Suara langkah kaki tergesa menggema di lorong rumah sakit. Revan tiba dengan wajah tegang dan pandangan tajam. Namun saat memasuki ruang VIP tempat Kenanga dirawat, ekspresi itu berubah… menjadi datar. Dingin. Seolah seluruh badai emosinya telah ia pendam dalam diam. Kenanga sudah terbaring di tempat tidur, mengenakan selimut tebal, rambutnya tergerai rapi meski masih tampak lelah. Di sisi lain ruangan, Pak Hendra duduk di sofa, menatap keduanya bergantian dengan raut heran. “Ini kenapa sih… kalian berdua kok malah diam-diaman?” tanya Pak Hendra langsung, memecah keheningan. Revan menoleh sekilas, lalu menatap istrinya. Kenanga pun hanya memandangi dinding, tak menjawab apa-apa. Pak Hendra semakin gelisah. “Papa tanya, Revan. Kenapa Kenanga bisa pingsan di jalan? Kenapa dia ada sendiri

