KEJADIAN yang membuat Iren menjadi tidak tenang lama-kelamaan terlupakan dalam pikirannya. “Mari lupakan semua itu dan kembali seperti semula.”
“Sepertinya ini bagus, tapi masih ada yang kurang.” Iren memandangi poster Luca. Setelah beberapa hari belum ada panggilan dari lamaran kerja yang dia serahkan, Iren hanya berdiam diri di dalam rumah studio miliknya yang tidak terlalu besar, meskipun mungil rumah studio milik Iren terasa nyaman dan tidak monoton dengan tema bohemian nan colorful.
Iren berusaha menyibukkan dirinya dengan mengasah kemampuannya, dia terus berlatih dan poster Luca sebagai model yang membantu latihannya sebagai stylists. Selama beberapa jam Iren sangat berkonsentrasi dalam melakukan perkerjaan yang dia sukai sampai melupakan kejadian yang membuatnya gelisah.
Di rumah studio yang sangat tenang tanpa gangguan dari siapapun membantu Iren untuk fokus dengan pekerjaannya, dia memutuskan untuk memiliki tempat sendiri karena dia ingin mendapatkan ketenangan.
“Sepertinya hari ini luca cocok dengan gaya hip hop shirts dan celananya pakai jeans hitam supaya vibes yang dikeluarkan Luca lebih kerasa asik dan keren,” sambil menempelkan baju yang sudah Iren cetak dan dia tempelkan di bukunya agar suatu saat bisa dia pakai sebagai referensi.
“Sepertinya Oversized Cuban Shirt juga cocok buat Luca yang ingin tampil kasual dan semi formal. Wajah Luca akan terlihat lebih kecil dan aura yang tenang membuat Luca terlihat dewasa,” sambil menempelkan baju yang Iren sukai. “Kerahnya terbuka dan punya potongan lengan yang pendek membuat otot depan dan lengannya terlihat.” Wajah Iren tersipu malu.
Buku kecil yang Iren miliki dia gunakan sebagai tempat melatih kemampuannya dan berharap suatu saat dapat dia gunakan sebagai referensi. Di dalam buku itu banyak gaya busana yang sangat trendi dan akan sangat cocok apabila suatu saat gaya busana seperti itu dikenakan oleh Luca. Iren mulai menyukai fashion sejak berada di bangku SMA, dia sangat pandai dalam hal busana dan sampai sekarang pun Iren sangat menyukai pekerjaannya ini.
Alasan terbesarnya untuk menjadi stylists artis adalah karena Luca, dia mulai menyukai Luca semenjak berada di bangku kuliah. Impiannya untuk menjadi penata gaya Luca seorang artis yang sangat berbakat, dia mengagumi Luca karena sangat berbakat di semua bidang, mulai dari bernyanyi sampai bermain film.
“Ya ampun Luca kau tidak pernah lepas pada pandanganku, kenapa kau begitu tampan hm?” tanyanya pada poster Luca yang sedan menyanyi di atas panggung.
Semenjak itu dia mulai menjadi penggemar garis keras, Iren mulai mengumpulkan album Luca dari semenjak Luca debut sampai sekarang, bahkan poster Luca memenuhi kamar Iren, dia memiliki lemari khusus untuk pernak-pernik yang berhubungan dengan luca, mulai dari photocard, sticker, postcard, lightstick, boneka, photobooks dan barang-barang yang berhubungan dengan Luca. Bahkan Iren juga sering mengikuti fansign saat Luca sedang melakukan promosi terbaru, baik saat peluncuran film maupaun saat peluncuran album baru.
Hari-hari Iren hanya disibukkan dengan hal-hal yang berbau Luca, dia sangat jatuh cinta dengannya. Setiap hari dia selalu membuka akun media sosialnya untuk melihat penampilan Luca dan aktifitas apa yang sedang dia lakukan melalui media sosial pribadi Luca. Hari ini seperti biasa Iren akan membuka media sosial untuk melihat aktifitas Luca.
‘Tok ... tok ... tok ....’
“Siapa itu? sepertinya aku tidak menunggu seseorang datang.” Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit untuk memastikan orang yang ada diluar.
“Permisi mbak apakah benar anda memesan pizza?” tanya pengirim makanan itu dengan senyum manisnya.
Iren hampir tertegun melihat senyum orang itu. Siapa juga yang tidak akan terpana dengan wajah manis itu. “Maaf saya tidak memesan apapun,” jelas Iren. meskipun didalam hatinya dia merasa tidak tega melihat orang di depannya ini dan sedikit ngiler melihat kotak pizza itu disodorkan di depannya.
“Apakah benar nama anda Miko?” tanya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kukira pemesannya laki-laki,” gumamnya pelan meskipun terdengar sedikit oleh Iren.
“Bukan, saya rasa anda salah alamat. Mungkin saja rumah yang lain yang mungkin dekat di sini.” Orang itu mengabaikan pembicaraan Iren dan hanya fokus pada ponselnya. “Ehm!” batuk kecil Iren agar orang itu mendengarkannya.
“Hah?” cengo orang itu. “Tapi alamat yan-“
“Hei kau kurir pizza!” panggil seseorang dari kejauhan membuat kurir itu memotong perkataannya untuk melihatnya dan Iren pun ikut menengok sambil memunculkan wajahnya depan pintu.
“Iya ada apa? anda memanggil saya?”
“Iya saya menu—” sambil berjalan mendekati kurir itu, “ASTAGA SETAN!!” teriaknya terkejut melihat kepala Iren keluar dengan rambut terurainya menatap orang yang memanggil kurir itu dengan tubuhnya yang hampir terloncat.
Kurir itu mencoba menahan tawanya. “Anda memanggil saya?”
“Iya saya menunggu pesanan pizza saya yang belum datang, siapa tahu kau tahu temanmu yang mungkin saja mengirimkan pesananku.”
Kurir itu menaikkan satu alisnya. “Apakah anda Miko Nurud?” tanyanya.
“Iya itu nama saya. Apakah ini pesanan saya?” sambil menunjuk box pizza itu.
“Iya ini pesanan anda,” ujar Kurir sambil menyerahkan pizza itu dengan dibalas uang dari Miko.
Iren menarik ludahnya kasar saat melihat laki-laki yang mengaku Miko itu mengambil pizza itu. Dia menginginkan pizza itu sekarang, seandainya tidak ada yang mengaku mungkin dia akan membeli pizza tersebut.
“Terima kasih,” ucapnya berbalik dan melihat Iren yang tidak lepas tatapannya melihat pizza yang sedang dipegangnya. “Kau mau?” tanya orang yang mengaku Miko itu.
Iren mengangguk tanpa sadar.
“Beli sendiri dong.” Miko langsung pergi tanpa dosa membuat mulut Iren tidak bisa diam mengabsen nama hewan untuknya dan menutup pintu dengan kasar.
Sedangkan kurir yang masih di depan rumahnya langsung terkejut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Setelah selesai dengan drama orang salah kirim itu, dia berjalan mengambil ponsel dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
“Hari ini Luca mengunggah foto apa ya?” Iren mengoyangkan kakinya sambil menggulir layar ponselnya. “Oh my god, hari ini wajahnya tidak mengecewakan, walau tanpa make up Luca tetap bersinar mengalahkan bintang di langit.”
Mata Iren melebar, tangannya bergerak cepat menutupi mulutnya. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tanpa banyak bicara Iren segera menghubungi Sela. “Sel, kamu udah liat media sosialnya Luca nggak?”
‘Iyaa halo.’ Sela berbisik, ‘Aku lagi kerja, belum sempat lihat, emang apaan?’
“Sumpah ini heboh banget sih.”
‘Apaan cepet nanti aku ditegur bos?!’
“Jadi gini …” Dia menggantungkan pembicaraannya untuk menggoda temannya ini.
‘Iya pak, saya kesana!’ putus Sela menyahut seseorang dibalik telpon. ‘Apaan cepet aku udah dipanggil? ini kerja part time pertama aku,’ geram Sela karena tidak sabar mendengar pembicaraan Iren.
“Luca ngadain konser!” tegas Iren sambil terkikik kecil merasa senang sendiri.
‘Apa?!’ Sela berteriak membuat seisi ruangan disana terkejut, dengan segera dia menutup mulutnya dan menunduk meminta maaf. ‘Beneran? Kapan? pesenin tiket aku ya, aku tutup dulu, udah diliatin, bye.’
“E …” Belum sempat Iren membalas, panggilannya diputus Sela. “Ternyata cuma aku yang tidak sibuk,” gumam Iren.
Setelah menghubungi Sela dia kembali melihat media sosial Luca, mencari tahu tentang penjualan tiket dengan sangat semangat. “Tiketnya terbatas nih, sebentar lagi dibuka, aku harus siap-siap.” Iren menyalakan laptopnya dan bersiap untuk membeli tiker konser Luca. Jari-jarinya Iren gerakkan, pergelangan tangannya dia putar dan siap untuk membeli tiket terbatas. Pembelian tiket yang sebentar lagi dibuka, “3 … 2 … 1 … enter.” Iren terus menatap layar laptop. “Yes!!” dia berteriak bahagia.
Disaat Iren sedang berbahagia dengan semuanya, tiba-tiba ada pesan misterius masuk. Iren melihat layar ponselnya dengan wajah bingung, matanya menyipit untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar.
“Millo?”