Bab 15

1462 Words

Revan melangkah pelan ke ruang tamu, matanya tajam, wajahnya tanpa ekspresi. Sepatu kulitnya berhenti di atas karpet lembut, tepat di depan sofa tempat Kenanga duduk dengan laptop terbuka di pangkuan. Suasana di antara mereka terasa tegang, seperti awan mendung yang menahan petir. Kenanga menutup laptopnya perlahan, menatap suaminya dengan tatapan kesal. "Mas Revan, kenapa Mas terlalu ikut campur dalam perusahaan saya?" tanyanya, berusaha tetap tenang, meski nadanya bergetar. Revan menghela napas, lalu menjawab singkat, "Karena aku tidak suka Kevin." Kenanga mendengus, matanya menyipit. "Itu bukan alasan, Mas. Kevin adalah mitra kerja kami. Dia punya strategi yang bagus untuk ekspansi tahun depan. Dan yang terpenting—ini perusahaan saya, Mas. Mas Revan tidak berhak mengatur-atur apa y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD