian ikut berdiri ingin segera pergi menemui ayesha tapi ditahannya lengan Adrian. "Tunggu dulu!" Gladysse mengeluarkan ponsel dari tasnya kemudian memutar sebuah video berdurasi cukup lama dan memutarnya di samping Adrian. Adrian menoleh merasa ada yang tidak beres "Apa-apaan Kamu Dyss?kamu diem-diem ngerekam semalem?" Adrian kaget melihat rekaman video mereka saat di apartemen yang diam-diam di rekam Gladysse, Ia berusaha merebut ponsel Gladysse tapi kalah cepat. Gladysse memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. "Tenang aja Adrian sayang, video ini akan aman yang penting Kamu jadi pacar gelap Aku" Gladysse belum mau melepas pacarnya yang menopang kehidupan mewahnya selama dia kuliah "Aku ga minta show on kok" lanjutnya. Dia hanya ingin bermain-main dengan Adrian, jiwa petualangnya berambisi untuk menaklukan Adrian, toh pacar Gladysse juga sudah punya tunangan, jadi Ia bebas dengan yang lain juga. "Mau Kamu apa sih Dyss? hapus ga video itu!" Adrian mengeratkan rahangnya sehingga giginya berbunyi gemeretuk. Gladysse menoleh kemudian tersenyum penuh makna, Ia sandarkan kepalanya di pundak Adrian. "Cukup ada saat Aku butuh, simpelkan" "Sakit Kamu Dyss, ya ga bisalah Aku selalu ada buat Kamu" "Terserah Kamu, atau video ini akan sampe di ponsel Ayesha" Gladysse menepuk-nepuk tangan Adrian "Sekarang kalo Kamu mau nyamperin Ayesha, silakan!" "Aku ga akan pergi sebelum kamu hapus videonya" "No, sayang!" Jawabnya sambil berlalu meninggalkan Adrian yang sedang menahan amarahnya. Adrian ingin berlari menyusul Gladysse tapi tidak ingin gosip antara mereka semakin panas. Adrian bukan tidak tau gosip yang sedang beredar antara mereka, makanya Ia berusaha menjaga jarak dengan Gladysse. Tapi jiwa kemanusiaannya sangat tinggi sehingga tidak peka kalau akan di jebak Gladysse seperti semalam. Adrian juga bersalah dalam hal ini. "Gladysse!" panggil Adrian tapi tidak dihiraukan, Ia menyesal tergoda rayuan Gladysse apalagi ternyata ini jebakan, tapi percuma saja tidak akan merubah keadaan juga yang terpenting sekarang video itu harus dimusnahkan. "Sh*ttt!!!" umpatnya kesal. Ia meninggalkan kantin menemui Ayesha di jurusan, Ia harus tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa jangan sampai membuat Ayesha curiga. "Hei, ngelamun aja pacar Aku" Ayesha tidak menjawab pertanyaan Adrian, Ia menyodorkan ponselnya. Adrian menahan nafas sedikit terkesiap, tapi Ia mencoba tetap tenang. Dilihatnya beberapa foto tadi saat Ia sedang di kantin bersama Gladysse. "Sial" Adrian mengumpat pelan, Ia tidak menyangka semenjak kenal dengan Gladysse ada saja masalah yang Ia temui, ditambah sekarang seperti ada penguntit yang selalu mengikuti dia kemana-mana. Ia harus semakin waspada dan memutuskan masalahnya. "Ooo...jadi ini yang bikin kamu dari tadi cemberut, iseng amat yang kirim gambar ini" Ayesha menatap mata Adrian tajam penuh selidik. "Jadi gini, tadi Aku abis ngebalikin flashdisk dia aja ko, kebetulan isinya laporan anak-anak juga" Adrian mengirim nomor yang mengirim foto dia dan Gladysse saat di kantin ke ponselnya. Ia berencana menyelidiki siapa pengirimnya nanti. "Iya, tapi Gladysse songong mulai berani nyender-nyender di bahu kamu, Kamu juga kenapa ga pindah malah nikmatin kan" Ayesha ngomel-ngomel malah makin terlihat cantik di mata Adrian, jujur Ia sangat takut kehilangan Ayesha. Gadis yang selama ini selalu menemaninya. belum pernah terbersit di benak Adrian untuk menggantikan posisi Ayesha dengan yang lain. kesalahannya hanya satu saat ini, tergoda jebakan Gladysse. "Kalo itu Kamu liat kan Aku berusaha menghindar, kalo Kamu ga percaya coba tanya Sandra Flashdisk Gladysse dibawa Aku" Adrian memang tidak sepenuhnya berbohong mengenai pertemuannya tadi di kantin dengan Gladysse, tapi Ia menyembunyikan hal lainnya pada Ayesha. Semoga saja tidak ada anak-anak yang melihatnya semalam saat membonceng Gladysse. Ia harus mencari cara agar rekaman video tadi tidak sampai kemana-mana. "Kenapa Kamu ga bilang tadi ketemuan sama Gladysse dulu?" "Ya, Aku pikir ga penting juga, Aku ga kepikiran Gladysse bakal kayak gitu" Ayesha tidak masalah jika memang adrian harus bertemu dengan Gladysse, ia sedikit kecewa karena Adrian tidak memberitahunya dulu, Ia malah tau dari orang lain yang bahkan Ia tidak kenal siapa orang itu. "Maaf ya Sayang, lain kali Aku bilang kalo mau ketemuan sama Gladysse" "Siapapun, ga cuma Gladysse" ralat Ayesha "termasuk sama dosen?" "Ya pokoknya siapapun yang berpotensi mengganggu hubungan kita" Ayesha berkata tegas menatap mata elang milik Adrian. "Oke" Jawab Adrian sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Yaudah Kamu jangan ngambek lagi ya, nanti sore kita ke pantai, Ok" Ayesha menaikan salah satu sudut bibirnya. "Yang lebar dong senyumnya, kalo ga nanti bibir Kamu Aku gigit" Adrian menowel dagu Ayesha, mata Ayesha melotot mendengar ucapan Adrian. "Dasar m***m!" "Tapi suka kan!" Ayesha memukul bahu Adrian lalu menyunggingkan senyuman. "Gitu donk!" ditariknya badan Ayesha hingga bersandar di lengan Adrian. Adrian berharap kebersamaan ini akan selalu terjaga, Ia belum bisa membayangkan jika Ayesha harus pergi darinya karena ulah Gladysse. Ia akan sangat patah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD