SUARA lantunan musik memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar, cahaya yang menyorot panggung dengan tatanan sederhana, membuat laki-laki yang sedari tadi namanya terus menjadi sorakan para penonton begitu bersinar di atas panggung.
“Luca! Ayang aku ganteng banget,” histeris hampir pingsan.
“Luca kamu mengalihkan dunia ku,” dengan gaya dramatis.
“Aakh suamiku aku tunggu di rumah.”
“Luca Luca Luca I love you.”
Sorakan dari penonton di dalam ruangan itu membuat suasana menjadi meriah, begitu juga dengan Iren yang hanyut dalam kemeriahan konser Luca ‘The Beginning’. Iren tak kalah heboh dengan yang lain, dia terus menggerakkan badannya mengikuti irama musik.
“Sel, hebat kan aku, kalo nggak ada aku kita nggak bisa nonton konser Luca.” Iren dengan suara nyaring mendekatkan mulutnya ke telinga Sela.
“Iya Ren, kok bisa.” Suara Sela yang tak kalah nyaringnya.
“Siapa dulu, Iren Nasya Biratha,” sombongnya sambil memukul d**a.
Iren terus menatap ke arah Luca, entah kenapa walau sering melihat Luca di layar ponselnya tetap saja tidak membuat Iren jenuh. Wajah tampan Luca membuat Iren jatuh cinta, bahkan dia memilih untuk tidak menyukai orang lain saat ini.
“Ah indahnya ciptaan tuhan.”
Mereka berdua menikmati konser seperti tidak memiliki beban dalam hidup, seolah melupakan semua masalah untuk sesaat, mereka hanyut dalam suasana yang membuat mereka sangat bahagia. Sampai konser berakhir mereka tidak meninggalkan satu penyesalan pun.
“Konser Luca emang nggak mengecewakan, kan?” tegur Iren.
“Ya jelas dong, suami aku emang paling keren,” sahut Sela tak kalah heboh.
“Dingg …” suara pesan dari ponsel Iren memotong pembicaraan mereka.
‘Lagi?’ pikir Iren. Dia melihat pemberitahuan pesan masuk. Nama Millo dengan jelas terlihat di layar ponselnya, sudah kelima kalinya dia mengirim pesan itu sejak pagi tadi hingga sekarang menunjukkan pukul enam sore.
“Siapa sih yang meretas ponsel Millo? bikin takut aja,” gumam Iren.
“Hah! kenapa Ren?” sahut Sela yang merasakan kegelisahan Iren.
“Aku belum cerita ya sama kamu?” tanya Iren sambil sesekali melihat ponselnya itu.
“Cerita apaan?”
“Tadi pagi, aku dapat pesan dari Millo di akun media sosial punyaku. Aku bingung kenapa tiba-tiba dia mengirim pesan, tapi kalau dipikir aku yakin sih pasti ada yang meretas akun Millo. Masa iya dia tiba-tiba ngirim pesan sama aku.”
“Tunggu, tunggu, Millo? Maksud kamu bukan Millo yang kita tahu kan? Pasti Millo orang lain, kan?” tanya Sela memastikan, Karena setahu dia orang bernama Millo itu adalah penyanyi di bawah naungan agensi yang sama dengan Luca.
Iren menarik ludanya dengan kasar, mengatupkan bibirnya sambil berusaha tersenyum dengan wajah memelas, Iren menarik nafas. “Aku juga nggak mau percaya, tapi dari pagi sampai sekarang dia terus ngirim pesan.”
“Kayaknya bukan deh, akunnya emang centang biru?”
Iren hanya mengangguk, sambil berharap kalau yang dipikirkan Sela itu benar.
“Beneran? Liat dong.” Sela merampas ponsel Iren.
Matanya terbelalak, kemudian mengernyitkan alisnya. “Ini beneran Ren?” Merasa masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Sela membuka pesan itu dan membaca isi pesannya masih dengan wajah bingungnya. ‘Ada hubungan apa Iren dengannya sampai sepanjang ini chat mereka berdua? Mungkin benar akunnya diretas,’ pikir Sela.
Iren mendekatkan kepalanya melihat yang dilakukan Sela. “Kamu buka pesannya?”
“Iya.”
“Hah! kenapa dibuka? Seharusnya jangan!” Iren langsung mengambil ponselnya, dia menghela nafasnya kasar dengan apa yang dilakukan Sela dan kemudian menatapnya tajam.
Merasa aneh dengan tetapan Iren, “Emang kenapa?”
“Aku takut kalo ini beneran Millo, makanya tidak kau buka. Kalau dibuka kan pasti tidak enak kalau nggak dibalas,” jelas Iren tanpa melepaskan tatapan ke ponselnya. “Kamu sih main buka aja.”
“Masa itu aja jadi masalah sih. Kalau mau dibalas, balas saja pesannya.” Sela merasa kalau tingkah Iren berlebihan.
“Tapi, apa yang harus kubalas ya?”
“Ya, bales aja Irenku sayang ...” geramnya.
“Gila kali, nggak ah. Kalau dia ngajak ketemu nanti ngomong apa?”
“Ya ketemu aja, kamu kan nggak ada hubungan apa-apa juga sama dia, beruntung lagi kamu di chat sama Millo. Kapan lagi ada artis yang ngirim pesan sama orang yang nggak dikenal, dan isinya cuma mau ngajak ketemu sama minta nomor pribadi kamu. Kalau dia mulai mengirim pesan aneh baru kamu nggak perlu lagi balas pesannya.”
“Iya, sih …” Iren memandang Sela dengan memelas, ‘Sebenarnya ada yang kamu nggak tau Sel. Aku pernah kenal sama Millo, bahkan saat itu aku menyukai Millo, dia cinta pertamaku,’ batin Iren
“Nah kan, balas aja.” Sela menepuk bahu Iren memberi semangat sambil menatap ponsel menunggu pergerakan Iren membalasnya. “Kenapa tidak diketik?”
“Nanti aja deh, kita beli minum aja, aku haus banget habis teriak dari tadi,” sambil memegang lehernya dan menampilkan wajah lelahnya menatap Sela agar mengikuti ajakannya. Karena dia tahu sangat sulit mengajak Sela untuk nongkrong di luaran selain ke konser atau di rumah salah satunya. Sela itu super sibuk, sebab itulah banyak alasannya untuk menolak.
“Sorry Ren, aku ada yang dikerjain. Besok harus sudah selesai,” dengan wajah tidak enaknya sambil menggaruk leher belakangnya. ‘Tuh. Kan,’ batin Iren.
“Kok gitu sih, aku kan udah beliin kamu tiket. Masa kamu langsung pergi gitu aja,” keluh Iren dengan melengkungkan bibirnya ke bawah dan kemudian menampilkan puppy eyes andalannya agar temannya terbujuk.
“Hehe … maaf banget ya Ren, nanti akan aku balas semuanya. Makasih banyak yah, aku pergi dulu, nanti aku kerumah kamu. Bye,” sambil pergi menjauh dan melambai ke arah Iren yang tertinggal sendiri.
Iren yang ditinggal sendiri kembali menatap layar ponselnya, dia masih berpikir kalau saat ini akun Millo sedang diretas. Karena tidak mungkin Millo tiba-tiba mengirimkan pesan untuknya, ada kepentingan apa juga? ‘Kalau Millo berarti aku diteror akun Millo dong?’ pikir Iren sambil merasa merinding
Berusaha mengalihkan pikirannya Iren pergi ke kafe sendiri untuk menenangkan diri dan membasahi dahaganya. Dia memaksakan senyumnya saat masuk ke kafe yang tak jauh dari tempat konser Luca. Iren mengantri sambil melihat minuman yang tertera di atas tempat pelayanan. Iren terus memikirkan apa yang ingin dia pesan, walau beberapa kali ponselnya berdering karena pesan masuk.
Ponselnya terus berdering sampai membuat Iren tidak bisa lagi menahannya, dia membuka pesan masuk yang semuanya dari Millo.
“Siapa sih yang ngeretas, apa aku balas aja ya, supaya dia tau kalo aku itu risih dan tidak gampang ditipu,” guman Iren yang terus membaca semua pesan masuk dari Millo. “Dia mau minta nomor telpon ku? Buat apa? Kayaknya nggak ada yang perlu dibahas deh. Masa cuma karena like yang nggak sengaja ketekan itu dia menghubungi ku beberapa kali.” Iren terus mencurigai setiap pesan yang diberikan Millo. “Apa aku ikuti alur mainnya?”
Wajah Licik Iren terlihat, dia mendekatkan ponselnya dan mulai mengetikan sesuatu. “Emang kamu mau apa dengan nomor telponku.”
Iren membalas pesan itu dan tak lama kemudian Millo membalas, ‘Ada yang ingin kubicarakan.’
“Kalau begitu tunjukkan siapa dirimu, jangan berlindung di balik akun orang lain, kamu pikir aku akan tertipu.”
Tak lama kemudian Millo membalas dengan mengirimkan nomor telponnya ‘Kalau kamu tak percaya, coba hubungi aku.’
Iren diam membeku, untuk beberapa saat keyakinannya kalau akun tersebut diretas sirna begitu saja. Dia tidak percaya kalau orang itu mengirimkan nomor telponnya tanpa banyak basa basi. Iren hanya memandang tanpa membalas pesan itu. Tapi di dalam hatinya dia ingin menghubungi nomor itu walau hanya untuk meyakini dirinya kalau itu bukan Millo.
“Apa aku harus mencobanya?” ‘Tapi aku harap itu bukanlah dirinya.’