Bab 28

1515 Words

Kabut tipis menyelimuti halaman vila yang terletak di lereng Puncak Bogor. Udara malam yang sejuk membelai dedaunan, dan aroma tanah basah setelah hujan menambah syahdu suasana. Vila itu tenang, hanya diterangi lampu temaram dari balkon lantai dua. Kenanga menyandarkan kepalanya di bahu Revan. Keduanya duduk berdampingan di kursi rotan, menikmati secangkir teh hangat yang mengepul pelan. Tak ada suara selain gemerisik angin dan detak jantung mereka yang saling menyatu. Setelah menjenguk Yusuf di pondok pesantren siang tadi, Revan memutuskan membawa istrinya ke vila ini. Bukan tanpa alasan—ia ingin memberi waktu untuk mereka berdua, waktu yang selama ini sering dicuri oleh kesibukan dan tanggung jawab. “Udara di sini selalu bikin tenang, ya…” Kenanga berbisik, jemarinya memainkan lengan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD