#masih POV Author
Acara Festival Musik berlangsung hari ini, seluruh panitia sibuk memeriksa satu-persatu kelengkapan acara. Acara diadakan setelah Ujian Akhir Semester, jadi tidak mengganggu kegiatan perkuliahan mahasiswa kecuali yang remedial. Dan syukurnya Ayesha bukan salah satu yang termasuk remedial mata kuliah.
"Yank, ini minum dulu" Ayesha menyerahkan Frappuchino untuk Adrian, dia mengenakan kaos panitia berwarna hitam sangat kontras dengan warna kulitnya, sebuah kacamata yang jarang Ia gunakan kali ini Ia letakan di antara matanya, Ayesha duduk di belakang panggung khusus panitia sambil sesekali memperhatikan Adrian, Gladysse pun nampak sibuk brieffing dengan band pengiring acara, baguslah seenggaknya dia tidak ada kesempatan bercentil ria pikirnya.
"Kamu kalau bosen ajak Dinda aja ke sini"
"Ga Yank, Dinda lagi sama Reza, nanti Aku jadi obat nyamuk"
"Oke, Aku tinggal-tinggal gapapa Ya!"
"....." Ayesha mengangguk, Adrian kembali sibuk dengan kegiatannya. Sebuah panggilan masuk ke handphone Ayesha, ia berjalan menjauhi belakang panggung.
"Halo Din, kenapa?"
[Lo masih sama Adrian? Ke jurusan dulu sini, ngga bete? ]
"Ngga papa, Gue di sini aja, sambil pantau nenek sihir, hihi" Nenek sihir yang Ayesha maksud adalah Gladysse.
[Oke deh, kalo bosen ke sini aja, kita ga kemana-mana]
"Okeee siap bos"
Klik, telpon dimatikan dari seberang.
Ayesha kembali ke belakang panggung, ia menyibukan diri dengan gawainya melihat drama korea. Acara Festival Band berlangsung lancar dan usai jam 8 malam, karena khawatir terlalu larut Adrian tidak bisa mengantar Ayesha pulang, Ia harus berkumpul dulu dengan panitia lainnya.
"Yank, Kamu balik duluan gapapa? Aku masih harus kumpul dulu sama panitia lainnya nih"
"Its Oke, gapapa Yank, Aku balik bareng Dinda ya, kebetulan Reza bawa mobil juga"
"Ya udah, Kamu hati-hati ya, kabarin kalau udah sampe" Adrian mengacak-acak kepala Ayesha.
"Iya, Kamu juga yah, kalo udah sampe rumah kabarin!"
Rapat kelar jam sebelas malam, Adrian bersiap-siap untuk balik ke rumah. Ia mencantolkan tasnya di punggung.
"Adrian, boleh pulang bareng? Kebetulan Gue ga ada yang jemput" karena waktu sudah larut pula tanpa basa basi Adrian menyerahkan helm satunya untuk Gladysse dia hanya berpikir kasian kalau selarut ini Gladysse balik sendirian. Gladysse langsung memakai helmnya dan mengikuti Adrian ke parkiran. Ia membonceng di belakang dan memeluk Adrian dari belakang. "Gue peluk ya, takut ketiduran di motor" ucapnya meminta izin, Adrian tidak meresponnya tapi ia biarkan Gladysse memeluknya demi keamanan juga.
Gladysse menyewa satu unit apartemen yang lumayan dekat dengan kampus. Perjalanan ke apartemen tidak memakan waktu yang lama hanya lima belas menit. Ketika Ia turun dari motor tiba-tiba Gladysse hampir terjatuh, dengan sigap Adrian menahan tubuh Gladysse.
"Lo kenapa Dyss? "
"Kepala Gue pusing banget Ian, kayanya karena tadi sore Gue telat makan, Gue ga kuat kalo harus sendirian naik ke atas deh" dengan terpaksa Adrian memapah Gladysse mengantar Gladysse ke unitnya. Sebenernya Gladysse tidak sedang berbohong tentang asam lambungnya yang naik, justru Ia senang kali ini penyakitnya bisa membuatnya mencari kesempatan agar bisa bersama dengan Adrian. Sebuah akses card lift ia serahkan ke Adrian lift itu otomatis akan membawa mereka ke unit yang Gladysse sewa. Adrian membaringkan Gladysse di kasurnya.
"Lo ada obat?"
"Coba tolong cari di kotak P3K, Gue masih simpen"
"ini minum" diminumkannya obat asam lambung ke mulut Gladysse.
"Makasih Adrian, Plis, jangan tinggalin Gue dulu sekarang" Gladysse memegang lengan Adrian menatap memelas.
"Ga baik berdua dalam kamar cewek sama cowok, coba Lo hubungin temen Lo" walau bagaimanapun Adrian tetap laki-laki normal, apalagi Gladysse termasuk kategori wanita cantik, Ia takut tidak bisa menahan nafsu.
"Udah malam Yan, mereka ga bakal bisa keluar juga sama nyokapnya" Adrian mendesah, bimbang harus bagaimana di satu sisi Ia tidak mau berduaan dengan Gladysse di sisi lain dia tidak tega meninggalkan Gladysse sendirian, Dia pernah punya pengalaman sepupunya meninggal dunia karena asam lambung nya parah akut dan ketika
sedang kambuh Ia hanya sendirian di kontrakannya.
"Bisa minta tolong ambilin piyama Gue di lemari?"
"Ga bisa ambil sendiri?" Adrian berusaha menolak, walau Ia tahu jawabannya ia tetap beranjak menuju lemari pakaian Gladysse dan mengambil asal piyama yang di maksud Gladysse. Karena memang tidak terlalu sulit mencarinya, Gladysse tipe cewek yang rapih pakaiannya di susun berdasarkan warna dan fungsinya masing-masing, khusus kuliah, main dan tidur. "Nih!" Gladysse duduk dari tidurnya dan asal saja membuka bajunya karena memang masih memakai pakaian dalam, dia juga terbiasa terbuka dengan pacarnya.
"Eits bentar Gue balik badan dulu" Adrian terlanjur melihat punggung mulus milik Gladysse.
"Gapapa kok, bisa minta tolong balurin minyak kayu putih di punggung Gue? Gue ga bisa kalo sendiri" Tuhan, cobaan apalagi ini, sepertinya Gladysse sengaja memancingnya, tapi kan memang ga mungkin balurin sendiri. Gladysse mencepol rambutnya ke atas, sehingga makin menampakan leher putihnya tanpa noda. Adrian dengan Ayesha memang berpacaran sewajarnya, paling jauh ia hanya kissing tanpa lebih jadi mendapat perlakuan seperti ini membuatnya cukup panas dingin.
"Pacar Lo kemana? Ga jemput? Nanti marah juga Dia liat Gue di sini"
"Dia lagi ada tugas kantor ke luar kota" jawab Gladysse simpel tidak mau membahas pacarnya. Adrian meng**apkan kayu putih di leher hingga turun ke punggung, dengan kuat hati Adrian menahan nafas hingga selesai. Ternyata susah juga menjatuhkan Adrian, batin Gladysse biasanya lelaki kalau sudah seperti ini akan mudah terpancing. Ditambah si perempuan juga membuka akses.
"Thanks iya, Lo bisa tidur di sofa atau di samping Gue, kasur Gue cukup besar buat Kita berdua" tawar Gladysse kepada Adrian, hal seperti ini biasa bagi Gladysse tapi tidak dengan Adrian tentu saja Adrian lebih memilih tidur di sofa, lagipula Adrian berniat meninggalkan Gladysse jika Ia telah tidur nanti.
"Oh iya, Lo ga bisa balik kalo ga bawa akses" seperti bisa membaca pikiran Adrian, Gladysse mengatakan hal demikian.
"Kayanya Lo udah lebih baik deh Dyss, Gue balik aja!" tidak sehat jika Adrian terlalu berlama-lama si apartemen Gladysse, Ia khawatir akan tergoda juga.
"Lo tega sama Gue Yan" dengan wajah dibuat semelas mungkin Gladysse mencoba merayu Adrian. "Gue beneran sakit Yan" Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Lama-lama bisa hilang kendali Gue di sini"
"Gue tuh suka sama Lo Yan, seengganya Lo kasian sama Gue kalo emang Lo ga suka sama Gue"
"Ini jadi kenapa Gue yang jadi bersalah ya" gara-gara hal ini Adrian sampai lupa mengabarkan Ayesha, tapi kalau dikabarkan pun apa Adrian harus jujur atau bohong, serba salah.
"atau Lo tAkut ketauan Ayesha? Tenang aja, Gue ga bakalan bilang sama Ayesha, tapi plis Lo temenin Gue malam ini aja Adrian" Gladysse membuat tanda sumpah dengan dua jarinya.
"Okelah kalo gitu, Gue pegang janji Lo" dasar Adrian entah terlalu polos atau memang b*ego menurut saja pada kemauan Gladysse.
"Makasih Adrian" Gladysse dengan cepat memeluk Adrian, mendapat pelukan mendadak Adrian langsung kaku. Gladysse membenamkan kepalanya di leher Adrian, sebuah gundukan padat seperti squishy dengan sengaja menyentuh d**a Adrian dan membuat gelenyar aneh di perut Adrian, oh tidak mati-matian Ia berusaha menahan hasrat jangan sampai Ia kalah.
Hembusan nafas hangat Gladysse menyentuh lehernya. Bukan melepaskan pelukan Gladysse, Adrian membalas pelukannya. Merasa mendapat respon dari Adrian, Gladysse menyunggingkan senyum. Semudah itukah Adrian, tidak menyia-nyiakan kesempatan Gladysse mempererat pelukannya. Ia menatap ke dalam manik mata hazel Adrian, tatapan mata Adrian mulai berkabut Gladysse menyadari umpannya sudah termakan dengan berani Ia menempelkan bibirnya ke bibir Adrian, awal hanya sebuah c****man biasa tapi Gladysse terus saja memancing Adrian.
Mendapat serangan seperti itu Adrian seperti singa yang kelaparan langsung membalas c****man Gladysse. Gladysse mengarahkan tangan Adrian ikut berorientasi menjelajah t*****uh Gladysse, Ia mer******as squishy itu sehingga pemiliknya mengeluarkan suara menggelaykan.
"I want you, Adrian!" bisik Gladysse pelan ditelinga Adrian, Gladysse mengendalikan permainan, baju yang mereka pakai sudah berserakan di lantai. ini bukan pertama kali bagi Gladysse dia sudah menyerahkan kepe******anannya sejak kelas 2 SMA dengan pacarnya, tapi ini pertama kali untuk Adrian.
"Ini Gil*" pikiran Adrian sudah tidak sinkron lagi dengan tindakan, Ia sudah dikuasai ingin menuntaskan has****atnya yang mati-matian Ia tahan.
"Hei babe, i think, its first time for you, i will make you fly tonight" bisik Gladysse di sela-sela pertempuran mereka. Ketika akan sampai inti permainan Adrian sadar dan menolak lebih jauh lagi.
"Sorry Dysse, ini ga bener, Gue ga bisa" mendapat penolakan Gladysse mengernyit karena dia menginginkan Adrian. "Why? " bukan Gladysse jika Ia menyerah begitu saja, sampai akhirnya Adrian menyentakan tangan Gladysse dan tersadar.
"Adrian" Gladysse langsung terhenyak dan menyelimuti tubuhnya, tapi Ia tidak peduli yang penting Adrian malam ini miliknya. Adrian menjatuhkan tubuhnya disamping Gladysse dan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Tenang Adrian, Gue akan jaga rahasia ini, Gue suka sama permainan Lo dan bersedia kapanpun kalo Lo butuh" Gladysse menjatuhkan kepalanya di d**a bidang milik Adrian. Adrian menyadari ini bukan hal pertama buat Gladysse.
"Lo ga sakit lagi? " Adrian menoleh. "Lo pasti sengaja jebak Gue"
"What? Gue tadi emang sakit, Lo juga menikmati tadi kan" Gladysse berakting terzholimi oleh Adrian, padahal memang Ia sengaja memancing Adrian.
"Ini ga bener!"
"Tapi nyatanya tadi Kita udah ngelakuin Adrian"
"Sorry Gue khilaf" Adrian segera memunguti bajunya dan mengenakannya kembali, Ia bergegas keluar dari apartemen Gladysse tapi di hadang Gladysse
"Minggir Gue mau keluar"
"Lo ga bisa gitu Adrian, pergi seenaknya" tatapan tajam dari mata coklat menusuk mata Adrian.
"Oke Gue salah udah terpancing, Gue minta maaf, sekarang plisss Gue mau balik Dyss, sekarang Lo pinjamin akses Lo supaya Gue bisa balik" Gladysse menyerahkan akses card satunya lalu membiarkan Adrian keluar dari Apartemennya, Ia menyunggingkan senyuman kembali ke tempat tidurnya, segera mengambil rekaman yang Ia siapkan ketika Adrian mengambil piyama miliknya tadi.
"Adrian, 1 langkah lagi" ucapnya sambil menatap layar handphone yang Ia pakai untuk merekam. Malam ini Adrian tidak sampai kehilangan keperjakaannya. Sudah edan malah dia yang berusaha mati-matian menolak, bukan wanita yang menolak. Untung saja Adrian masih berada dalam kewarasan.
Sementara puluhan chat sudah masuk ke handphone Adrian karena tidak ada balasan dari si pemiliknya. Sesampainya di rumah Adrian langsung mandi membersihkan keringat yang menempel di tubuhnya. Selesai mandi Ia mengambil handphonenya menghubungi Ayesha dan memikirkan alasan apa yang akan Ia gunakan untuk menjawab pertanyaan Ayesha, 'semoga saja anak-anak ga ada yang bilang ke Ayesha kalo Gue nganterin Gladysse dulu tadi, ga ada yang liat juga sih, kecuali Gladysse yang ngomong langsung'
"Halo sayang, sory baru ngabarin, baru selesai bersih-bersih nih"
'Lama banget Yank, Aku sampai ketiduran' terdengar suara serak khas orang bangun tidur dari seberang sepertinya belum ada yang bilang ke Ayesha bahwa tadi Adrian mengantar Gladysse, memang kebetulan suasana sudah sepi juga kalaupun ada yang melihat paling hanya security saja, panitia yang lain juga sudah pulang. Semoga Gladysse tidak menceritakan kejadian tadi di apartemen kepada siapa pun.