“DIA pasti nggak sadar kan? Kenapa aku harus khawatir sih? pasti dia nggak akan peduli juga.”
Iren gelisah semenjak kejadian dia menekan tombol suka pada postingan pribadi Millo, dia terus menerus memperhatikan ponselnya kalau saja ada pesan dari Millo. Di saat Iren berusaha mengalihkan perhatiannya dari hal itu tapi tetap saja bayangan-bayangan Millo muncul di kepalanya.
“Pergi sana! Pergi! Jangan ganggu pikiranku dengan wajah itu. Aku hanya ingin wajah Luca yang muncul bukan dia!” teriaknya sambil mengibaskan tangan di hadapannya sambil uring-uringan di kasur.
Disaat tidur, saat makan, dan saat melakukan hal yang Iren suka tetap saja bayangan Millo muncul. Iren tahu kemungkinan Millo melihat pemberitahuan itu sangat tidak mungkin, tapi karena Iren mengenal Millo secara pribadi jauh sebelum Millo menjadi artis. Hal itulah yang membuat Iren khawatir karena sejak saat itu dia tidak pernah menghubungi Millo ataupun peduli dengan kehidupannya sekarang. Karena aku tidak ingin mengingatnya lagi.
Semenjak skandal Millo yang berhubungan dengan Luca membuat Iren tiba-tiba saja penasaran mengenai Millo, dia tidak sengaja menyukai postingan pribadinya karena Iren mulai mencari nama Millo di berita maupun media sosial milik Millo.
“Gimana kehidupannya sekarang?” kata itulah yang mulai membuat Iren penasaran, dia terus mencari mengenai Millo dan mulai memperhatikan kehidupan Millo dari foto masa SMA sampai sekarang. “Dia terlihat baik-baik saja, masih terlihat sama seperti dulu, kenapa dia bisa terlibat dengan wanita itu?” gumamnya yang masih hanyut dalam pencarian tentang Millo.
“Tapi memang ada yang berubah dari dia, apakah karena kejadian itu? tapi tidak mungkin dia terus menerus terjebak.” Iren mengernyitkan dahinya, “Apa yang dia sukai dari wanita ini, sangat jauh berbeda dengan seleranya dulu, kenapa seleranya menjadi seperti ini?” Selama berbicara sendiri Iren terus disibukkan dengan menggulingkan layar berita-berita tentang Millo, bahkan melihat fotonya dengan wanita yang digosipkan itu. Ralat! wanita yang mengaku pacarnya, karena dari pihak Millo belum memberikan konfirmasi.
“Sangat terlihat dari foto ini kalau wanita itu sengaja melakukannya. Dilihat dari raut wajah mereka, hanya wanita itu yang tersenyum ... ah! Smirk ternyata.” Setahu Iren, Millo bukan orang yang bisa dengan mudah menyukai orang lain, apalagi kalau perempuannya itu terlihat suka cari perhatian seperti itu. Iren sempat terhenti memperhati raut wajah wanita yang tengah tersenyum itu dan membuatnya dapat menyimpulkan kalau wanita itu sengaja.
“Sudah kuduga kalau Millo bukan orang seperti itu. Tapi kalau dipikir bisa saja kalau saat itu mereka masih pada masa PDKT atau baru saja pacaran, makanya Millo terlihat biasa saja wajahnya.” Iren masih bingung dengan pikirannya menatap kedua ekspresi mereka. “Ah aku lupa kalau Millo punya wajah tembok hahaha ....”
Iren dan Millo sudah cukup lama mengenal, mereka bersekolah di SMA yang sama dengan sahabatnya. Ketika SMA Iren sering memperhatikan Millo, dia memiliki hubungan yang istimewa dengan sahabatnya itu. Iren akan selalu berada di tengah-tengah mereka sebagai obat nyamuk—Iren harus ada disana tapi tidak pernah diperhatikan—.
Iren memperhatikan tingkah Millo yang sangat menyukai sahabatnya dan Iren tidak percaya kalau Millo memiliki hubungan dengan wanita itu. “Millo yang memiliki hati sedingin kutub utara dan wajah temboknya suka sama wanita ini? kalau benar memang seperti itu pasti Millo sudah berubah.”
“Apa jangan-jangan karena mereka putus?” Iren memutar matanya. “Bukankah kegagalan dan kekecewaan dapat mengubah seseorang? Apakah benar? Aku tidak yakin kalau manusia secepat itu bisa berubah,” sambungnya sambil menggaruk rambut atas telinganya kebingungan.
“Kamu juga kok tega banget sama Millo,” kesalnya sambil menatap pigura foto di lemari kamarnya. “Meskipun aku sahabatmu, tapi aku juga temannya Millo. Meskipun dia bicara saat perlu saja.” Iren terkekeh pada akhir perkataannya.
Sahabatnya melarang untuk berkomunikasi dengan Millo semenjak mereka putus, karena sahabatnya tidak ingin Millo mengetahui keberadaannya. Setelah lulus SMA mereka berdua berpisah secara tidak baik, sahabatnya meninggalkan Millo tanpa mengucapkan alasan mereka harus berpisah dan memilih jalan hidup yang tidak dimengerti oleh Millo.
Mungkin saja sejak saat itu Millo memilih untuk terlihat berbeda, dari pria dingin yang tidak ingin diketahui siapapun sampai menjadi Millo yang sekarang sangat menyukai perhatian dari semua orang. Bahkan sebelumnya Iren hanya melihat Millo tersenyum kepada sahabatnya, sekarang dia tersenyum kesegala penjuru dunia. Seolah haus akan perhatian Millo selalu tersenyum kepada penggemarnya dan selalu memancarkan aura dingin yang tidak bisa dilepaskan.
Sejak saat mereka putus berselang beberapa hari sahabatnya menghilang tanpa jejak, Iren kembali mengingat kenangannya bersama sahabatnya itu. Iren tidak pernah menemukan jejaknya selama beberapa tahun terakhir, dia merasa kehilangan sahabat satu-satunya. Mungkin saja karena itu semua keadaan berubah, keceriaan yang dibawa oleh sahabatnya itu kepada Iren dan Millo tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sampai saat ini kenangan itu seolah menjadi cerita yang membuat Iren dan Millo juga menjauh satu sama lain.
“Tok … tok … tok …” Dari luar suara pintu menyadarkan lamunan Iren. Dia berjalan ke arah pintu dan terkejut dengan sesuatu yang masuk dengan cepat ke rumahnya tanpa meminta izin dengan pemilik rumahnya.
“Aku bawa banyak makanan” ucap Sela dengan mata bulan sabitnya sambil tersenyum.
Iren ikut tersenyum melihat teman yang selalu ada untuknya saat ini, Iren berteman dengan Sela sejak masuk kuliah hingga saat ini.
“Sela Gemilang!, kamu jangan bawa banyak makanan dong, nanti aku gendut. Udah dua hari kamu nggak kesini tumben.” Iren berjalan menghampiri Sela
“Kan, kamu makan juga apa yang aku bawa,” sambil menyipitkan matanya melihat Iren yang mengambil makanan yang Sela bawa, “Aku juga cari kerja, gimana udah diterima jadi stylists?”
“Aku belum cerita ya, aku dapat kejadian yang memalukan hari ini.”
“Emang kenapa?” tanyanya dengan mengerutkan dahinya. “Tapi pertanyaanku belum dijawab loh. Kebiasaan suka random kesana kemari bicaranya,” sambil terkekeh membuka botol jus yang dibawanya dan meminumnya.
“Aku menyukai postingan Millo.”
“Apa!? kamu mengkhianati Luca? kok bisa kamu berpaling dari Luca yang sempurna itu. Kayaknya pertemanan kita juga akan berakhir kalo kamu mulai berpaling.” Tanpa merasa bersalah menyemburkan minumannya dia mengancam Iren yang juga suka dengan idola yang sama dengannya.
“Enggak! dengerin aku dulu. Aku itu nggak sengaja, karena kasus kemarin yang melibatkan Luca.”
“Terus apa yang kamu khawatirkan?”
“Aku kan temenan sama Millo waktu SMA, dia lihat nggak ya pemberitahuan itu?” jelasnya singkat sambil menyatukan kedua telunjuknya.
“Dia nggak bakal lihat. Dulu kamu memang temenan kan, sekarang itu kamu cuma remahan rengginang bagi Millo,” sahutnya dengan tenang.
“Apaan sih nggak bantu banget!” Wajahnya memerah menahan amarahnya karena tidak terima dirinya dihina, karena baginya dia itu masih terlihat cantik dan mungkin saja termasuk pantaslah kalau dibandingkan dengan wanita itu. Kok aku jadi membandingkan dengan wanita itu sih? Wah seperti aku kekurangan asupan Luca, pantes aja pikiranku jadi aneh, pikir Iren sambil mengangguk kecil dan membuka ponselnya untuk asupan pikirannya.
“Yaudah kalo nggak percaya.” Sela mengambil makanannya dan menyalakan televisi seolah dia pemilik rumah itu, kemudian menatap Iren yang terlihat mengangguk kecil sendiri dan terkekeh melihat tingkah Iren yang suka tidak sadar atau tidak mengakui kalau dia terlihat menggemaskan seperti itu. Karena bagi Iren, orang yang menggemaskan itu hanya untuk orang polos, sedangkan dia menganggap dirinya tidak polos lagi karena suka melihat roti sobek, bukan memakannya.
Iren dengan wajah yang muram, hanya bisa menyadarkan dirinya kalau mungkin saja yang dibilang Sela benar adanya, karena setelah menelusuri kehidupan Millo sekarang mungkin saja dia tidak seperti Millo yang Iren kenal. Aku harap begitu, dengan itulah dia bisa menghilang begitu saja dari kehidupanku dan ingatanku saat itu.