Jarum jam tepat menunjuk angka dua belas. Rumah besar itu tenggelam dalam keheningan malam. Hanya suara detak jam dinding dan hembusan lembut AC yang terdengar samar. Di luar, gerimis baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang menyusup melalui celah-celah jendela kamar. Revan membuka pintu pelan, membiarkan cahaya lampu tidur yang temaram menyambut langkah lelahnya. Ia menatap sekeliling kamar, dadanya terasa sesak. Seharian penuh ia habiskan di kantor, rapat yang tak ada habisnya, laporan, dan jadwal pertemuan investor yang memaksa waktunya habis di luar rumah. Lagi. Pandangan matanya jatuh pada box kecil di sudut kamar. Alfarez, putra kecilnya, tertidur lelap dengan tangan mungil yang sesekali bergerak refleks. Wajah polos itu seperti dunia kecil yang dulu sangat ia impikan.

