Di rumah, Kenanga mulai merasakan perubahan kecil yang tak ia bisa sebut sebagai masalah. Tapi cukup untuk membuat dadanya kadang terasa sesak. Revan tidak pulang selambat itu. Tapi tidak juga secepat dulu. Biasanya jam enam sore, Revan sudah tiba di rumah dan mencium pipi Alfarez yang tertidur di pelukannya. Kini, jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat lima belas menit. Alfarez sudah tidur, dan meja makan sudah tiga kali dipanaskan. “Mas Revan belum pulang, Bu?” tanya Sus Mira sambil menggendong Alfarez. Kenanga tersenyum. “Masih di kantor, Mira. Biasanya kalau sibuk, suka ketunda.” Tapi dalam hatinya, ada gelisah yang tak bisa ia tolak. Ia tahu Revan. Ia tahu pola dan ritmenya. Dan perubahan kecil seperti ini—walau tak langsung berarti apa-apa—tetap membuat hatinya berdebar aneh. I

