Menghapus Bukti

644 Words
"Adrian!" Adrian seketika menjadi patung saat Gladysse memanggilnya, Ia menoleh ke atas springbed ternyata Gladysse hanya mengigau, setelah memastikan Gladysse benar-benar tidur yang pertama Adrian cari adalah ponsel Ayesha. Ia mengambil ponselnya ternyata dikunci menggunakan pola. Ia mencoba beberapa pola mengikuti jejak sapuan jari Gladysse. Setelang empat kali mencoba Ia berhasil membukanya. "Yes, dapet!" Tangannya dengan lincah membuka galeri dan melihat gambar-gambar Gladysse, ternyata di sana banyak sekali foto-foto Adrian yang di ambil secara candid. Bahkan ada satu foto yang keliatan sudah lama foto masa SMA, Adrian merasa mengenal seragam yang digunakan. "Ini kan seragam SMA Angkasa, sekolah Ayesha" Adrian memperbesar gambar, Ia melihat seseorang mirip Ayesha ada dalam foto itu, Tapi mengapa hanya Ayesha, dimana Gladysse kalau memang mereka satu SMA. Ia meneliti satu persatu anak di foto itu hingga akhirnya Ia melihat ada satu anak mirip sekali dengan Gladysse tapi sangat kumal sekali hanya tahi lalat di atas pelipis mata yang menunjukan Dia orang yang sama dengan Gladysse "Gila. Sakit nih cewek" Adrian masih berpikir apa ini kebetulan atau dia punya motif lain. Ia langsung mengirim semua gambar yang ia perlukan dan menghapus historynya, sayangnya Ia tidak menemukan video yang Ia cari. Tak kehabisan akal Adrian memeriksa satu persatu lemari dan laci mencari laptop atau USB. Lagi-lagi semua dikunci. "Argghhh!" Adrian meremas-remas rambutnya frustasi, Ia duduk dengan menekukan kakinya di lantai menatap kosong tiba-tiba matanya melihat sesuatu benda yang menggantung pada sebuah kaitan khusus gantungan. Ia segera mengambilnya dan membuka lemari Gladysse. Laptop sudah ia dapatkan tinggal membukanya dengan password, untung saja Ia pernah meminjam laptopnya jadi Ia masih ingat password laptop Gladysse. Ia memeriksa semua folder dengan teliti dan memastikan tidak ada folder yang disembunyikan, untung saja Dia jago IT belajar secara otodidak. "Gotcha!" Adrian berseru ketika berhasil menemukan video yang Ia cari, Ia segera mendeletenya secara permanen. Ia masih tidak yakin Gladysse hanya menyimpan di laptopnya pasti Ia sudah menggandakannya tinggal satu yang belum Ia dapatkan USB. Mungkin di tas. Setelah merapikan laptopnya kembali seperti semula Adrian segera mencari USB di tas milik Gladysse. Ia malah menemukan pengaman pria dalam tas milik Gladysse. "Yesss, dapat!" seperti yang tadi Ia lakukan ia memeriksa USB nya benar dugaan Adrian Gladysse menduplikat datanya di USBnya juga. Tanpa pikir panjang Ia langsung menghapus video tersebut. Setelah semua beres Ia merapikan kembali semua milik Gladysse ke tempat semula. Adrian tidak yakin Gladysse tidak menyimpannya di tempat lain, tapi setidaknya Ia sudah berusaha menghapusnya. Ia memutuskan tidur di sofa milik Gladysse hingga pagi hari, Adrian lebih dulu bangun. "Dyss, bangun Aku mau pulang" Mendengar suara Adrian masih di kamarnya Gladysse tersenyum, Ia merentangkan kedua tangannya dan terus menerus menatap Adrian. "Makasih udah nemenin Aku malam ini" Adrian menarik kedua sudut bibirnya denhan terpaksa. "Tolong Kamu ikut ke lift Aku tidak mau menyimpan access card Kamu" Gladysse bangun dari duduknya berjalan mendekati Adrian yang maish menggunakan baju semalam. "Bawalah, biar Kamu bisa datang sesuka hatimu" Gladysse bergelayut manja di lengan Adrian. "Sudahlah Gladysse, cepat antarkan ke lift jangan banyak protes" Adrian mulai jengah dengan sikap Gladysse, Ia hanya tidak mau mempunyai alasan untuk bertemu Gladysse. Gladysse cemberut dan berjalan ke arah pintu padahal Ia masih mengenakan piyama yang cukup transparan. "Pakailah jaketmu dulu. Aku tidak mau orang berpikir macam-macam tentang Kita" Gladysse menoleh dan menatap tajam Adrian "Jangan berisik Adrian. Cepatlah! Aku sudah biasa seperti ini keluar kamarku" Dasar j*lang sudah berapa banyak laki-laki yang Ia jebak. Adrian berdecih mengikuti langkah Gladysse. "Oke Adrian, cukup untuk malam ini" Gladysse mencuri sebuah kecupan di pipi Adrian dan berbisik mesra. Adrian berusaha mengelak tidak senang dengan kelakuan Gladysse. "Jangan macam-macam di tempat umum. Kita sudah sepakat untuk merahasiakannya" Adrian berkata dingin, "Jangan munafik Adrian, Kau juga menikmatinya kan" senyuman sinis dari bibir Gladysse menanggapi Adrian, beruntung lift segera sampai sebelum perdebatan mereka semakin panjang b e r s a m b u n g apdet dikit-dikit di sini komennya jan lupa yaaa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD