Suara hentakan tumit sepatu high heels memantul keras di lantai marmer lorong lantai delapan. Kenanga berlari sekuat mungkin, dadanya sesak, matanya panas. Ia tak peduli lagi siapa yang melihat, tak peduli lagi siapa yang memanggil. Di balik kaca matanya yang berkabut oleh air mata, bayangan Dara menyentuh Revan tadi masih berputar ulang—terlalu jelas, terlalu dekat, terlalu menyakitkan. Tangannya bergetar saat membuka pintu mobilnya sendiri. Ia masuk, menutup pintu keras, lalu menggenggam kemudi erat. Napasnya memburu. Tapi sebelum sempat menyalakan mesin, Revan muncul dari pintu lobi, berlari menyusulnya. “Kenanga! Tunggu, Sayang!” teriak Revan, suaranya parau. Revan sampai di sisi mobil dan langsung menggedor kaca jendela. “Kenanga! Buka dulu... Sayang, dengarkan aku... tolong.” T

