Mata Bening Indira

1725 Words
Pagi yang cerah, sinar matahari menyinari wajahku dari sela-sela tirai jendela, ku rentangkan kedua tanganku meregangkan otot-otot seluruh tubuh. Adrian kemana ya semalam, tumben banget ga balas panggilan, mungkin Ia terlalu lelah menjadi panitia tak apalah lagipula hari ini tidak ada jadwal kuliah. Aku meraih handphone yang kuletakan di atas nakas dan menyalakannya. Drrttt, beberapa pesan masuk dari Adrian, grup dan yang lain, ku lihat pesan di bawah grup ada pesan dari Attar, pagi amat dia WA, tumben. [Woiii, Bapau ada jadwal ngampus ga hari ini?] Aku tersenyum membaca pesan dari Attar. Dia sekarang punya panggilan baru buatku, katanya karena pipiku chubby dia memanggilku dengan sebutan bapau, huh apaan bapau, tapi gapapa lucu juga sih, hihi. 'ga ada jadwal ke kampus hari ini yek, pengen jadi kaum rebahan' terkirim pesan ke Attar. Karena dia memanggilku 'Bapau' maka Aku memanggilnya Eyek, iyuhhhh, biarin aja lah, biar sama-sama punya panggilan khusus. [Morning Vibes, maaf semalam Aku ketiduran, cape banget, Kamu udah bangun? ] pesan dari My Lovely Shine, Ia siapa lagi kalau bukan Adrian, Aku menamakan Adrian di daftar ponsel dengan sebutan My Lovely Shine, hehe. Hmm, pantesan aja wa Aku ga di baca. Dasar Adrian kebluk kalau udah nempel bantal susah bangun. 'Aku marahlah sama Kamu, ga tau di sini khawatir malah enak tidur' masih enggan rasanya beranjak dari kasur, Aku pura-pura merajuk sama Adrian bete juga sih sebenernya nungguin sampe malem malah ditinggal tidur, huft. Resiko sih punya cowok aktif di organisasi. Sebuah panggilan masuk dari Adrian, sengaja tidak langsung kuangkat, biarkan saja Aku sibuk membalas pesan dari Attar dan yang lain. Mungkin Ia lelah karena tidak di angkat-angkat sehingga mengirim wasap [Yank, online tapi panggilan Aku ga d jawab] 'Aku lagi sibuk Yank, balesin pesan-pesan masuk dari semalem' hihi, padahal ga sesibuk itu sih, bodo ah biarin aja sekali-kali Aku yang sibuk. [Hmm, jadi ceritanya mau bales Aku nih] [Aku minta maaf yah, udah ya ngambeknya, emot berkaca-kaca] biar saja tak ku balas lagi. Suara notifikasi pesan dari Adrian masuk berulang-ulang ku abaikan. Aku beralih membaca pesan Attar. [Pau, ke kampus ya hari ini, Aku hari ini ke kampus Kamu loh, emang ga mau ketemu orang ganteng? ] ya ampun Attar selebai itu coba, dia selalu membahasakan dirinya orang ganteng padahal tanpa ia bilang pun emang udah ganteng dari lahir, eh, apalah Aku ini malah ikut muji-muji dia, tapi Adrian ga kalah ganteng lah. Adrian lagi, Aku kan lagi ngambek sama dia. 'Orang ganteng lebaiiii, jemput ya!' [Oke, Aku udah di rumahmu nih dari tadi, lagi ngobrol sama nyokap] 'Seriusss? Demi apa?' Aku segera merapikan rambutku yang awut-awutan, tiba-tiba pintu kamar di ketok. Tok tok tok, "Bapauuu, bangunnn, anak gadis jam segini masih ileran" mendengar pintu kamar diketok Aku melompat dari kasur melempar sembarangan selimut. "Mamaaa, ko ga bilang Attar ada disini daritadi" teriAku ke Mama yang sepertinya sengaja ngerjain anak gadisnya, ternyata bener Attar daritadi udah di rumah. "Udah dari subuh Mama bangunin, Kamu aja yang kebluk ga bangun-bangun, tidur apa latihan jadi jenazah?" suara Mama tak kalah dengan teriakanku, pasti asal suaranya dari dapur karena tercium harum masakan Mama. "Astagfirullah, Mama jahat ihhh" Aku segera membuka kunci kamar dengan wajah masih khas bangun tidur. Ku lihat Attar tersenyum menampakan gigi putihnya di depan pintu kamar. Ia mengacak-ngacak rambutku dan nyelonong masuk ke kamar. "Mandi sana, Aku tunggu 5 menit udah kelar" seenaknya saja dia perintah, Attar memungut selimut yang kulempar dari kasur tadi dan melipatnya. Jadi malu, untung cuma sahabat coba kalo lebih bisa membuat nilai mines dimatanya, lagipula memang siapa yang mau pacaran sama Attar, cowo nyebelin dengan tingkat kepedean di atas dewa. "Anak gadis jam segini masih selimutan, kalah sama kuli pasar" sekali lagi Ia menarik tirai warna putih tulang yang menutupi jendela kamar sehingga matahari tidak lagi malu-malu menyinari kamar yang bernuansa putih dan grey. Sekarang ia duduk di meja belajar dan memegang fotoku dan Adrian, lalu meletakannya kembali. "Ck, siapa juga yang mau nyaingin kuli pasar lagian baru jam 7 kok, ga ada kuliah juga" Aku mencebik kesal karena Attar sudah mengganggu me time. Aku meraih handuk dan mengambil baju ganti di lemari, ya kali Aku mau ganti baju di kamar bisa panjang urusannya. Bergegas ku menuju kamar mandi yang terletak di antara kamar Mama dan kamarku. Coba bayangkan dalam waktu kurang dari setahun Attar sudah sedekat itu dengan mama, mama bilang sih mama suka Attar karena sopan dan tidak banyak tingkah juga, dia suka nyelonong masuk ke kamar juga karena Mama yang ngizinin, asal pintu di buka dan ada Mama Papa. Kalau Adrian Mama juga mengizinkan Aku pacaran dengan dia, suka ke kamar juga tapi pintu tetap di buka lebar-lebar. Keluar kamar mandi Aku sudah mengenakan kaos hitam dengan outer cemeroon lengan panjang warna peach dan celana kulot bercorak sama dengan outer. Rambut ku biarkan tergerai karena masih sedikit basah, sengaja tidak ku keringkan terlalu kering agar tidak cepat rusak. Kulihat Attar sedang menekuni layar handphonenya dan belum beranjak dari kursi belajarku. "Udah sarapan belom?" tanya ku sembari meraih handphone, lima pesan dari Adrian belum terbaca. [Yank, udahan ya marahnya] [Yank, Aku ga bisa jemput Kamu pagi ini, mau anter Mama ke butik dulu] [Yank, jangan lama-lama marahnya Ya] [Aku berangkat dulu, nanti malam kita ketemuan yah, Miss U] [Sayankkkk Kamu] tanpa sadar bibir ini melengkungkan senyum ketika membaca pesan terakhir. [Oke, :)] singkat padat jelas, hanya itu saja pesan terkirim belum terbaca. Tiba-tiba sebuah kepala muncul dari belakang pundakku, dan mengintip layar handphone. "Ish, biasa deh, ngintipin, ntar matanya bintitan" Attar hanya mencebikkan bibirnya dan merangkul pundakku berjalan keluar kamar. "Yuk sarapan!" ajaknya berasa dia pemilik rumah. "Attar, Ayo sarapan dulu, Mama udah buatin tumis kangkung sama ikan asam manis nih" "Mama, Ayesh ga di ajak ih, kan ayesh anak mama bukan Attar" "Kamu ga usah di tawarin juga tau-tau habis dua piring" "Ya Tuhan Mama, malu-maluin aja buka kartu anaknya" pasti saat ini pipiku sudah bersemu merah. "Sama Attar aja pake segala malu. Ayo buruan makan masih hangat, Nih Attar Mama ambilin" Mama menyendokan nasi beserta teman-temannya ke atas piring Attar. "Makasih Tante, Attar jadi enak nih kalo gini" "Huuu, bilang aja Kamu sekalian numpang sarapan" ledekku ke Attar, sedangkan yang diledek hanya cengar-cengir. "Masakan Tante emang toppp banget" Attar mengikuti gaya Bondan mencium telunjuk dan jempolnya yang dirapatkan. "Modusss" Aku memutar bola malas. Attar menjentikan jarinya ke hidungku. "Awww, sakit Attar" "Tuman, Aku emang muji masakan Tante kok" masakan Mama Putri memang sangat enak dan cocok di lidah Attar, mengobati rasa kangennya sama masakan Ibu Attar. Makanya Attar seneng banget kalo Aku bawa bekal atau mengajak Attar makan di rumah. "Udah-udah kalian ini ribut aja berdua di meja makan, cepetan abisin makannya" Attar menjulurkan lidahnya ke arahku, hanya Aku balas dengan hembusan nafas. "Ivan kemana Ma? Ga keliatan daritadi" baru kusadari ternyata dari tadi rumah sepi ga ada keberisikan suara dari Ivan adik semata wayangku. "Udah berangkat ke sekolah dari jam 6 tadi bareng Papa" "Oiya, dia kan belum libur ya, Ayesh lupa" sepertinya efek bangun siang jadi lupa segalanya, Mama hanya menggelengkan kepalanya melihat anak gadisnya mendadak pelupa. "Makanya kalau bangun jangan siang, bisa bikin cepet lupa" tuh kan Mama ceramah lagi, padahal serius loh Aku bangun siang itu bisa dihitung jari, sebulan paling empat kali lah, tiap hari minggu, hihi, kecuali Adrian ngajak jalan baru Aku bangun pagi, eh ngomong-ngomong Adrian kasian juga anak itu Aku cuekin, tak apalah sekali-kali. "Ma, Ayesh jalan dulu Ya" "Attar pamit juga ya tante, makasih Sarapannya" "Iya, hati-hati di jalan ya Tar, pelan-pelan aja bawa motornya" "Iya tante, Assalamualaikum" "Waalaikumsalam" Aku menyalami Mama bergantian dengan Attar. Attar memberikan helmnya, oh iya Attar juga sudah punya pacar namanya Anna tapi beda universitas, mereka jarang bertemu karena kesibukan pacarnya juga, katanya sih pacarnya sekarang sedang dekat dengan teman kampusnya juga, hal itu dia tahu dari temannya yang kebetulan satu kampus dengan Anna. Dia kesal dengan Anna karena sangat susah untuk di aJak bertemu, jadi hubungan mereka gantung begitu saja. Motor yang Ia bawa bukan jalan menuju kampus, Ia singgah di sebuah yayasan panti asuhan, selain kuliah Ia juga mengajar sepakbola bersama Ricko di panti asuhan ini "Mampir ke panti dulu sebentar ya, mau ketemu Ricko" "yaudah kita mampir dulu ke alfaapril beli cemilan buat anak-anak panti" Aku membeli beberapa makanan ringan untuk anak-anak panti, mereka tidak seberuntung Kami, tidak mendapatkan kaish sayang orangtua hanya mengandalkan kasih sayang orang lain, ini menjadi membuatku merasa bangga memiliki sahabat seperti Attar, jiwa sosialnya sangat tinggi. Sesampainya Kami di sana, Kami disambut denga antusias oleh ansk-anak panti. "Ka Ayesssha, Abang Attar, yeeay abang Attar bawa kaka Ayesh nih temen-temen" Dobisalah satu anak panti berlompat-lompat kesenangan dan di susul teman-temannya yang lain. " Yeyeee Kaka Ayesh" salah satu anak cewek menubruk kakiku dan memeluknya, untung saja Aku sigap hingga tidak jatuh. Indira, gadis cantik berusia empat tahun yang terpaksa dititipkan di panti karena kedua orangtua nya meninggal kecelakaan saat mereka sedang berangkat untuk berjualan di pasar, tidak ada keluarga yang mau menampung Indira karena mereka semua dalam keadaan kekurangan, jadi mereka memutuskan menaruh Indira di panti, awalnya masih ada yang menjenguk tapi sejak bulan ketiga di panti sudah tidak pernah ada lagi yang menjenguk Indira. Aku mensejajari bocah kecil ini dan memeluknya. "Indira kangen kak Ayesh" "Kakak juga kangen Indira" Aku memeluk balik bocah itu. "Abang Attar ga dikangenin nih" "Ngga ah, Abang kan sering dateng ke sini, kalo Kakak Ayesha kan jarang" ucap Indira polos menjawab pertanyaan Attar. "Abang Attarnya jarang ajak kaka Ayesh sih" lanjut bocah itu tanpa melepas pelukannya. "Hmmm, kalo gitu nanti Abang bakal sering ajak Kakak Ayesh deh" Aku beralih menatap Attar dan mengangkat bahu tanda bertanya. "Beneran bang?" tanya Indira antusias terlihat mata beningnya berseri-seri dijanjikan Attar. "...." Attar mengangguk "itu juga kalo Kakak Ayesh mau" "Kakak Ayesh mau kan sering-sering ke sini?" "Mau donkkk, masa Kakak ga mau ketemu anak cantik ini" ucapku sambil menjawil hidung mancung milik Indira. "Yeeeyeee, kakak Ayesh bakalan sering main, horeee" Ah ternyata sesimpel itu membuat mereka bahagia, tanpa sadar Aku menggenggam tangan Attar erat dan tersenyum hangat. "Ciyeee ciyeee, Abang Attar sama kaka Ayesh pacaran nihhh" refleks ku lepas pegangan tanganku, Attar hanya menggaruk lehernya sambil senyum malu-malu. ada-ada saja ulah anak-anak ini. Tentu saja bukan hanya Attar yang malu, pipiku juga sudah pasti merona merah mendengar anak-anak ini meledek kami. Aku mengangkat kepala malah kejedot dagu Attar. Haduhhh, Author kok jadi gini sih ceritanya. Mana nih Ricko ga nongol-nongol.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD