Kenanga merebahkan tubuhnya kembali ke kasur, merasakan kelembutan sprei menyentuh kulitnya. Revan naik ke atas ranjang, menopang tubuhnya dengan satu tangan, matanya menatap dalam mata Kenanga. Senyum tipis terukir di bibir Revan, sebuah janji akan kenikmatan yang akan datang. "Minggu ini terasa begitu panjang tanpa sentuhanmu, sayang," bisik Revan, suaranya serak. Ia mendekatkan wajahnya, memberikan ciuman mendalam di kening Kenanga, lama, penuh kerinduan. Ciuman itu berpindah ke kelopak mata, lalu ke pipi, menyesap setiap inci kulit wajah Kenanga. Kenanga memejamkan mata, napasnya mulai memberat. "Aku merindukanmu, Revan... setiap sentuhanmu, setiap embusan napasmu." Revan tersenyum. Ciumannya turun, membelai garis rahang Kenanga, lalu menelusuri leher jenjangnya. Kenanga mendesah pe

