25

1583 Words

Pagi itu, aroma nasi liwet yang wangi menguar ke seluruh penjuru rumah. Daun kemangi, suwiran ayam goreng renyah, dan sambal terasi yang baru diulek membuat dapur terasa hangat bukan hanya karena uap masakan, tapi juga karena hati Kenanga yang sedang penuh semangat. Di meja makan, Revan duduk dengan mengenakan kaus rumah dan celana santai. Wajahnya masih sedikit lesu, tapi matanya tak lepas dari sosok Kenanga yang sibuk menata piring dan menyendok nasi ke piringnya. “Nasi liwet dan ayam goreng. Spesial buat Mas Revan,” ucap Kenanga ceria sambil duduk di sebelah suaminya. Revan tersenyum, mengangguk pelan. “Kamu nggak makan, Sayang?” Kenanga menggeleng manja. “Kenanga pengen lihat Mas Revan makan dulu. Kenanga suapin ya…” ucapnya sambil mengambil satu sendok penuh nasi dan lauk. Revan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD