Kenanga berdiri di depan cermin panjang kamar mereka, mengenakan kemeja putih gading yang bersih, dipadukan dengan rok pensil hitam yang elegan. Wajahnya tampak segar, tak ada gurat cemas atau tanda curiga. Senyum yang sama… mata yang sama… tapi tak lagi seratus persen bisa Revan percayai. Revan bersandar di kusen pintu, menatap istrinya dalam diam. Ia sudah memantapkan hati sejak subuh tadi. Semua akun sosial media, w******p, email… telah ia sadap. Tidak untuk membalas. Bukan untuk membuktikan. Tapi hanya ingin tahu: seberapa jauh kebohongan itu sudah berjalan? “Aku antar, ya?” ujar Revan tiba-tiba, suaranya hangat, nyaris tanpa nada berbeda. Kenanga menoleh sambil menyisir rambutnya. “Hah? Enggak usah, Mas. Kan hari Senin, kamu pasti sibuk.” Revan menggeleng pelan. “Nggak apa-apa. Se

